
"Permaisuri dari mana kamu mendapatkan cincin itu?"
glek
Permaisuri Shopia kalang kabut, ia tidak mungkin mengatakan jika cincinnya dari laki-laki misterius itu. "Em, aku-aku hanya menemukannya saja."
Pangeran Hilton melirik kanan kiri, lalu mengangguk. Mungkin Kaisar Xavier datang ke sini dan tanpa sengaja menjatuhkan cincin itu atau ada yang mirip dengan cincin dari Kekaisaran Matahari. Untuk lebih jelasnya, ia akan menanyakannya sendiri setelah bebas dari tahanan.
"Baiklah, sekarang istirahatlah. Tidak baik untuk kesehatan Permaisuri."
"Baiklah, aku akan berusaha untuk membujuk, Baginda."
Pangeran Hilton mengangguk, kemudian kembali duduk di lantai dengan menyandarkan punggungnya ke dinding. "Hah, sampai kapan kebenciannya akan berakhir?" Tanya Pangeran Hilton. Jujur, ia sangat merindukan kasih sayang. Sejak dulu, ia ingin mendapat pengakuan dari Kaisar Raymond.
Sedangkan di sisi lain.
Permaisuri Shopia membuka jubahnya, ia harus bagaimana agar Kaisar Raymond mau membebaskan Pangeran Hilton. Tidak ada cara lain, selain membujuk Kaisar Raymond. Besok pagi, ia akan menemui Kaisar Raymond.
"Permaisuri." Pelayan Elma membuka pintu kamarnya. Kemudian dari belakangnya, terlihat seorang lakih-laki.
__ADS_1
"Baginda." Permaisuri diam.
Kaisar Raymond langsung memeluk Permaisuri Shopia yang mematung itu. Mendekapnya dengan sangat erat. Ia sangat merindukan Permaisurinya itu. Sekian lama ia bergelut dengan. pikiran dan matanya yang sangat sulit untuk di pejamkan.
"Baginda."
"Tetaplah seperti ini." Lirih Kaisar Raymond.
Permaisuri Shopia diam, hingga beberapa saat terdengar dengkuran halus dari Kaisar Raymond.
"Baginda tidur," ujarnya dengan memicingkan matanya dengan sedikit kesal.
Permaisuri Shopia perlahan memeluk Kaisar Raymond, membawanya ke ranjangnya. "Uh, sakit sekali bahu ku." Kesalnya seraya menepuk bahu kanannya. Hampir lama Kaisar Raymond memeluknya sangat erat.
Helaan nafas di hidungnya pun terasa. Ia mengangkat kedua kaki Kaisar Raymond ke ranjangnya. Lalu membuka sandalnya, menyelimutinya sampai ke dadanya. Sedangkan dirinya yang merasa mengantuk pun langsung memutari ranjangnya dan menaikinya secara hati-hati. Lalu menyusul mimpi Kaisar Raymond dalam posisi memiringkan tubuhnya.
Sedangkan Kaisar Raymond, diam-diam membuka matanya dengan senyum yang mengembang. Ia pun memutar tubuhnya dan menggeser, memeluk Permaisuri Shopia.
Permaisuri Shopia kembali membuka matanya, menatap Kaisar Raymond yang memeluknya dari arah belakang. "Ah, sudahlah. Baginda mungkin terlalu lelah." Lirihnya kemudian menutup matanya.
__ADS_1
Keesokan harinya.
Permaisuri Shopia terbangun dalam posisi memeluk Kaisar Raymond yang menyeludupkan kepalanya ke dadanya. "Apa semalaman kita seperti ini?" Permaisuri Shopia tersenyum, tapi entah kenapa senyuman dan hatinya tidak sehangat seperti dulu. Ia merasa biasa saja tanpa ada rasa senang. Dengan hati-hati Permaisuri Shopia beringsut duduk. Namun ekor matanya melihat setangkai bunga mawar merah di atas nakas. Ia pun mengambil bunga mawar itu. Kemudian menciumnya, aroma segar yang menenangkan hatinya. "Ini bunga siapa? Apa mungkin Elma yang membawakannya? Tapi kenapa hanya satu?" Permaisuri Shopia melirik kembali ke atas nakas. Kemudian melihat secarik kertas.
"Selamat pagi Permaisuri ku, bunga ini untuk mu. Dari pengagum rahasia mu, Xavie."
Permaisuri Shopia terkekeh, tidak buruk. Mood paginya langsung membaik. "Siapa dia? Kenapa dia bisa selalu menyelinap masuk ke dalam kamar ku?" Permaisuri Shopia menggelengkan kepalanya. Ia menaruh kembali bunga mawar dan surat itu di lacinya.
Emmm
Seperti biasa Permaisuri Shopia mengangkat tangannya, mengelus kepala Kaisar Raymond agar kembali tidur nyenyak. Hatinya menghangat, tapi tidak sehangat dulu. Otaknya kembali mengingat bunga mawar tadi. Diam-diam ada rasa rindu di hatinya pada sosok orang yang dua kali ini menyapanya secara misterius. "Apa nanti malam dia akan datang?"
tok
tok
tok
Permaisuri Shopia turun dari ranjangnya. Ia membuka pintunya. Sejenak dia sadar, melihat sosok perempuan di depannya. Pantas saja dia datang kesini karena Kaisar Raymond tidak ada di kamarnya.
__ADS_1
"Ada apa Selir Lusia?"
Selir Lusia diam, tapi matanya seolah mencari sesuatu.