
Baru juga LDR sebentar, dan jarak antar Finlandia dengan Belanda tak terlalu jauh, kedua manusia itu sudah saling merindukan saja. Kalau Amartha tak penasaran dengan alasan Christoper, pasti dia akan ikut terbang bersama Delavar. Tapi, nyatanya rasa ingin tahu lebih besar.
“Kenapa belum tidur?” tanya Delavar. Saat ini dia sedang menikmati keindahan ciptaan Tuhan yang tak membosankan jika dipandang.
“Karena tidak ada kau yang memelukku,” jawab Amartha bermaksud menggoda calon suaminya.
Delavar tekekeh sendiri. “Sudah pandai merayuku ternyata.” Rasanya sangat gemas, ingin mencubit pipi Amartha. Tapi, karena tidak bisa, dia menarik bagian wajahnya itu sendiri. “Kau menggemaskan sekali, kalau sudah menikah pasti langsung ku tumbuk sampai kelelahan,” kelakarnya.
Amartha menjulurkan lidahnya mengejek. “Ayo coba sekarang kalau bisa,” tantangnya. Karena dia tahu hal itu tak mungkin bisa terjadi, makanya dia berani.
“Benar? Aku akan pulang sekarang juga dan ku tinggalkan pertemuannya.” Delavar langsung bangkit. Dia tidak bisa ditantang seperti itu, apa lagi dengan seseorang yang memang sangat ingin dijamah.
Amartha seketika itu juga langsung panik. “Tidak, Delavar. Aku hanya bercanda,” cicitnya beralasan.
Delavar langsung mendesah kecewa. “Padahal aku sudah ingin memberi tahu padamu bagaimana suara alat yang sering aku mainkan.”
“Tiga belas hari lagi, kita dengerkan suara itu bersama.”
__ADS_1
Delavar merubah posisinya menjadi bersandar di head board seperti Amartha. “Hanya dua minggu, tapi rasanya seperti setahun.”
“Itu karena kau sudah tak sabar ingin menghajarku.” Amartha juga sekarang sudah mulai tertular saja dengan kebiasaan Delavar yang selalu menjurus ke pembicaraan ranjang.
Delavar menaik turunkan alisnya. “DP dulu, aku mau lihat secuil itu yang ada di dadamu,” pintanya dengan nada bicara yang genit.
“Apa?” Amartha pura-pura polos.
Delavar menggerakkan telunjuknya seolah menunjuk bagian yang dimaksud. “Itu, yang ada belahannya.”
Amartha mengerutkan kening. “Tidak ada belahan apa pun.” Dan lidahnya menjulur mengejek.
Amartha tertawa karena Delavar terlihat kesal digoda terus olehnya. “Maksudmu ini?” Dia mengarahkan layar ponsel sedikit menjauh hingga memperlihatkan wajah hingga dada.
“Nah, itu. Bukalah bajumu, kau sudah menantangku, maka harus terima akibatnya.”
“Tidak mau.” Amartha kembali mengejek dengan mencibir calon suaminya.
__ADS_1
“Ck! Awas kalau aku sudah sampai Helsinki, tak akan ku biarkan kau keluar apartemen,” ancam Delavar.
“Oke, baiklah. DP sedikit saja.” Amartha menurunkan lengan yang hanya seperti tali itu dengan gerakan sangat pelan.
Delavar yang sudah penasaran itu sangat tak sabar. Tapi, saat hendak melihat apa yang ingin dipandang, kamar hotelnya ada yang mengetuk. “Sial! Mengganggu saja,” gerutunya.
“Sayang, tunggu sebentar, jangan ditutup teleponnya. Aku temui asisten Mr. William yang berisik itu,” pinta Delavar. Dia bisa mendengar jika ada suara seorang pria yang memperkenalkan diri sebagai orang kepercayaan salah satu rekan kerja yang akan ditemui.
Delavar meninggalkan ponselnya di atas kasur, sedangkan dia membukakan pintu. “Apa?”
Pria muda yang berdiri di hadapan Delavar mengulas senyum memberikan hormat. “Tuan, saya Malvin, asisten pribadi Mr. William. Anda sudah ditunggu di restoran yang ada di lantai paling atas.”
Delavar menghela napasnya. “Oke, nanti aku akan ke sana.”
Pintu pun kembali ditutup, dan Delavar mengambil ponselnya lagi. “Sayang, maaf. Aku harus bertemu Mr. William.” Ucapannya terdengar sangat kecewa karena gagal melihat setengah surga dunia milik calon istrinya.
...*****...
__ADS_1
...Kemesuman ini ... janganlah cepat berlalu wkwkwk. Eh salah ya, harusnya kemesraan. Dah ah, bisa gila aku nulis mereka berdua, cengar cengir mulu....