I’M Not A Virgin

I’M Not A Virgin
Part 105


__ADS_3

“Ini sudah malam, Amartha. Tak ada toko yang menjual kamera pengintai kecil masih buka jam segini,” jelas Delavar dengan tangannya mengusap ujung kepala sang wanita.


Amartha memiringkan duduknya agar menghadap ke Delavar. “Bagaimana kalau kita berikan secara langsung saja? Aku ingin melihat ekspresi si keparat itu.” Dia mencoba menawarkan ide lain.


Delavar menginjak rem saat sampai di lampu merah. Menghiasi kornea matanya dengan seseorang yang duduk di sampingnya. “Kita cari kamera pengintai saja,” finalnya. Dia tak mau Amartha bertemu dengan Christoper. Pria itu tak bisa dipercaya untuk mengontrol mulutnya, bisa saja mengatakan alasan mengapa menghamili Amartha, dan hal itu tidak boleh terjadi sebelum pernikahan berlangsung.


Amartha mengernyit heran. “Katamu tak ada yang buka karena sudah malam.”


“Biar salah satu pegawaiku yang mencarikan,” balas Delavar beralasan. Dia menepikan mobil untuk menghubungi Roxy.


“Ya, Tuan?” sapa Roxy yang saat ini berada di markas Cosa Nostra karena memang tinggal di sana.


“Tolong carikan kamera pengintai kecil yang bisa dihubungkan ke ponsel!” titah Delavar langsung pada intinya.


“Sekarang?”


“Ya!”


“Apakah harus baru?”


“Tidak, yang terpenting bisa dipakai.”

__ADS_1


Roxy memang seperti itu, harus menanyakan rincian permintaan tuannya agar tak salah saat menjalankan tugas. “Di markas ada banyak, Tuan. Kalau mau bisa saya antar.”


“Oke, kita bertemu di pusat kota. Sekarang!”


“Baik, Tuan.”


Panggilan kedua pria itu pun diputuskan sepihak oleh Delavar. Meletakkan kembali ponselnya ke dashboard.


“Sudah dapat?” tanya Amartha yang saat ini melihat Delavar melajukan kendaraan lagi.


“Sudah, ini mau diambil,” jawab Delavar, dan setelahnya dua sudut bibir itu terangkat membentuk senyum simpul.


“Kita tak turun?” Amartha bertanya lagi karena sedari tadi hanya diam saja di dalam mobil.


“Tidak perlu, Cantik. Nanti pegawaiku datang ke sini, dia sudah hapal dengan mobilku,” jelas Delavar dengan tangannya mengelus pipi halus Amartha.


“Apa itu orang yang kau maksud?” Amartha menunjuk seorang pria dengan setelan serba hitam dan berwajah datar sedang berjalan ke arah mobil yang ditumpanginya.


“Benar sekali, seratus untukmu. Karena kau sudah berhasil mengenali wajah salah satu orangku, maka malam ini akan aku berikan hadiah untukmu,” seloroh Delavar dengan wajahnya yang tercetak jelas jika menginginkan sesuatu.


Amartha menaikkan sebelah alis. “Hadiah apa?”

__ADS_1


“Seribu ciuman untukmu.”


Seketika Amartha langsung melongo, hadiah macam apa itu. “Aku ingin tidur dipeluk saja, tidak mau dicium banyak-banyak. Lagi pula masih punya hutang sembilan puluh ciuman juga. Bisa-bisa kita semalaman tak tidur karena berciuman terus,” tolak Amartha dengan menjelaskan alasannya.


“Polos?” Delavar mengulurkan tangannya untuk melakukan kesepakatan lagi.


“Maksudnya?” Amartha tak paham dengan permintaan Delavar.


“Tanpa pakaian, kita berdua. Bagaimana? Deal?”


Amartha masih menimbang keputusannya, memang sudah satu minggu ini mereka tidur satu kamar. Hanya saja masih menggunakan pakaian lengkap.


Tok ... tok ... tok ...


Amartha belum memberikan jawaban. Tapi bunyi kaca yang diketuk dari luar membuat Delavar berdecak.


“Roxy ini mengganggu saja,” gerutu Delavar. Tangannya memberikan isyarat agar Roxy menunggu sebentar.


“Bukakan dulu itu, kasian dia sudah menunggu,” pinta Amartha mengalihkan pembicaraan.


“Aku akan menurunkan kacanya setelah kau menyepakati permintaanku.” Setiap ada kesempatan, maka harus dimanfaatkan. Itulah Delavar.

__ADS_1


__ADS_2