I’M Not A Virgin

I’M Not A Virgin
Part 167


__ADS_3

...Masih edisi bukan konsumsi anak di bawah umur ya bestie. Jangan kepo, soalnya ini adegan anu....


...*****...


Amartha sudah mencapai puncak pertamanya. Dia mengeluarkan cairan putih dan segera diusap oleh Delavar.


Pria itu menarik kaki Amartha untuk kembali duduk di cekungan dan berhimpitan dengannya. “Kau harus memenuhi janjimu, Sayang. Milikku belum tertidur, dan kau perlu bertanggung jawab,” pintanya seraya tangan mengusap dengan membentuk bulatan pada daerah yang menonjol yang tadi dia sesap.


“Ternyata baru aku yang terpuaskan?” tanya Amartha saat melihat daerah pangkal paha suaminya masih ada yang mengeras.


“Tentu saja, kini giliranmu melakukan tugas.” Delavar mengerlingkan mata sebelah.


“Sure, bangkitkan lagi gairahku,” pinta Amartha seraya menyibakkan rambut agar sang suami menyentuh lehernya.


Oh tentu saja permintaan itu segera dituruti oleh Delavar. Dia membangkitkan lagi hasrat bercinta Amartha yang ternyata cepat timbul setelah daerah pangkal paha mendapatkan serangan dari tangan dan lidah.


“Aku akan memberi tahu padamu bagaimana suara dari alat yang sering aku mainkan,” bisik Delavar. Hembusan napasnya sampai menyapu permukaan kulit Amartha karena sangat dekat.


Setelah merasakan milik Amartha basah, Delavar menaikkan kedua kaki wanitanya ke pundak. Tangan memegang bagian tubuhnya yang tegak berdiri. Menyentuhkan ujung yang tumpul itu pada bagian inti permainan.

__ADS_1


“Relax, Baby, enjoy this game,” cicit Delavar. Dan saat melihat Amartha sudah mulai menikmati sensasi usapan dari ujung tumpul alat tempur miliknya, barulah dia hendak membenamkan ke dalam.


“I’m ready, Darling.” Amartha meraih kepala Delavar untuk di dekatkan pada wajahnya. Ciuman pun terjadi diiringi penyatuan yang tidak terasa sakit untuk Amartha.


Walaupun Delavar bukan yang membuka segel, tapi rasa bercinta tetap sama saja karena partnernya adalah wanita yang dia cintai.


Pria itu memaju mundurkan pinggul secara perlahan. Dia tak ingin cepat mencapai titik puncak, menikmati sensasi yang baru pertama kali dirasakan. Ternyata berbeda jauh saat bermain solo, sepertinya dia tak akan pernah mau menggunakan tangan lagi untuk menuntaskan hasrat sendiri, setelah tahu bagaimana rasa dari penyatuan bersama sang istri.


Keduanya mendesah, saling menikmati tubuh satu sama lain. Suara erotis menjadi alunan yang sangat merdu di telinga sepasang pengantin baru itu.


Delavar tak puas hanya dengan satu gaya saja. “Mari bertukar.”


“Aku tetap menikmatinya, Sayang.” Delavar kurang puas dengan kecepatan Amartha, sehingga tangannya menyentuh pantat dan membantu sang istri untuk kian mempercepat ritme permainan.


Suara pertemuan antara dua alat yang bisa menimbulkan bunyi saat terjadi penyatuan pun terdengar merdu. Delavar pasti sangat menyukai itu.


“Kau masih lama? Aku sudah lelah,” tanya Amartha setelah lima belas menit dia memimpin di atas.


“Sepertinya, aku belum merasakan ingin sampai ke puncak,” jawab Delavar. Melihat istrinya mulai tak kuat lagi bergoyang, dia merubah posis. Amartha sedikit ke atas hingga tubuh wanitanya berada di gundukan yang lebih tinggi.

__ADS_1


Delavar sedikit berdiri agar pinggulnya sejajar dengan daerah inti sang istri, membuka lebar kedua paha Amartha dan lagi-lagi melakukan penyatuan yang belum tuntas sejak tadi. Dan inilah gaya ketiga dari permainan itu.


“Aku sedikit cepat, boleh?” izin Delavar.


“Lakukan saja apa pun yang kau inginkan.”


Suara khas orang bercinta terdengar lebih jelas saat Delavar menaikkan ritmenya. Dan itu sangat nikmat untuk keduanya. Memacu mereka agar segera sampai ke puncak.


Disaat kenikmatan itu mulai menjalar di sekujur tubuh hingga rasanya mati rasa kecuali kenikmatan, Amartha teringat sesuatu. “Sayang, kau tidak memakai pengaman, jangan lupa pesan dokter.”


“Oke, aku akan mencabutnya sebelum keluar,” jawab Delavar.


Saat Delavar merasakan alat miliknya seperti berkedut hendak membuncahkan bibit calon anak-anaknya, dia sungguh menarik pinggul dan membiarkan menyembur di perut sang istri.


Tanpa turun dari sofa, Delavar mengambil kain terdekat untuk menghilangkan cairan kental miliknya yang berada di perut Amartha. “Selamat jalan anak-anakku yang malang, belum saatnya kalian berperang di dalam rahim mommymu.”


...*****...


...Hutang dibayar lunas, akhirnya kang kredit cabul yang suka minta DP menakhlukkan wanitanya....

__ADS_1


__ADS_2