I’M Not A Virgin

I’M Not A Virgin
Part 172


__ADS_3

Delavar kembali lagi ke kamar dengan membawa testpack. Jangan ditanya dapat dari mana. Itu adalah kapal pesiar yang biasa dikomersilkan, sudah pasti perlengkapan dasar untuk kesehatan tersedia di sana.


“Kau sedang apa?” Saat kaki Delavar masuk ke dalam kamar, dia langsung menegur Amartha yang sedang berjongkok di lantai, dan mendekati istrinya.


Amartha mendongak menatap Delavar yang berdiri di hadapannya. “Membersihkan muntahanku.”


Delavar menyentuh pundak Amartha untuk diajak berdiri. “Tinggalkan saja, nanti aku yang akan bersihkan,” titahnya. Dia menyodorkan lima kotak berisi testpack digital yang masih baru kepada sang istri. “Kau cek saja urinenya menggunakan ini.”


Amartha menerima semuanya. “Banyak sekali?”


“Agar lebih akurat. Kalau hanya satu, bisa saja itu tak pasti. Tapi jika semuanya menunjukkan sama, berarti baru benar,” jelas Delavar seraya mengacak-acak rambut Amartha. Dia menuntun wanitanya untuk masuk ke dalam kamar mandi. “Semoga hasilnya seperti yang kita harapkan,” doanya.


Amartha mengulas senyum, tapi dada terasa berdebar karena takut prediksinya meleset. “Aku tutup pintunya, ya?” Dia hendak mendorong kayu kokoh.


“Jangan, biarkan terbuka agar aku bisa memantaumu tetap aman,” larang Delavar.


“Baiklah.” Amartha menurut saja, dia masuk ke dalam untuk menampung urine menggunakan cup yang biasa digunakan untuk mengisi air saat berkumur.

__ADS_1


Sementara itu, Delavar melihat aktivitas istrinya dari luar kamar mandi sembari membersihkan noda yang ada di lantai, tanpa merasa risi sedikit pun. Bahkan keturunan Dominique tersebut juga mengepel lantai sendiri menggunakan pel yang tadi sempat diambil oleh Amartha.


Delavar sudah selesai membersihkan lantai terlebih dahulu. Dia membiarkan ember tempat pel tetap di dalam kamarnya. Dan pria itu menyender pada kusen pintu kamar mandi untuk melihat istrinya yang sedang memasukkan testpack ke dalam cup.


“Sudah keluar hasilnya?” tanya Delavar.


“Belum, sebentar lagi,” jawab Amartha tanpa menatap lawan bicaranya. Dia fokus pada lima benda yang satu persatu sedang diuji.


Delavar hendak mengayunkan kaki mendekati wanitanya saat melihat sang istri mulai melihat hasil testpack.


“Oke.” Delavar tak jadi ke dalam. Dia menaikkan sebelah alis saat Amartha mulai mengayun keluar dengan membawa kelima testpack yang dia beri.


“Tolong mundur dua langkah,” pinta Amartha. Dan dituruti oleh Delavar.


Dengan langkah pasti, Amartha keluar dari kamar mandi. Dan wanita itu langsung melingkarkan tangan pada leher Delavar seraya menyatukan bibir keduanya.


Tangan Delavar otomatis melingkar di pinggul istrinya. Dia yakin jika akan mendapatkan berita baik karena Amartha sangat bersemangat saat menciumnya.

__ADS_1


“Sebentar lagi kau akan menjadi Daddy.” Setelah menyudahi ciuman, Amartha berbisik di telinga suaminya dengan suara yang menggoda.


“Kau serius?” tanya Delavar memastikan sekali lagi.


Kepala Amartha mengangguk cepat. Dia mengurai tangan yang berada di leher Delavar untuk menunjukkan testpack. “Hasilnya sama semua.”


Mata Delavar seketika itu langsung berkaca-kaca. Tidak tahu lagi harus berucap apa kecuali rasa syukur. Tak sia-sia setiap bulan menyintikkan hormon untuk memicu kesuburan sel telur istrinya. Uang yang sudah dia keluarkan selama ini untuk terapi Amartha ternyata ada hasilnya juga.


Delavar merendahkan tubuhnya hingga wajah sejajar dengan perut Amartha. “Anakku, akhirnya ada juga yang berhasil tumbuh.” Rasanya senang dan terharu saat bibitnya sudah tak perlu lagi dia hantarkan pergi menuju pembuangan seperti dahulu.


Delavar mengecup perut sang istri cukup lama, dan berakhir mengusap kulit yang saat dipegang memang terasa lebih kencang. “Aku kira perutmu semakin membesar karena selalu makan banyak di kapal, ternyata kau hamil.”


Amartha sampai ikut menitikan air mata saat melihat suaminya bahagia. Mengusap rambut Delavar yang masih mencium perutnya. Ternyata, kehamilan kedua jauh berbeda dari yang pertama. Kali ini dia senang dan menerima dengan suka cita. “Aku akan menjaga anak kita sampai terlahir ke dunia.”


...*****...


...Ya ampun ... aku terharu...

__ADS_1


__ADS_2