I’M Not A Virgin

I’M Not A Virgin
Part 177


__ADS_3

Lima bulan berlalu, perut Amartha terlihat sangat besar. Bahkan Delavar selalu melarang wanita itu untuk beraktivitas karena tidak ingin terjadi sesuatu hal buruk dengan istri serta anak-anaknya.


Sesuai ucapannya, Delavar akan menitipkan Amartha ke mansion Dominique saat dia bekerja. Lalu sore hari baru dijemput untuk pulang ke apartemen.


Pagi ini Delavar baru saja sampai di mansion orang tuanya. Dia menuntun Amartha dengan langkah lambat dan hati-hati saat masuk ke dalam bangunan utama.


“Sudah, mulai hari ini kalian tinggal di sini saja. Perut istrimu terlihat turun seperti itu, kasian dia kalau tinggal di apartemen. Naik turun ke lantai bawah setiap hari, memangnya kau kira tidak berat membawa anak kembar ke mana-mana?” Mommy Diora yang melihat kedatangan anak serta menantunya pun langsung mengomel dari arah sofa ruang keluarga. Nyonya Dominique segera menghampiri Amartha untuk dia ambil alih dari Delavar.


“Rencananya juga seperti itu, Mom. Aku sudah membawa semua perlengkapan istri dan anak-anakku,” jawab Delavar. Dia membiarkan Amartha digandeng oleh Mommy Diora.


“Nah, bagus. Menurut jika diberi tahu orang tua.” Tangan Mommy Diora mengacak-acak rambut putranya. “Kaki istrimu juga sudah bengkak semua seperti itu.” Dia menunjuk bagian tubuh sang menantu yang paling bawah.

__ADS_1


Delavar menanggapi ocehan Nyonya Dominique dengan cengiran saja. Semakin dibalas, justru tak berhenti mengomel.


Pria itu merendahkan tubuh hingga sejajar dengan perut Amartha. Mengusap perut yang sangat buncit. “Daddy berangkat kerja dulu, Sayang. Jaga Mommy, ya? Nanti kita bertemu lagi.”


Setelah berpamitan dengan anak-anaknya, Delavar kembali berdiri menatap Amartha dengan tangan mengelus pipi sang istri. “Tahun ini kita tak perlu merayakan anniversary pernikahan, ya? Perutmu sudah sangat besar, aku takut kau tak kuat jika mengadakan pesta.”


“Iya, lagi pula tidak terlalu penting juga,” balas Amartha, tak lupa meninggalkan kecupan di telapak tangan Delavar yang baru saja dia raih.


“Ada yang ketinggalan?” tanya Amartha dengan mengernyitkan dahi.


Tak tahu kenapa Delavar menganggukkan kepala dan kembali mendekati Amartha. “Aku lupa menciummu.” Pria itu mendaratkan bibir di wajah sang istri.

__ADS_1


“Sudah, berangkat kerja. Nanti kau dimarahi Daddy jika bolos.” Amartha mengelus lengan Delavar dan mencoba membujuk suaminya agar segera pergi.


“Apa aku libur saja hari ini? Rasanya ingin menemanimu terus.” Waktu sudah lebih tiga puluh menit dari jam masuk kantor, tapi Delavar justru masih bimbang antara berangkat atau tidak.


Tangan Mommy Diora mencubit lengan putra ketiganya. “Kerja, Delavar! Lagi pula di mansion ada aku, Daddymu, dan nanti Felly beserta anak-anaknya akan ke sini juga. Jadi jangan khawatir.”


Delavar menghela napas kasar. Tangan bahkan masih berpegangan dengan Amartha. “Aku malas ke kantor, Mom. Bantu aku membujuk Daddy agar mau menggantikan lagi, ya?” Sorot matanya terlihat sangat memohon agar dituruti.


Daddy Davis yang baru saja masuk dari pintu yang menyambungkan dengan area taman samping bangunan utama pun langsung mengeluarkan suaranya. “Tidurlah di kamar dan peluk Amartha sepuasmu jika kau ingin menjadi pengangguran. Daddy akan kelola perusahaan sendiri!”


Suara ancaman Tuan Dominique yang menggelegar, tegas, dan ditambah sorot tak main-main pun membuat Delavar menelan saliva. “Iya, aku berangkat kerja.”

__ADS_1


__ADS_2