I’M Not A Virgin

I’M Not A Virgin
Part 137


__ADS_3

Mommy Diora mendengar cerita calon menantunya dengan tenang. “Jadi, sekarang kau sedang bingung ingin melanjutkan pernikahan atau tidak?”


Amartha menjawab dengan anggukan. “Apakah semua yang dikatakan oleh Christoper itu benar? Menurut Mommy, apakah Delavar adalah seseorang yang jahat?”


Wanita yang sudah melahirkan empat anak kembar untuk keturunan Tuan Dominique itu tentu saja mengulas senyum yang membuat Amartha semakin tak paham. “Menurutmu, apakah Delavar seperti yang kau pikirkan?”


Mommy Diora bukan tak ingin memberikan penilaian atau pembelaan pada anaknya. Tapi ini adalah masalah kepercayaan antar calon pengantin. Bagaimana tombok pernikahan anaknya bisa kokoh jika keduanya tidak percaya satu sama lain.


Amartha terdiam. Dia ke sana karena ingin mendengar dari calon mertuanya, seperti apakah Delavar itu? Tapi yang ada, justru harus berpikir sendiri.


Dan kedikan bahu pun sebagai jawaban dari Amartha karena dia sendiri bingung. Delavar memang sadis, dia melihat bagaimana pria itu menguliti Christoper. Tapi Amartha tak tahu jika pria keparat memiliki dendam akibat calon suaminya yang membuat adik si keriting sampai tak bisa berjalan.


Mommy Diora membuka folder foto di MacBook. “Sini, duduk di sebelahku,” pintanya agar Amartha berpindah.

__ADS_1


Amartha tentu saja menurut. Dia ikut melihat ke arah layar saat diperintahkan oleh Mommy Diora.


“Ini adalah teman sekolah Deavenny saat kecil,” tutur Mommy Diora memperlihatkan seorang anak laki-laki yang wajah sudah babak belur dan masuk rumah sakit.


“Dia kenapa?” Amartha penasaran.


“Dihajar oleh Delavar, Danesh, dan Dariush.”


“Kenapa keluarga Dominique melakukan itu semua?” tanya Amartha lagi. Pasti ada penyebab dari perilaku sadis tersebut.


“Foto pertama karena saat kecil Deavenny pernah didorong oleh temannya hingga terjatuh dari tangga. Kedua, karena dahulu Danesh pernah diperlakukan tak baik oleh keluarga istrinya dan hampir dibunuh. Dan foto-foto yang lain karena mereka semua mencari masalah dengan keluargaku,” jelas Mommy Diora seraya menatap teduh pada calon menantunya yang masih terlihat bingung.


Amartha terdiam untuk mencerna semua informasi tersebut.

__ADS_1


Sedangkan Mommy Diora tak akan menggiring Amartha untuk satu pemahaman dengannya. Dia membiarkan wanita muda itu berpikir sendiri dan paham dengan cara main keluarganya setelah diceritakan secuil aksi sadis anak-anak dan suaminya.


“Jadi, apa yang harus aku lakukan, Mom? Aku bingung harus bagaimana dengan Delavar,” keluh Amartha seraya menyandarkan badannya di kursi.


Tangan Mommy Diora mengelus puncak kepala Amartha penuh kasih. “Kau sudah beberapa minggu tinggal bersama putraku, seharusnya bisa menilai bagaimana sifatnya.”


Hembusan napas kasar keluar dari bibir Amartha. “Bagaimana jika benar Delavar membuat seseorang menjadi tak bisa jalan? Bukankah itu keterlaluan?”


Mommy Diora hanya tersenyum dan bergeleng kepala pelan karena melihat Amartha yang masih belum yakin dengan putranya. “Kau tanyakan jawaban pertanyaan itu pada hatimu. Ikuti perasaanmu sendiri karena yang menjalani kehidupan dengan putraku nantinya adalah kau.” Tangannya menyentuh dada calon menantunya.


Amartha terdiam untuk mencari jawaban sendiri.


“Landasan untuk hubungan yang kokoh adalah kepercayaan dan saling terbuka, Amartha. Bukan hanya buka-bukaan pakaian saja, tapi semua masalah yang kalian berdua hadapi,” cicit Mommy Diora saat kembali berkutat mendesain sebuah bangunan.

__ADS_1


__ADS_2