
Amartha pun akhirnya bisa membaluri tubuh Delavar dengan busa. Namun, dia bingung sendiri untuk menyentuh bagian di sela pangkal paha yang sedang memanjang.
“Kau tidak mau menidurkan itu?” tanya Amartha seraya menunjuk area bawah calon suaminya.
Delavar terkekeh dan melabuhkan tangan kiri ke pantat Amartha. Dia menarik tubuh wanita itu hingga menempel tanpa jarak dengannya. Tak lupa menghidupkan shower untuk menghilangkan busa di tubuh. “Kau mau membantu menidurkannya?”
“No, ini sudah siang,” tolak Amartha seraya mendorong dada calon suaminya.
Delavar mendesah kecewa. “Sebentar saja, Sayang. Aku janji tak akan lama.” Dia merengek mencoba meyakinkan.
“No, tadi saja kau bilang mandi tak akan lama, nyatanya lama sekali.”
Kedua tangan Delavar mengatup. Dia memohon dengan sungguh-sungguh. “Tolong kasihanilah aku, Sayang. Seumur hidupku bermain sendiri terus.”
Amartha memutar bola mata seolah sedang berpikir. “Baiklah, tapi kau harus memunggungiku,” pintanya. Namun kedua tangan dengan jemari lentik itu sudah memegang lengan Delavar dan mengarahkan pria itu untuk menatap tembok.
__ADS_1
“Tunggu sebentar, aku harus menyiapkan hati terlebih dahulu,” ucap Amartha seraya mengelus punggung Delavar sekilas.
“Oke, aku sudah siap.” Delavar tersenyum dan tak sabar akan dituntaskan oleh calon istrinya.
Namun, sudah beberapa saat menunggu, Delavar tak segera merasakan ada tangan atau tubuh wanitanya bersemayam pada bagian sela pangkal paha yang masih tegak.
“Sayang, kenapa lama sekali?” tanya Delavar.
Amartha ternyata diam-diam menjauh dan memakai handuk kimono. Saat sudah di dekat pintu, barulah dia membalas ucapan calon suaminya. “Selamat berjuang sendiri, Sayang. Aku takut selesainya akan lama. Nanti jika sudah menikah, baru ku bantu,” cicitnya.
Amartha mengulas senyum dan tangan kiri terangkat membentuk simbol peace. “Dah ....” Tubuhnya pun keluar kamar mandi dan menutup pintu kaca tersebut.
Delavar mengacak-acak rambut dengan kasar. “Gagal lagi,” keluhnya. Dan pada akhirnya masih harus berjuang dengan tangan sendiri.
Setelah Delavar selesai mandi, dia sudah melihat Amartha berpakaian rapi. Tubuh pria itu masih terbalut handuk yang melilit di pinggang ke bawah, membiarkan daerah atas terekspose.
__ADS_1
Kaki Delavar mengayun mendekati calon istrinya yang masih berada di area walk in closet. Meremas pantat wanita itu yang seperti sedang mencarikan pakaian untuk dia. “Kau curang sekali, Sayang.”
Amartha hanya mengulas senyum dengan sederet gigi yang terlihat. Dia membalikkan tubuh dan memberikan hanger berisi setelan rapi. Kemeja putih dan celana kain berwarna abu-abu gelap. “Pakai ini saja, warna pakaian kita senada, biar seperti couple.”
“Kita memang pasangan, Sayang. Tanpa memakai yang senada pun orang-orang pasti tahu,” balas Delavar tapi belum mengambil alih pakaiannya.
“Agar terlihat romantis.”
“Kalau ingin romantis, kau seharusnya yang memakaikan itu padaku,” pinta Delavar dengan alisnya yang naik turun.
“No, nanti kejadian seperti tadi.” Amartha meraih tangan Delavar dan memberikan setelan kain ke calon suaminya.
“Ganti sendiri, nanti kalau kita tak ada agenda dan sedang luang, baru boleh melakukan yang kau inginkan. Karena sudah pasti akan menghabiskan waktu yang lama,” ucap Amartha.
Membuat Delavar menarik dua sudut bibir. “Ku pegang omonganmu itu. Awas kalau kau sampai mengelak saat malam pertama kita setelah menikah.”
__ADS_1