I’M Not A Virgin

I’M Not A Virgin
Part 118


__ADS_3

Delavar baru saja menyelesaikan sarapannya. Namun tidak dengan Amartha. wanita itu ada yang sedikit berbeda, sedari tadi banyak melamun karena bingung memikirkan bagaimana caranya untuk menemui Christoper tanpa melibatkan calon suaminya.


“Apa yang sedang kau pikirkan, Amartha?” tanya Delavar. Telapaknya menyentuh permukaan kulit tangan calon istrinya yang sedari tadi hanya mengaduk-aduk makanan.


“Ha?” Amartha terkejut saat merasakan disentuh. “Apa?” Dia seperti orang ling-lung.


Delavar beralih mengusap pipi Amartha dengan ulasan senyumnya. Dia bahkan mau mengulangi pertanyaan tadi. “Kau sedang memikirkan sesuatu?”


Amartha menyengir, tapi kepalanya menggeleng pelan. “Tidak.”


Wanita itu menunduk memenuhi kornea matanya dengan makanan di piring. ‘Apakah sejelas itu jika aku sedang memikirkan sesuatu?’ monolog Amartha pada diri sendiri.


“Lalu, kenapa makanannya tidak dihabiskan? Apa kau tak suka? Jika iya, pesan saja makanan yang kau inginkan, jangan dipaksa.” Delavar hendak menarik piring yang isinya bahkan masih penuh dan baru berkurang satu suap saja. Dia ingin menghabiskan sarapan untuk Amartha itu.

__ADS_1


Tapi, Amartha sudah mencegah tangan Delavar. “Tak perlu. Aku makan ini saja,” tolaknya dan segera melahap sarapan itu agar tak membuat anak ketiga keluarga Dominique banyak bertanya.


“Jika kau butuh bantuanku, katakan saja. Jangan membawa beban sendirian. Kita akan segera menikah, dan aku ingin kita menjadi partner hidup yang saling terbuka serta melengkapi kekurangan satu sama lain,” pinta Delavar. Dia merasa ada sesuatu dengan Amartha, karena akhir-akhir ini wanitanya memang lebih ceria, tak semendung sekarang.


Amartha menggenggam tangan Delavar yang berada di atas meja. Mengelus penuh kasih di bagian tubuh itu. “Iya, Sayang. Jangan khawatir.”


Senyuman dari Amartha itu membuat Delavar menjadi sedikit lega.


“Iya, aku ingat. Kau mandilah dulu, aku mau menghabiskan sarapanku,” titah Amartha. Dia memasukkan sesuap makanan ke mulut.


“Yasudah, aku mandi dulu, sekaligus ingin membuang kotoran di usus yang sudah meronta,” cicit Delavar. Tubuh kekarnya berdiri dan melabuhkan kecupan di ujung kepala Amartha sebelum meninggalkan wanita itu sendiri.


...........

__ADS_1


Delavar dan Amartha sudah berada di tempat Dokter Beverly praktik. Keduanya harus menunggu antrian yang reservasi lebih awal. Walaupun Delavar banyak uang, tapi menyerobot antrian orang bukanlah gayanya.


“Sabar, ya? Aku kira sudah daftar dari kemarin lalu akan mendapatkan paling awal,” tutur Delavar. Pria itu tak pernah melepaskan tautan tangan dengan sang wanita. “Sini, istriahat dulu. Sandarkan kepalamu di bahuku agar terlihat mesra,” pintanya.


Tangan kekar itu memegang kepala Amartha dan membiarkan menempel di bahunya.


“Kenapa kau tiba-tiba ingin terlihat mesra di tempat umum?” tanya Amartha. Ingin mendongak agar bisa melihat wajah Delavar, tapi pria itu menahan kepalanya.


“Karena saat ini banyak wanita berperut buncit yang tak ditemani pasangan mereka sedang menatap ke arahku,” beri tahu Delavar dengan nada bicaranya berbisik.


Informasi itu membuat Amartha menyapu pandangan ke seluruh penjuru di mana ruang tunggu itu penuh dengan orang dan mayoritas adalah wanita. Dia menghitung orang yang menatap ke arah Delavar. “Wow ... ternyata calon suamiku memiliki banyak fans,” kelakarnya.


Amartha yang menyadari ada lima belas pasang mata menatap ke arah prianya pun melingkarkan tangan di leher Delavar. “Agar semua orang tau jika kau adalah milikku,” ucapnya. Tak lupa melabuhkan kecupan di pipi calon suaminya dan menyandarkan kepala di hahu kekar itu lagi.

__ADS_1


__ADS_2