
“Apa mereka peduli denganku? Tidak, tak ada satu pun dari orang tuaku yang mencariku untuk menanyakan bagaimana perasaanku atau aku sedang memiliki masalah apa. Yang ada dalam pikiran mereka hanya uang dan uang. Jadi, untuk apa aku peduli lagi dengan mereka? Bahkan mati pun aku sudah tak mau tahu,” jelas Amartha. Matanya terlihat sudah lelah menghadapi situasi keluarganya seperti itu.
“Dulu aku berbakti dengan mereka, ku kasihi mereka sepenuh hati. Mereka punya masalah, aku bantu menyelesaikannya. Mereka tak memiliki uang untuk hidup sehari-hari, aku beri setengah penghasilanku untuk mereka. Bahkan saat papaku sering keluar masuk penjara pun aku yang membayar dendanya agar dia keluar.” Amartha berhenti sejenak sebelum melanjutkan ceritanya. Menghembuskan napas kasar yang terdengar seperti kecewa dengan sikap dan perilaku orang tuanya.
“Tapi nyatanya justru mereka memperlakukan aku seperti anak pungut dari kecil sampai dewasa. Aku pernah merasa jika bukan anak mereka, tapi aku sudah pernah diam-diam melakukan tes DNA dengan kedua orang tuaku,” lanjut Amartha menceritakan kisah hidupnya yang miris.
Delavar menatap teduh. Ternyata Amartha sudah lebih dahulu melakukan tes DNA. Dia sampai sekarang saja masih menunggu. “Lalu, apa hasilnya?”
“Aku memang anak kandung mereka,” keluh Amartha seraya menundukkan kepala. “Memangnya aku pernah berbuat salah apa dengan orang tuaku sampai perlakuan mereka seperti ini? Aku selalu berpikir tentang hal itu. Tapi tak pernah mendapatkan jawaban.”
Amartha jadi sedih lagi, dia meneteskan air mata hingga terjatuh ke pakaiannya.
Delavar mengulurkan tangan, menghapus jejak basah itu. Lalu beralih mengelus punggung tangan Amartha dengan lembut. Dia paham dengan perasaan wanita itu. “It’s okay, ada aku yang selalu peduli denganmu. Aku akan menggantikan sosok keluarga yang selalu kau harapkan,” ucapnya sangat manis. “Jika kau tak memiliki keluarga yang nyaman, mari membuat keluarga yang kau idamkan denganku,” ajaknya dengan sungguh-sungguh.
__ADS_1
Amartha menarik dua sudut bibirnya. “Beri aku waktu, aku tak ingin menikah denganmu dalam kondisi hamil anak orang lain,” jawabnya.
Delavar menganggukkan kepalanya. “Sure, aku akan menunggu sampai siap.” Jemari kekarnya mengelus pipi Amartha dengan lembut dan perasaan lega. Akhirnya ada kejelasan juga dengan hubungan mereka.
“Aku semakin tak suka dengan bayi ini setelah melihat orang yang menghamiliku. Tekadku bulat untuk mengeluarkannya. Biarkan pria keparat itu tak memiliki keturunan, sebagai balasan karena dia sembarangan menyetubuhi orang tanpa alasan,” jelas Amartha memberi tahukan kenapa dia semakin yakin dan tak goyah dengan pilihannya.
Delavar mengulas senyum samar. ‘Dia memiliki alasan, Amartha. Karena ingin balas dendam dengan aku.’ Dia hanya bisa bergumam di dalam hati saja karena takut wanitanya akan membenci atau mengurungkan niat untuk menikah dengannya.
Hati Delavar rasanya senang, Amartha mulai bisa peduli dengannya. “Tidak, aku ini petarung yang tangguh.”
“Sombong sekali,” ejek Amartha seraya bergeleng kepala.
“Tidak apa, yang penting kau suka, kan?” goda Delavar menaik turunkan alisnya.
__ADS_1
“Sedikit.”
Delavar memeluk tubuh Amartha. “Sedikit pun kalau dikumpulkan akan menjadi banyak,” bisiknya. “Terima kasih sudah bersedia membuka hati untukku.”
Kali ini Amartha membalas pelukan itu. Bibirnya membentuk senyum simpul. “Terima kasih karena sudah menunjukkan padaku jika kau memang sungguh-sungguh denganku dan tak mempermainkan aku,” balasnya.
Ehem!
“Tolong hargai yang jomblo di sini,” ucap Dariush yang menyaksikan moment romantis kembarannya.
Amartha pun otomatis mengurai pelukan itu. “Maaf.”
“Untuk apa minta maaf dengannya? Dia itu memang seperti itu.” Tangan Delavar melepaskan sebelah sendalnya dan melemparkan ke arah Dariush. “Mengganggu saja kau itu, pergi sana cari Alceena,” usirnya.
__ADS_1