
Mulut Permaisuri Shopia terbuka lebar, ia hendak berteriak. Namun tangan kekar itu langsung membungkamnya. "Shut, diamlah, aku tidak berniat jahat. Aku hanya membantu mu." Ucapnya dengan lembut.
Permaisuri Shopia melihat ke dalam selimutnya, seketika matanya membulat. Ia yakin, laki-laki di depannya akan berbuat mesum.
"Percaya atau tidak, aku yang menolong mu agar tidak di lecehkan oleh laki-laki itu. Jangan berteriak, maka aku akan melepaskan mu."
Permaisuri Shopia mengangguk, setelah di rasa renggang. Ia langsung menepisnya secara kasar.
"Hey," Kaisar Raymond tersenyum, ia menatap wanita di depannya dengan penuh dambaan cinta. "Maaf, aku datang terlambat."
Permaisuri Shopia mengkerutkan keningnya. "Terlambat,"
Kaisar Xavier mengangguk, "Aku terlambat menolong mu. Apa bajingan itu menyentuh mu?"
"Hah," Permaisuri Shopia menyunggingkan bibirnya. Ia tidak mengerti dengan arah pembicaraan laki-laki di depannya.
"Maksud ku, Kaisar tengik itu."
__ADS_1
Seketika Permaisuri Shopia ingat, tadi ia di perlakukan kasar oleh Kaisar Raymond. Ia pun beranjak duduk dengan selimut menutupi dadanya.
"Tenang saja, dia tidak akan bangun. Mungkin besok pagi. Aku sudah membuat dia masuk ke dalam mimpinya."
Permaisuri Shopia menyingkapi kelambunya, melihat sekelilingnya. Lalu menangkan mengintip Kaisar Raymond yang tidur di sofa dengan seorang laki-laki berjubah hitam menatap ke luar jendela. Layaknya menjaga Kaisar Raymond.
"Kamu ini siapa? dan kenapa bisa masuk ke kamar ku?"
"Apa kamu tidak ingat? Aku laki-laki yang pernah kamu tolong."
Permaisuri Shopia kembali mengingat pertemuan pertamanya. "Lantas kamu mau apa datang kesini? Jangan-jangan kamu pembunuh bayaran."
"Ya, sudah. sekarang cepat pergi." Usir Permaisuri Shopia. Dia masih melihat statusnya yang masih istri dari Kaisar Raymond. Dia tidak mau, para pelayan dan yang lainnya menganggapnya rendah kemudian menjelekkan nama ayahnya.
"Shut, jangan seperti ini. Aku akan pergi setelah mendapatkan ciuman dari bibir mu." Goda Kaisar Xavier.
"Laki-laki mesum, cepat pergi atau aku akan berteriak." Ancamnya dengan wajah garang.
__ADS_1
Kaisar Xavier menaikkan kedua bahunya. "Teriak saja, semua orang akan mengatakan. Permaisuri Shopia tengah berselingkuh."
"Kamu," tunjuknya ke wajah Kaisar Xavier. "Pergilah, jangan mengganggu ku." Bentaknya.
Kaisar Xavier turun dari ranjang Permaisuri Shopia. "Lebih baik Permaisuri lupakan Kaisar Raymond. Masih ada yang mencintai Permaisuri, misalkan seperti aku. Dan iya, ada sebuah rahasia yang harus Permaisuri tahu ketahui." Tuturnya dengan smirik di bibirnya.
"Tunggu, rahasia. Apa maksud mu?"
Kaisar Xavier mengangkat tangannya, mengelus pucuk kepala Permaisuri Shopia. Membuat jantung berdetak lebih cepat. Tidak ada orang yang pernah mengelusnya, kecuali ayahnya. "Tanyakan saja pada Duke Luke, dia tahu. Aku harap kamu akan mengerti."
Cup
Kecupan penuh cinta di bibir Kaisar Xavier menempel di kening Permaisuri Shopia. Ada rasa hangat di tubuhnya, seolah dia ingin memintanya lebih lama. "Jangan memikirkan yang macam-macam, semua yang di lakukan demi kebaikan mu. Dan," Kaisar Xavier merogoh sakunya, tanpa permisi. Dia meraih tangan kiri Permaisuri Shopia. Lalu memasangkan di jari manisnya. "Ini hadiah untuk ku, jangan di lepas. Cincin ini akan melindungi mu." Ucapnya langsung bergegas pergi.
Permaisuri Shopia menatap jari manisnya, seolah tersihir ia menerima perlakuan orang asing begitu saja. "Hah, kenapa bisa aku menurutinya." Permaisuri Shopia ingin melepaskan cincin di jari manisnya. Namun cincin itu melekat begitu erat. "Sial! kenapa tidak bisa di lepas, sih?"
Hampir satu jam, Permaisuri Shopia berusaha melepaskan cincin di jarinya, ia sudah menggunakan berbagai cara. Namun cincin itu masih melekat. "Sudahlah, aku sudah lelah. Jika ada yang menanyakannya. Tinggal aku berbohong saja."
__ADS_1
Permaisuri Shopia bergegas mengganti gaunnya, kemudian memanggil beberapa pelayan untuk mengantarkan Kaisar Raymond ke kamar Selir Lusia. Dengan alasan, Kaisar Raymond yang memintanya karena tidak enak badan.