I’M Not A Virgin

I’M Not A Virgin
Part 45


__ADS_3

Amartha sudah duduk di lantai ditemani puluhan botol minuman beralkohol tinggi. “Enyah saja kau dari perutku!” serunya.


Satu botol Amartha coba buka. Bau yang sangat kuat langsung terhirup oleh indera penciumannya. Dan saat itu juga dia merasakan perutnya bergejolak.


Buru-buru Amartha berlari ke kamar mandi untuk muntah tapi tak ada yg bisa dikeluarkan. Hanya rasa pahit yang ada di indera pengecapnya.


Luruh sudah air mata Amartha. “Kau benar-benar menyiksaku, sialan!” Tangannya terkepal kuat dan memukuli perutnya sendiri.


Amartha kembali mendekati botol minuman, dia sekuat tenaga menahan gejolak di dalam perut yang sepertinya menolak minuman alkohol itu. Tanpa bantuan gelas, dia menegak langsung dari botol itu seperti tengah meminum air mineral.


“Keparat!” umpat Amartha. Belum ada setengah botol, perutnya sudah bergejolak lagi minta dikeluarkan.


Sia-sia sudah alkohol yang diminum Amartha. Sebab, tiap ada yang masuk pasti langsung dikeluarkan.

__ADS_1


Hal itu tentu saja membuat Amartha frustasi. Rasanya dia bisa gila memikirkan nasib hidupnya ini. “Argh ...!” raungnya.


Disaat Amartha benar-benar ingin menyerah dengan semua ini, ponselnya berdering. Dengan malas dia meraih dan mengangkat panggilan tersebut karena sangat berisik. “Apa?!” sapanya dengan ketus.


“Ku dengar kau didekati oleh salah satu anak keluarga Dominique.” Ternyata mamanya yang menghubungi.


“Ku tolak!” Nada bicaranya terdengar jelas mengandung kesedihan dan kekesalan secara bersamaan.


Desakan dari Mama Lylac itu semakin menambah pusing kepala Amartha. Harta kekayaan terus yang ada di dalam pikiran wanita yang sudah melahirkannya itu.


“Apa kau tak bisa mengerti hidupku sekali ini saja?” sinis Amartha. “Aku sedang hamil, seharusnya kau di sini menenangkan aku! Bukan menambah beban pikiranku!” tegurnya.


“Hamil? Anak keluarga Dominique?”

__ADS_1


“Bukan! Aku juga tak tahu anak siapa ini!”


“Dasar pelacur! Kau tidur dengan sembarang pria? Jika orang itu kaya tak masalah, kau harus melihat keluarganya dari mana!” Mama Lylac justru mengomeli anaknya habis-habisan, bahkan menghina Amartha dengan kasar.


Amartha benar-benar tak tahan mendengar ocehan orang tuanya itu. Dilemparnya ponsel yang ada di genggamannya hingga membentur tembok dan pecah.


“Kenapa orang-orang di sekelilingku tak ada yang memiliki hati sedikit pun?” teriak Amartha. Dia mengacak-acak rambutnya dengan kasar. Menjambak jutaan helai berwarna pirang itu, rasanya ingin mengeluarkan isi kepalanya agar dia tak bisa memikirkan apa pun.


Dari dia pulang rumah sakit hingga siang hari ini, Amartha terus saja mengumpati nasib hidupnya. Kenapa dia tak bisa hidup tenang? Kenapa banyak sekali yang mengusiknya?


Mulai Marvel yang pernah menjadikannya kekasih tapi hanya sebatas diperalat untuk menutupi perasaan pria itu saja. Papanya yang tega menyiksanya dari kecil bahkan sampai dia dewasa pun dijual pada seorang pria. Mamanya yang selalu mendesaknya untuk mencari pasangan keluarga kaya dan terpandang karena terobsesi ingin bergabung dengan kaum sosialita. Sekarang dia harus hamil, bahkan tak tahu siapa orang yang membuatnya seperti ini.


Amartha berangsur berdiri dan melangkah menuju kamarnya. Membuka sebuah laci, lalu mengeluarkan botol kecil berwarna putih. Menuangkan isi di dalamnya ke atas tangan. “Obat tak berguna! Nyatanya aku tetap hamil walaupun sudah mengkonsumsimu!” berangnya seraya melemparkan obat yang katanya bisa mencegah agar tak hamil.

__ADS_1


__ADS_2