
"Baginda, Duke Luke sudah datang." Seru seorang kesatria yang memberikan hormat.
Laki-laki yang berstatus Kaisar itu mendongak. "Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan." Tutur Kaisar Raymond. Namun hatinya merasa gelisah melihat tatapan datar yang tak seperti biasanya.
"Apa Baginda?"
"Ini ada laporan dari wilayah Liberin. Di sana ada kekacawan. Aku ingin Duke Luke menyelesaikannya."
"Baik Baginda."
Duke Luke menahan hasrat kemarahannya. Berkali-kali ia mengingat perkataan putrinya agar tenang. "Apa masih ada yang lain Baginda?" tanya Duke Luke. Ia tidak bisa berlama-lama di ruangan yang sama dengan Kaisar Raymond. Harus berapa lama lagi dia bisa menahan amarahnya?
"Em, bagaimana kabar Permaisuri? Kapan dia pulang?"
Duke Luke mendekik tajam. Hal itu lah yang membuat Kaisar Raymond terkejut. "tanpa dia pulang pun, dia akan baik-baik saja Baginda."
"Aku hanya ingin Permaisuri pulang secepatnya."
Tangan Duke Luke mengepal, perkataan Kaisar Raymond justru meledakkan amarahnya. "Permaisuri tidak membutuhkan istana. Aku ingin Baginda melepaskan putri ku," ujarnya menekan. Ia bisa melindungi putrinya agar tidak terluka fisiknya. Namun tidak dengan batinnya. Putrinya tertekan, putrinya berusaha untuk tersenyum dan sabar. "Sebagai seorang ayah, aku ingin Baginda berpisah dengan putri ku."
brak
__ADS_1
"Aku tahu, Duke Luke adalah ayah dari Permaisuri Shopia, tapi aku tidak bisa membiarkan saja kelancangan Duke."
"Lancang, aku memintanya dengan baik-baik. Aku sebagai seorang ayah tidak pernah menginginkan putrinya sedih atas apa yang menimpanya. Aku memohon sebagai seorang ayah, bukan seorang Duke."
"Apa kamu paham, apa yang kamu katakan? Semua orang akan mencibirnya jika aku menceraikannya"
.
"Bahkan saat ini pun putri ku sudah di cibir. Banyak bangsawan yang mengatakan putri ku sudah tidak di sayangi." Sudah berhari-hari perkataan itu menari-nari di hatinya. Telinganya mendengarkan sendiri saat para bangsawan mencibirnya.
Kedua Kaisar Raymond menekan di atas mejanya. Jujur, dia bingung, dia tidak tega menceraikannya. Namun di sisi lain, ia harus bisa demi kekasihnya.
Deg
Rasa jantungnya sudah berhenti berdetak. Seorang suami seharusnya mempertahankan seorang istri, menghargainya meskipun tidak mencintainya, tapi apa? Kaisar Raymond tidak melihat ketulusan putrinya. Kaisar Raymond mengabaikan cinta putrinya. Air matanya jatuh keluar tanpa ijin darinya.
"Baik, aku menunggu saat itu. Lebih cepat lebih baik. Dan jangan khawatir, setelah cerai. Baginda ataupun Permaisuri tidak akan pernah bertemu. Putri ku tidak akan mengganggu Baginda. Tidak akan pernah mengganggu kebahagiaan Baginda." Ucap Duke Luke. Dia pun berbalik dan melangkah lebar.
Deg
Hatinya sangat sakit, melihat seorang wanita yang berdiri mematung di depannya. Air matanya menggenang, dia menggerakkan tangan kanannya mengusap kedua sudut matanya. "Permaisuri mendengarkannya,"
__ADS_1
Permaisuri Shopia mengangguk tersenyum. "Aku ingin berbicara dengan Baginda, Ayah." Senyuman lembutnya masih terukir di bibir mungilnya.
Sedangkan Kaisar Raymond, meskipun hatinya tidak enak. Namun ia harus lakukan karena ini sudah jalan yang terbaik. "Aku juga ingin berbicara dengan Permaisuri."
Duke Luke memejamkan matanya. Ia pun langsung pergi.
Sekuat tenaga, Permaisuri Shopia melangkahkan kakinya mendekati Kaisar Raymond. Matanya menatap dalam mata Kaisar Raymond. Dia rindu, dia sangat merindukan bagaimana sikap hangatnya.
"Baginda, aku minta maaf atas kelancangan ayah ku. Mohon Baginda tidak menghukumnya."
"Tidak, Duke Luke benar." Ucap Kaisar Raymond santai. Ia meyakini, apa yang ia lakukan sudah benar.
"Maaf, aku tidak bisa bersama mu."
Permaisuri Shopia menghembuskan nafasnya melalui mulutnya. "ti-tidak, Baginda. Aku mengerti."
"Aku tidak mencintai mu,"
Tuhan, hatinya menangis. Kata itu lah yang mampu meruntuhkan hatinya.
"Baginda, dari awal aku sadar. Kita menikah tanpa landasan saling mencintai. Kita menikah hanya demi saling menguntungkan. Aku sadar, kehadiran ku tidak berarti di hati mu. Aku tidak memaksamu atau menyuruh mu untuk mencintai ku. Karena aku takut, kamu akan menolaknya. Tapi tahukah Baginda, dari awal aku mencintai mu." Air mata itu pun terjatuh, membelah kedua pipinya. "Tapi jangan khawatir, cinta ku tidak akan membuat Baginda kehilangan kekasih Baginda. Aku yakin Baginda akan bahagia. Dan mulai saat ini, aku dan Baginda tidak akan memiliki hubungan apa pun. Bahkan Baginda tidak akan ikut campur urusan pribadi ku dan juga aku tidak akan ikut campur urusan Baginda. Hubungan kita hanyalah sebatas menguntungkan." Tegas Permaisuri Shopia dengan air mata yang mengalir. Hanya ini yang bisa ia lakukan, memberikan benteng agar hatinya tidak terlalu sakit.
__ADS_1