I’M Not A Virgin

I’M Not A Virgin
Part 114


__ADS_3

Amartha sampai melongo mendengar jawaban dari Delavar. Benar-benar pria itu berbeda dari saat mendekatinya. Kali ini sudah keluar sisi asli yang tak akan semua wanita ketahui bahwa seorang Delavar Doris Dominique adalah pro player dalam bersolo karir. Dan ternyata, orangnya juga mesum jika bersama wanita yang dicintai.


Delavar menyentuh dagu Amartha agar wanita itu mengatupkan bibir. “Jangan kaget, aku ini tak suka sembarangan menyalurkan hasrat pada orang lain, maka lebih baik bermain sendiri,” jelasnya.


“Dan aku bekas jamahan pria lain, apa kau tak masalah akan hal itu?” balas Amartha dengan mengajukan pertanyaan.


“Memangnya kenapa? Kalau mencintai seseorang, maka harus bisa menerima bagaimanapun masa lalunya, bukan?” Delavar mengecup pelipis Amartha dan menuntun wanita itu untuk duduk di kursi panjang yang ada di hadapan sebuah piano besar berwarna hitam.


“Biasanya wanita paling suka bermain piano,” tutur Delavar seraya membuka penutup tuts alat musik tersebut. “Kau mau aku ajarkan memainkan ini?” tanyanya saat kedua pasang mata itu saling bersitatap. “Atau ku ajarkan memainkan alat yang sering aku mainkan?” Dia menawarkan hal lain dengan seringai jahilnya yang diiringi alis naik turun.


Amartha mencubit gemas lengan Delavar. “Ada-ada saja kau itu. Kalau alatmu yang itu tak bisa menghasilkan bunyi.” Kepalanya menyender pada bahu kokoh sang pria yang mulai menyentuh tuts piano.

__ADS_1


“Bisa, kata siapa alatku yang itu tak menghasilkan bunyi,” timpal Delavar diiringi suara piano yang mengalun lembut di telinga.


“Memang apa bunyinya?” celetuk Amartha. Membuat Delavar menghentikan jemari.


“Kau sungguh ingin tahu bunyinya?”


“Tidak, aku hanya penasaran saja karena setahuku tak ada anggota tubuh kita yang bisa menghasilkan suara kecuali mulut, tangan yang bertepuk, dan kaki menghentak.”


“Seperti apa bunyinya?” Amartha menaikkan sebelah alisnya.


Sedangkan Delavar melepaskan jaket yang membalut tubuhnya dan menyisakan kaus. “Kalau itu, kita harus mempraktikkannya secara langsung. Pasti kau akan tahu suara seperti apa yang dihasilkan dari percintaan kita dan tentunya diiringi alunan erotis dari bibir manis ini,” bisiknya dengan menunjuk bibir Amartha.

__ADS_1


“Astaga ... ku kira bunyi yang dihasilkan akan seperti alat musik, ternyata suara erotis.” Amartha bergeleng kepala, dan tangan dengan jemari lentik itu mengusap wajah Delavar. “Hilangkan pikiran mesummu itu.”


Delavar terkekeh gemas dengan reaksi Amartha. “Tenang, nanti kau akan mendengar suara yang lebih merdu dibandingkan alat musik ini jika kita sudah menikah,” bisiknya tepat di telinga sang wanita.


Amartha lagi-lagi mencubit Delavar. “Sudah, Delavar. Katanya mau mengajariku bermain piano. Tapi, dari tadi justru menggodaku terus.” Wanita berparas cantik itu mengarahkan tangan sang pria agar kembali menyentuh tuts piano.


“Menggoda calon istri sendiri tak masalah, kan? Yang dilarang itu, kalau aku menggoda wanita lain.” Banyak juga alasan Delavar ini. Setelah mengucapkan kalimat tersebut, dia mengecup pipi Amartha.


Dan Delavar membimbing sang wanita untuk ikut memainkan piano itu.


Selama tiga jam, Delavar dan Amartha menghabiskan waktu di ruang musik. Hingga waktu menunjukkan makan siang.

__ADS_1


“Ayo kita turun, besok lagi bermain pianonya. Kau cepat sekali belajar, dan pasti akan lekas paham juga memainkan alatku yang lain,” kelakar Delavar seraya mengulurkan tangan untuk membantu Amartha berdiri.


__ADS_2