
Bukan hanya Delavar yang terlelap, tapi Amartha pun juga ikut merajut mimpi karena terlalu nyaman berada di pelukan orang terkasih. Sampai waktu pun tak terasa terus bergulir. Bahkan melebihi dari jam seharusnya mereka pergi ke butik.
Ketukan pintu yang sangat kencang pun memenuhi kamar Delavar. Membuat Amartha melenguh dan mengucek mata. “Jam berapa ini?” gumamnya seraya melihat jam digital yang ada di atas nakas. “Astaga ... sudah jam sepuluh.”
“Delavar, Amartha, bangun! Kalian harus segera pergi ke butik!” teriak Mommy Diora yang berada di balik pintu.
Amartha mencoba mengurai tangan calon suaminya yang lemas. Dan membukakan pintu untuk mertuanya. “Ya, Mom.”
Mommy Diora menengok ke dalam kamar, melihat putranya yang masih nyenyak. “Kalian berdua tidur?”
“Iya, Delavar tidak tidur selama satu hari,” beri tahu Amartha.
“Oh, yasudah, biarkan dia tidur dulu kalau begitu. Tapi jangan lupa kabari pihak butik jika kalian terlambat untuk fitting gaun,” titah Mommy Diora seraya mengelus lengan calon menantunya. “Lanjut saja, temani Delavar tidur. Kasian, dia pasti lelah.”
Amartha pun menutup pintunya lagi setelah Mommy Diora berpamitan untuk ke bawah. Sementara dirinya kembali tidur di samping Delavar.
Mata Amartha lekat mengamati wajah calon suaminya dengan jarak dekat. Jemari lentik itu menelusuri setiap pahatan yang tercetak begitu indah. “Kenapa bisa tak tidur seharian? Apa kau sangat gila kerja sampai lupa waktu?” gumamnya merasa sedih dan khawatir dengan kondisi Delavar jika terus menerus memiliki pola istirahat yang tak teratur.
__ADS_1
“Selama kau pergi, aku merindukan ini.” Amartha beralih mengusap bibir yang tak tipis namun candu baginya itu.
“Ciumlah jika kau merindukan bibirku,” celetuk Delavar. Dia tidak membuka mata, namun tangan bisa merengkuh wanitanya.
“Kau sudah bangun?”
“Hm ... sedari Mommyku mengetuk pintu keras sekali, tapi aku malas membukanya.” Delavar membuka mata hingga keduanya bersitatap. “Cium aku, kau belum membayar karena kakiku tak bau.” Masih ingat saja pria itu.
Jika orang lain biasanya memeras uang, lain dengan Delavar yang memeras ciuman.
“Sekarang saja, kalau nanti sore takutnya Dariush ingin ikut dan pasti akan mengganggu.” Delavar harus menghindari keisengan kembarannya yang bisa kapan saja terjadi tak mengenal waktu dan tempat.
“Kau mandilah dulu,” titah Amartha seraya menarik tangan Delavar agar bangun.
“Mandikan,” pinta Delavar dengan merengek seperti anak kecil.
“Nanti lama jika ku mandikan, pasti kau akan iseng,” tolak Amartha mencubit gemas hidung sang pria.
__ADS_1
Delavar tersenyum menunjukkan rentetan gigi putih. “Tau saja kau.”
“Kalau masih mau tiduran, aku mandi terlebih dahulu. Nanti kau setelahku.”
“Hm ... kau dulu saja.” Delavar mengibaskan tangan agar Amartha masuk ke dalam kamar mandi yang ada di walk in closet.
“Oke.” Amartha pun turun dari kasur dan mengayunkan kaki.
Delavar mengulas senyum iblis saat melihat calon istrinya sudah ke dalam ruangan lain. Dan diam-diam dia segera menyusul.
Pria itu terkikik pelan membayangkan reaksi Amartha jika tahu tiba-tiba dia masuk ke dalam kamar mandi.
“Ada gunanya juga pintu sengaja tak bisa dikunci.” Suara gemercik air dari shower menyamarkan bunyi kaca yang Delavar dorong. Matanya bisa melihat tubuh Amartha yang polos tanpa sehelai benang pun.
...*****...
...Delavar ngeri juga itu kalo udah kerasukan setan mesum wkwkwk....
__ADS_1