
“Sudahlah, ayo kita ke tempat pesta. Jangan bercanda di tempat ibadah,” ajak Dariush. Dia berbalik badan dan mengayunkan kaki terlebih dahulu menuju luar. Diikuti oleh seluruh orang yang ada di sana.
Saat mereka jalan berurutan, tiba-tiba ada seorang wanita paruh baya yang masuk dengan napas yang terengah-engah. “Pernikahannya sudah selesai?” tanya Mama Lylac.
“Sudah, kau terlambat. Jelas di undanganmu aku tulis bahwa sakramen pernikahanku dan anakmu, jam delapan pagi,” jawab Delavar dengan sinis. Walaupun dia tidak suka dengan orang tua istrinya yang satu itu. Tapi ini hari bahagia Amartha, yang seharusnya sebagai seorang Mama pun mendukung dan ikut senang.
“Aku menunggu jemputan dari keluarga Dominique, tapi tidak ada mobil bagus satu pun yang datang ke rumahku,” balas Mama Lylac.
Mereka kembali mengayunkan kaki untuk menuju tempat parkir. Namun, saat Delavar melewati Mama Lylac, dia berhenti sejenak dan berbicara dengan wanita itu. “Kau tidak membaca perjanjian kita? Tidak ada hak istimewa apa pun yang akan kau dapat dari keluarga Dominique,” beritahunya.
Selepas itu, Delavar pun menyusul saudaranya keluar.
“What?” pekik Mama Lylac, wajahnya sangat terkejut. Dia memang malas membaca perjanjian yang berisi banyak tulisan. “Lalu, apa gunanya anakku menikah dengan keluarga kaya?” gumamnya dengan hati yang dongkol.
“Kalau kau mau di situ terus dan tidak ingin ke lokasi pesta, aku tinggal!” teriak Delavar dari luar.
“Tunggu, aku ikut.” Mama Lylac yang memakai heels dengan hak lima belas centimeter pun berlari untuk menyusul.
__ADS_1
Wanita paruh baya itu berhenti di tempat parkir dan menatap seluruh orang yang ada di sana. Berdiri di samping mobil mewah. “Aku naik yang mana?”
“Aku tidak mau memberikan tumpangan denganmu.” Dariush segera masuk ke dalam mobilnya sendiri yang sudah memberikan tumpangan pada sepupunya, Gerald dan Geraldine.
“Aku juga tidak.” Begitu pun dengan Deavenny.
“Yang jelas, bukan masuk ke mobil pengantin,” tutur Delavar seraya mengajak Amartha duduk di kursi belakang.
George dan Gabby tentu saja menolak memberikan tumpangan. Keluarga yang berhati sedingin Antartika itu tidak mungkin baik dengan orang seperti Mama Lylac.
“Ti—” Daddy Davis dan Danesh hendak menolak. Tapi kaki sudah diinjak oleh istri mereka.
“Silahkan, kau bisa duduk di samping supir,” jawab Felly.
“Di mobilku saja yang lega, mereka membawa dua anak,” timpal Mommy Diora.
Dua wanita itu memang terlalu baik. Orang jahat pun selalu dia maafkan.
__ADS_1
“Oke, yang mana mobilmu?” tanya Mama Lylac pada besannya.
“Ini.” Mommy Diora menunjuk mobil Rolls Royce Boat Tail.
Mama Lylac langsung takjub dengan mobil yang pasti berharga mahal itu. Sebelum masuk mengikuti besannya. Dia mengelus rangka kendaraan tersebut terlebih dahulu.
Daddy Davis menurunkan kaca mobilnya. “Jika tidak segera masuk, ku tinggal kau!” ancamnya yang tak sabaran.
“Oke-oke.” Mama Lylac pun segera duduk di samping supir.
Dan mereka bersamaan pergi ke tempat pesta yang tak lain adalah kapal pesiar dengan kapasitas mencapai enam ribu orang. Delavar tidak menyewa, tapi memakai milik keluarganya yang dikomersilkan jika saat hari biasa. Otak pebisnis memang lain. Tidak ada aset yang menganggur, semua dioperasikan untuk memberikan penghasilan.
Sudah banyak tamu undangan yang hadir di sana. Dekorasi pun sangat megah, untuk makanan jangan ditanya lagi. Delavar sampai membawa chef khusus untuk setiap hidangan yang disajikan.
...*****...
...Jangan lupa kondangannya bawa kresek buat nampung makanan dari sana wkwkwk....
__ADS_1