
Kapal yacht berukuran kecil milik keluarga Dominique itu sudah berhenti di tengah laut lepas. Deburan ombak terasa tenang pada malam ini. Delavar dan Dariush sudah memindahkan pak tua Max ke sana. Tapi dengan menutup mata menggunakan kain hitam dan kondisinya masih dalam posisi terikat.
“He! Kau berdusta! Kau membodohi aku! Katamu akan melepaskan tali ini dan membiarkan aku menghirup udara segar!” protes Papa Max yang saat ini bersimpuh di bagian belakang kapal.
Sedangkan Delavar dan Dariush duduk manis menatap pak tua itu seraya meminum champagne.
“Memangnya kau tak tahu jika sedang ku bawa keluar? Apa sekarang kulitmu mati rasa tak bisa merasakan hembusan angin ini?” balas Delavar dengan santai.
“Bagaimana dia bisa tahu, matanya saja tertutup,” tutur Dariush seraya terkekeh pelan. “Kau membuatnya seperti orang buta yang tak bisa melihat apa pun,” imbuhnya.
“Oh ... benar juga. Tapi sepertinya sangat seru jika kita buat dia buta sungguhan,” seloroh Delavar terdengar mengancam di telinga Papa Max.
__ADS_1
“Jangan! Kau sudah gila? Jika aku buta, bagaimana caraku mencari uang?” tolak pak tua itu yang menganggap perkataan Delavar adalah sungguhan.
“Jual saja dirimu atau organ dalammu,” cetus Delavar memberikan ide.
“Mana laku, tubuhnya sudah keriput seperti itu,” timpal Dariush semakin mengejek penampilan Papa Max.
“Benar juga. Yasudah, karena aku masih baik hati, buka penutup matanya!” titah Delavar pada pengawal dari Cosa Nostra yang sengaja diajak naik dalam satu kapal dengannya.
Kain hitam yang menutupi wajah Papa Max pun ditarik ke atas. Dan kini pak tua itu tengah mengerjapkan mata, memandang ke arah dua pria tampan yang duduk di hadapannya.
Papa Max menatap ke seluruh tempat itu. Gelap, hanya ada lampu dari kapal, tak terdengar suara mesin berbunyi. “Kenapa kau membawaku ke tengah laut?” tanyanya dengan perasaan tak enak.
__ADS_1
Delavar berdiri meninggalkan tempat duduk untuk mendekati pak tua itu. Dia tersenyum sinis. “Memandikanmu, kau belum membersihkan tubuh selama satu minggu lebih, kan?”
“Kau tidak mungkin akan membunuhku dengan menceburkan ke laut, kan?” Papa Max sudah berpikiran sangat jauh. Sebab, keluarga Dominique itu menyiksanya terus menerus.
Delavar mengedikkan bahunya. “Tergantung.” Dia memberikan kode kepada pengawal untuk membawa Papa Max ke bagian kapal paling ujung belakang yang bisa dinaik turunkan hingga menyentuh air.
“Hei! Kau mau melakukan apa lagi padaku? Apa tak cukup menyiksaku saat di gudang?” Papa Max sudah gemetaran saat kakinya sudah basah dengan air laut. Walaupun tubuhnya masih dipegangi oleh pengawal, tapi tetap saja jika dilepaskan bisa terjatuh. Apa lagi tangannya terikat, tak akan bisa berenang.
“Memandikanmu dan membuatmu menyesali semua perbuatan yang sudah kau lakukan pada Amartha,” jawab Delavar. “Sekarang!” kodenya pada pengawal.
Pengawal pun menyentuh kepala Papa Max, memaksa pak tua itu untuk masuk ke dalam air. Satu menit baru dikeluarkan.
__ADS_1
“Bah ....” Papa Max terlihat naik turun dadanya karena menahan napas. “Aku bisa mandi sendiri, untuk apa kau melakukan dengan cara seperti ini?!”
“Karena aku ingin.” Delavar melipat tangannya di dada dengan angkuh. Menatap tajam ke arah pak tua itu. “Kau tahu, akibat perbuatanmu yang menjual Amartha, wanitaku sempat terkena gangguan mental dan hampir bunuh diri,” ucapnya memberi tahu. Dia ingin melihat bagaimana reaksi Papa Max setelah mengetahui kondisi putri pak tua itu sendiri.