I’M Not A Virgin

I’M Not A Virgin
Part 133


__ADS_3

Mobil Amartha pun diderek untuk dibawa sampai ke bengkel mobil. Dia akan mengikuti menggunakan taksi saja.


Sesampainya di bengkel yang sepertinya lumayan besar, Amartha menjelaskan keluhan mengapa bisa mogok. Dia juga mengatakan jika mobilnya sudah lama tak dipakai.


“Ini kuncinya.” Amartha memberikan benda yang tak terlalu besar itu ke mekanik yang bekerja di bengkel. “Jika sudah selesai, tolong hubungi aku,” pintanya kemudian.


“Baik.”


Amartha pun meninggalkan bengkel dan masuk ke dalam taksi yang tadi dia tumpangi.


“Ke McDonald’s yang ada di Helsinki Forum Street Level, ya.” Amartha memberikan tempat tujuannya. Dan supir segera melaju dengan kecepatan sedang.


Amartha membayar dengan uang cash setelah sampai di tujuannya. Tak lupa mengucapkan terima kasih.


Wanita itu tak mungkin hanya duduk di restoran cepat saji tanpa membeli makanan atau minuman apa pun. Sehingga Amartha mengantri untuk memesan minuman dan kentang goreng saja.

__ADS_1


Setelah mendapatkan pesanannya, Amartha mencari tempat duduk yang ada di dalam area gedung karena lebih ramai dan Christoper tak bisa berbuat macam-macam padanya.


Cukup lama Amartha menunggu Christoper datang. Tapi dia enggan untuk menghubungi lagi karena sebelumnya pun dirinya sudah mengatakan akan berangkat menuju McDonald’s.


“Si keparat itu tak on time,” gerutu Amartha saat waktu sudah lebih tiga puluh menit dari yang disepakati. “Kalau aku tidak penasaran dengan alasannya, sudah ku tinggal sekarang juga,” imbuhnya mengomel sendiri.


Makanan dan minuman yang ada di hadapan Amartha bahkan sampai sudah habis. Dia tak sabar lagi karena satu jam menunggu. “Memangnya dia siapa? Membuatku harus duduk di sini selama enam puluh menit.”


Sudahlah, memang pria keparat tak bisa dipegang omongannya. Amartha yang sudah kesal pun hendak berdiri dari tempat duduk. Tapi ada suara yang membuatnya mengurungkan niat tersebut.


Amartha menepis tangan pria itu agar tak menyentuhnya. “Singkirkan tangamu, menjijikkan!” umpatnya dengan mata melotot.


Christoper tersenyum sinis seraya duduk di hadapan Amartha. “Pembunuh memang galak,” sindirnya. “Tak ku sangka, wanita secantik dirimu bisa tega membunuh darah dagingmu sendiri.”


Amartha mengepalkan tangannya. Pria itu justru membuatnya emosi. “Wajah setengah hancur saja kau masih bisa sombong,” balasnya tak kalah sinis. “Lagi pula anakmu memang tak pantas untuk hidup ke dunia, dia akan malu memiliki orang tua seperti dirimu.”

__ADS_1


“Diam kau!” peringat Christoper dengan suara lirih tapi penuh penekanan. “Sekarang kau bisa tertawa, tapi setelah tahu jika yang membuatku menyetubuhimu karena Delavar, apa kau tetap bisa sesenang ini?” Alisnya terangkat sebelah menunggu reaksi Amartha yang sepertinya akan terguncang.


Seketika itu juga Amartha langsung berubah datar. “Apa maksudmu?” Dia belum paham dengan informasi itu. Apa hubungannya dengan calon suaminya.


Kini Christoper menertawakan Amartha. “Jadi, pria itu belum memberi tahu padamu?”


Dahi Amartha semakin mengerut, tambah bingung saja dengan akar permasalahan tersebut. “Langsung bicara pada intinya, kau tak perlu berputar-putar.”


Christoper mencolek dagu Amartha. “Oh ... rupanya kau sudah tak sabaran.”


Tentu saja Amartha langsung menepis lagi. Mengelap dagunya agar terhindar dari kuman. “Aku tak punya banyak waktu untuk mendengar bualanmu.”


Rasanya, Amartha tak siap mendengar penjelasan dari Christoper. Padahal sebelumnya sangat menggebu ingin tahu alasan pria itu. Tapi, sekarang justru takut tak bisa menerima kenyataan yang sebenarnya, jika benar peristiwa naas yang dialami adalah ulah calon suaminya.


...*****...

__ADS_1


...Kalian ini aneh, dikasih manis-manis kaya Delavar, eh yang ditanyain malah si Christoples terus wkwkwk. Ini ya bestie, bebeb kalian si Christoples udah muncul lagi hehehe, suka kan kalian ketemu bebeb keriting?...


__ADS_2