I’M Not A Virgin

I’M Not A Virgin
Part 107


__ADS_3

“Oke, polos.” Amartha pun membalas jabatan tangan Delavar dan pria itu tersenyum senang.


Muah


Delavar menarik tangan Amartha agar wanita itu mencondong ke arahnya dan melabuhkan kecupan di pipi mulus tersebut. “Malam ini kita akan tidur nyenyak,” cicitnya.


Tangan Delavar pun memencet tombol yang menyatu pada pintu. Menurunkan kaca dan langsung menengadahkan tangan. “Mana pesananku?”


“Ini, Tuan.” Roxy memberikan kamera pengintai yang sangat kecil tapi masih tetap bisa terlihat dengan mata normal. “Mana ponsel yang ingin disambungkan, Tuan? Saya setting sekalian.”


Delavar mengeluarkan ponselnya dan memberikan pada Roxy. “Pakai ini.”


Roxy terlihat menginstal sesuatu, dan memasukkan sandi yang terhubung dengan kamera pengintai tersebut. “Sudah bisa, Tuan” beritahunya. Dia memperlihatkan layar yang saat ini menunjukkan dagu Delavar karena kamera tersebut sedang mengarah ke sana.


“Good job, Roxy.” Delavar memberikan tepukan di pundak pria itu dan mengambil alih ponselnya lagi. “Terima kasih, dan pulanglah.” Dia menutup kembali kacanya.


“Ini yang kau minta, Sayang.” Delavar memberikan benda kecil yang dia pegang kepada Amartha.


Amartha meraih tangan Delavar, dan mengecup permukaan kulit berbulu halus itu. “Kau yang terbaik, Delavar.”

__ADS_1


Amartha menempelkan kamera tersebut pada wadah embrionya. Dan menutup kembali kotak hadiah itu. “Let’s go.”


“Tidak ada yang kurang?” Delavar memastikan terlebih dahulu agar tak perlu bolak balik.


Dan setelah Amartha menjawab dengan anggukan, barulah Delavar melajukan mobil menuju mansion Christoper.


“Jangan turun, kau berikan dari dalam mobil saja pada penjaga mansion itu,” titah Delavar agar Amartha tetap aman berada di sisinya.


Tin! Tin! Tin ...


Delavar sengaja memencet klakson untuk memanggil security di sana. Dan benar saja, seorang pria dengan badan yang berisi pun keluar dari pos keamanan. Mendekati mobilnya.


“Ada keperluan apa, Tuan?” tanya security tersebut seraya menyapu seisi mobil tersebut.


“Mengantarkan hadiah untuk Christoper,” jawab Delavar dengan santai tanpa rasa gugup sedikit pun.


“Tuan Christoper sedang tidak menerima tamu.”


“Aku tidak ingin bertemu dengannya, ku titipkan padamu.” Amartha yang menanggapi. Dia mengulurkan tangan, memberikan kotak kecil itu.

__ADS_1


“Kalau boleh tau, isinya apa?” tanya security itu.


“Aman pokoknya, kau jangan membukanya, nanti tuanmu itu marah karena bingkisan yang dia tunggu-tunggu sudah kau buka.” Delavar mencoba menakut-nakuti pria yang berprofesi sebagai penjaga keamanan itu.


“Bukan bom atau benda yang mengancam nyawa Tuan Christoper, kan?”


“Bukan, kau scan saja menggunakan sensor pendeteksi benda berbahaya,” jelas Delavar. “Terima kasih sudah mau aku repotkan. Dan tolong minggir sedikit, mobilku mau lewat,” pintanya sedikit mengibaskan tangan agar penjaga keamanan itu menyingkir.


Delavar melajukan kendaraannya untuk kembali ke apartemen. Sedangkan security segera menghubungi pelayan untuk dihubungkan pada Christoper, dan langsung diperintahkan untuk dibawa ke bangunan utama.


“Tuan, ini ada bingkisan hadiah dari salah satu anak Tuan Dominique,” ucap pelayan yang dititipi oleh security.


“Taruh saja di sana,” titah Christoper yang tak berselera untuk menerima itu.


Kotak hadiah itu pun diletakkan di atas meja tanpa disentuh oleh Christoper yang sedang berbaring di ranjang.


Sedangkan Amartha dan Delavar, keduanya sudah sampai di apartemen lagi. Pria itu melingkarkan tangan di pinggul sang wanita saat berjalan menuju lantai sepuluh.


“Jangan lupa, sampai kamar kau harus melepas pakaianmu,” bisik Delavar tepat di telinga Amartha hingga menimbulkan sensasi geli.

__ADS_1


__ADS_2