I’M Not A Virgin

I’M Not A Virgin
Part 122


__ADS_3

“Bisa dibilang aku pemiliknya, karena memiliki dua puluh persen saham di sini,” sahut Delavar sedikit menyombongkan hartanya. “Tapi jika digabung dengan saham milik Danesh, Dariush, Deavenny, dan Mommyku yang juga memiliki beberapa persen di Stockmann, keluarga Dominique pemiliknya,” imbuhnya menjelaskan.


Amartha berjalan sembari menatap wajah calon suaminya itu. “Maksudmu, pusat perbelanjaan ini milik keluargamu?” Dia mempertegas lagi fakta tersebut.


Delavar mengangguk. “Hanya pemilik saham saja, tapi untuk jabatan struktural tidak. Urusan kami sudah terlalu banyak. Jadi, agar tak mengandalkan dari satu pemasukan saja, keluargaku membeli saham diberbagai perusahaan.”


Amartha menggaruk kepalanya, sampai tak terbayang seberapa banyak harta keluarga Dominique itu. “Oh ... jadi rahasia kalian dinobatkan menjadi keluarga kaya di Eropa karena itu?”


“Itu hanya salah satunya, yang utama karena keluarga Dominique memiliki usaha di semua lini.” Delavar mulai mengangkat jemarinya hingga sejajar dada setelah memencet tombol lift. “Mulai dari bidang periklanan, pertanian, entertainment, manufaktur, perhotelan, perbankan, pertambangan, kontraktor, arsitektur, dan masih banyak lagi. Bahkan jariku saja tak cukup untuk menghitung usaha milik keluargaku.” Tangannya ditarik kembali untuk merangkul pinggang Amartha seraya berjalan keluar dari lift.

__ADS_1


“Dan itu semua tersebar di seluruh wilayah Eropa,” imbuh Delavar memberikan informasi.


Amartha sampai berdecak dan bergeleng kepala mendengar semua aset yang dimiliki keluarga calon suaminya. “Sepertinya, hartaku hanya sekecil bakteri jika dibandingkan milikmu.”


Tangan Delavar dengan cepat naik menyentuh ujung kepala calon istrinya. Mengacak-acak rambut yang halus tersebut dengan gemas. “Nanti juga sebagian akan menjadi milikmu setelah kita menikah, kau tinggal pilih saja ingin meminta saham di mana. Atau mau mengelola perusahaan yang mana,” cicitnya seraya merapikan kembali surai lebat itu.


Delavar tentu saja mengikuti kemanapun yang diinginkan wanitanya. “Mau kau menolaknya, otomatis tetap akan mendapatkan sebagian aset yang aku miliki, Amartha,” beritahunya.


“Aku tidak bisa mengelola perusahaan, keahlianku hanya menjadi sekretaris saja dan mungkin merias wajah.” Amartha membalas ucapan Delavar. Namun fokusnya pada alat make up yang berjajar rapi di hadapannya. Dia tengah memilih foundation yang bagus dan cocok untuk kulitnya.

__ADS_1


“Tidak perlu bersusah payah mengelola, ada aku. Kau hanya cukup memiliki salah satu asetnya saja, Sayang.” Di tempat umum dan banyak orang itu, Delavar justru merapatkan tubuh dengan Amartha yang sibuk dengan puluhan jenis foundation, lipstik, dan alat rias lainnya. Tentu saja karena ingin menghindari mata para wanita yang saat ini menatapnya dan bergumam seperti memuja kemanisan dan ketampanannya.


Amartha membiarkan pria itu memeluk pinggangnya. Fokusnya kali ini tertuju pada mengoleskan tester lipstick ke bibirnya. “Bagus atau tidak warna ini?” Dia menunjukkan wajah yang merah merona ke arah Delavar.


“Tidak, seperti ini baru bagus.” Tanpa malu, Delavar mencium calon istrinya itu dan disaksikan oleh puluhan pasang mata yang lewat serta penjaga toko. Tak masalah, toh di sana sudah biasa seperti itu. Negara liberal yang warganya menganut budaya bebas.


Amartha langsung mengaca di cermin. “Jadi hilang lipstiknya, Delavar,” keluhnya. Dia pun mengusap bibir menggunakan tisu untuk menghapus sisanya.


Delavar terkekeh pelan. “Seperti itu jauh lebih bagus, Sayang. Tapi jika kau ingin dicium terus olehku, maka pakai saja lipstiknya. Dengan senang hati bibirku akan menghapusnya.” Kerlingan genit penuh makna terselubung pun tercetak di wajah tampannya.

__ADS_1


__ADS_2