
“Obsesimu sudah terlewat batas, Jessy.” Christoper bergeleng kepala. Dia baru sadar jika semua itu adalah kesalahannya yang terlalu memanjakan sang adik.
“Aku cinta dengan Delavar, Chris! Bukan obsesi!” tampik Jessy.
Christoper menggendong tubuh Jessy tanpa izin. Dia mengayunkan kaki menuju keluar mansion.
“Kau mau bawa aku ke mana?” tanya Jessy seraya tangan mencoba memukuli dada Christoper.
“Rehabilitasi, obsesimu sudah mulai tak wajar. Aku takut jika hal itu akan membahayakan nyawamu,” jawab Christoper dengan jujur.
Christoper akan membawa adiknya ke rumah sakit jiwa agar ditangani oleh psikiater. Entah itu keputusan yang tepat atau tidak, tapi dia tak bisa membiarkan Jessy seperti itu terus. Hidup dibayang-bayangi obsesi yang tak mungkin bisa tergapai. Bahkan akan bunuh diri.
Christoper tak masalah sudah tidak bisa memiliki anak, walaupun tetap saja ada perasaan sedih. Tapi, hidup sebatang kara pun lebih sulit lagi.
__ADS_1
...........
Kerikil demi kerikil penghalang jalan menuju pernikahan dan kehidupan yang bahagia pun sudah teratasi. Delavar tidak akan dibayang-bayangi akan ada masalah lagi.
Hari yang paling ditunggu oleh seorang Delavar Doris Dominique akhirnya tiba juga. Seluruh keluarganya sudah menanti di Helsinki Cathedral untuk menjadi saksi saat sakramen berlangsung. Tidak banyak yang diizinkan hadir saat acara sakral itu. Hanya orang-orang terdekat saja.
Tidak ada dekorasi megah di tempat ibadah yang suci itu. Delavar ingin suasana biasa saja, seperti saat setiap minggu dia datang ke sana.
Amartha sudah siap dengan gaun berwarna putih yang ekornya menjuntai hingga ke lantai, dan Delavar pun telah rapi menggunakan setelan jas berwarna hitam. Keduanya saat ini berada di dalam ruangan yang sama.
Amartha menganggukkan kepala. “Dengan senang hati, Sayang.” Dia menyatukan tangan dengan Delavar, berdiri di samping sosok gagah yang selalu menerangi hidupnya yang gelap.
Dengan ulasan senyum yang tak pudar, Delavar dan Amartha mengayunkan kaki dengan irama sama. Berjalan di tengah-tengah antar kursi.
__ADS_1
Kedatangan kedua mempelai itu membuat semua orang yang ada di sana mengalihkan pandangan ke Delavar dan Amartha. Semua turut bahagia, tidak ada yang bersedih kecuali Dariush karena ditinggal jomblo sendiri oleh ketiga kembarannya.
Sepasang calon pengantin itu berhenti tepat di hadapan Pastor yang akan membantu jalannya sakramen. Keduanya diberikan pertanyaan atas kesiapan untuk kehidupan ke depannya dalam berumah tangga. Barulah tangan Delavar dan Amartha dipersatukan di atas kitab suci.
Dua mempelai itu tidak berhadapan. Namun fokus pada Pastor yang merupakan Imam mereka.
“Maka tibalah saatnya untuk meresmikan pernikahan saudara. Saya persilahkan untuk masing-masing mengucapkan janji nikah di bawah sumpah,” ucap Pastor tersebut.
Delavar mengucapkan janjinya terlebih dahulu. Tangan masih berada di atas kitab suci. “Di hadapan imam dan para saksi, saya, Delavar Doris Dominique, menyatakan dengan tulus ikhlas, bahwa mulai sekarang, Amartha Debora yang hadir di sini menjadi istri saya. Saya berhutang setia kepadanya dalam senang dan sedih, kaya maupun miskin, mencintai dan menghormatinya seumur hidup. Demikian janji saya pada Tuhan dan Injil suci ini.”
Setelah selesai berjanji, Delavar meneteskan air mata bahagia. Amartha pun sama, setelah mengucapkan janji, pipi langsung basah akibat bulir bening lolos dari balik kelopak mata.
...*****...
__ADS_1
...Wey ... akhirnya nikah juga. Jangan lupa dateng ke resepsi mereka ya. Kalo undangannya aja pake bahannya emas 30 gram dan serpihan berlian, berarti amplopannya sertifikat tanahlah paling enggak wkwkwkwk....