I’M Not A Virgin

I’M Not A Virgin
Part 104


__ADS_3

“Kau terlalu tinggi, Delavar. Aku jadinya harus menjinjit terus setiap kali ingin menciummu,” cicit Amartha yang saat ini berdiri di hadapan pria itu dengan jarak satu jengkal dari ujung kedua kaki mereka.


Delavar merendahkan tubuhnya agar wajah keduanya menjadi sejajar. Mengulas senyum simpul dan matanya terus terfokus pada sosok cantik yang dia cintai. “Sekarang sudah sama tinggi kita, berarti ciumnya dapat bonus,” kelakarnya menaik turunkan alis. Tetap modus saja pria itu.


Amartha melingkarkan tangan di leher Delavar. Mendekatkan wajahnya dan melabuhkan kecupan di bibir pria itu sebanyak sepuluh kali. “Bonusnya tiga kali saja, ya?”


“Boleh.”


Amartha pun menambahkan kecupan sebanyak tiga kali lagi dan terakhir pada kening Delavar yang menandakan bahwa dia menyayangi pria itu. “Sekarang ganti pakaianmu. Aku sudah memilihkan baju,” titahnya kemudian.


Tangan Amartha mengangkat dua hanger, dan satu diberikan pada Delavar. Setelan serba hitam, dia memilih warna itu karena akan mengantarkan sesuatu yang tak jadi hidup ke dunia kepada pria keparat.


Keduanya berganti dalam satu kamar yang sama. Tak canggung, karena selama dua minggu ini juga sudah saling membiasakan diri.

__ADS_1


“Kita sudah seperti anggota Man in Black saja,” seloroh Delavar saat melihat penampilannya dan Amartha sama.


“Kita kan memberantas kejahatan,” balas Amartha seraya memungut pakaian yang sebelumnya untuk dimasukkan ke dalam cucian kotor.


Keduanya meninggalkan kamar bersamaan. Amartha menaruh cucian kotor terlebih dahulu dan barulah membuka kulkas untuk mengambil embrionya yang sengaja disimpan di sana agar tak busuk.


“Kau tidak lupa membeli kotak untuk kado, kan?” tanya Amartha seraya mendekati Delavar yang sedang mematikan televisi.


“Ada di mobilku, aku lupa menurunkannya,” balas Delavar seraya meletakkan remot di meja.


“Ada.” Delavar ikut mengulurkan tangan kanannya, menggenggam Amartha dengan erat. Sedangkan sebelah kiri menengadah ke hadapan wanitanya. “Mana, biar aku yang membawa itu,” pintanya.


Amartha memberikan cup yang dibawa dari tempat Dokter Beverly. Kepercayaannya pada Delavar sudah meningkat, dan kini hanya tersisa sepuluh persen lagi untuk menuju seratus.

__ADS_1


Sepasang pria dan wanita yang tak bisa disebut kekasih atau suami istri itu berjalan menuju basement. Keduanya hanya berkomitmen akan menikah, jadi untuk saat ini hubungan mereka lebih tepat disebut calon pengantin. Tapi belum mempersiapkan segala kebutuhan untuk pernikahan juga. Sudahlah, terserah orang mau menyebut mereka sebagai pasangan apa, yang pasti Delavar dan Amartha saat ini sedang dilimpahi kebahagiaan.


Keduanya pun kini sudah duduk di dalam mobil Mercedes Benz milik Delavar.


“Mana kertas dan pulpennya?” pinta Amartha seraya mencari letak dua benda yang dia inginkan tersebut.


“Buka saja laci dashboard di depanmu,” jawab Delavar seraya menghidupkan mesin mobilnya.


Amartha akhirnya mendapatkan kertas kecil dan pena saat kendaraan roda empat itu mulai melaju. Dia menuliskan sebuah ucapan untuk pria keparat.


“Siapa nama si keparat itu?” tanya Amartha karena sampai saat ini belum tahu.


“Christoper.”

__ADS_1


Wanita itu kembali menggoreskan pena untuk meninggalkan tinta hitam di selembar kertas putih tersebut. Dia memasukkan cup berisi embrionya dan ucapan ke dalam kotak hadiah berukuran kecil.


“Seharusnya kita beli kamera pengintai kecil agar mengetahui bagaimana ekspresinya saat membuka ini,” cicit Amartha yang tiba-tiba terlintas sebuah ide gila lainnya.


__ADS_2