I’M Not A Virgin

I’M Not A Virgin
Part 87


__ADS_3

Delavar akhirnya bisa merasakan denyut nadi pak tua itu, walaupun sangat lemah. “Dia masih hidup,” ucapnya.


Membuat Dariush menghela napasnya sebal. “Yah ... penonton kecewa,” kelakarnya seraya menyugar rambut ke belakang.


“Coba kau keluarkan air yang tak sengaja masuk ke dalam tubuhnya!” titah Delavar pada pengawal yang tadi menyelam menyelamatkan Papa Max.


Pengawal itu menekan bagian dada tawanan sang tuan. Cukup lama, tapi tak juga pak tua itu terbatuk seraya mengeluarkan air dari dalam mulut seperti di film.


“Kau beri dia napas buatan, kalau hanya seperti itu dia tak mau bangun.” Delavar memberikan perintah lagi pada pengawal untuk melakukan hal lain.


Pengawal itu berdeham. Buset, memberi napas buatan pada tawanan tuannya yang tidak mandi selama lebih dari satu minggu? Oh sungguh apes sekali dirinya. “Baik, Tuan.” Dengan berat hati, dia pun membuka mulut pak tua itu dan menyalurkan napasnya.


Namun, sedetik kemudian ...


“Hoek ....” Pengawal itu justru muntah ke laut karena tak tahan dengan bau mulut Papa Max. Sial! Benar-benar aroma sampah. “Maaf, Tuan. Saya tidak kuat. Tawanan Anda terlalu jorok,” ucapnya merasa bersalah tak berhasil melakukan tugasnya.

__ADS_1


Dariush tertawa terbahak-bahak melihat pengawal dari Cosa Nostra itu mual. “Astaga ... minggir kalian, biar aku yang membangunkan dia,” usirnya seraya mengibaskan tangan.


Delavar dan satu pengawal itu memberikan jalan agar Dariush bisa mendekati Papa Max. Keduanya menanti ingin melihat cara apa yang akan dilakukan oleh anak kedua keluarga Dominique itu.


“Begini cara membuatnya bangun,” tutur Dariush seraya menaikkan kaki kanan ke atas. Dan sedetik kemudian telapaknya menginjak dada Papa Max dengan kencang.


“Uhuk ... uhuk ....” Pak tua itu terbatuk dengan air yang keluar dari mulutnya. Dia mengerjapkan mata, sayup-sayup melihat bayangan dua orang. “Apakah mereka malaikat pencabut nyawa?” gumamnya.


“Ya, kalau aku memang malaikat pencabut nyawamu. Tapi sayangnya, ada iblis yang belum mengizinkanmu untuk mati,” seloroh Dariush seraya melirik ke arah Delavar. Alisnya disentakkan ke atas dan tersenyum kepada kembarannya. “Bagaimana? Berhasil bukan caraku?”


“Jadi ini mau kau apakan setelah sadar?” tanya Dariush seraya kembali ke posisi di samping Delavar.


“Melepaskan talinya, aku sudah berjanji pada pak tua itu untuk mengurai ikatannya dan membiarkannya menghirup udara bebas,” jelas Delavar.


Membuat Dariush melongo. “Jadi susah payah kau menyelamatkannya dan aku membangunkannya hanya untuk dibebaskan?”

__ADS_1


“Hm ....” Delavar menaikkan kedua alisnya sangat santai.


Namun berbeda dengan Dariush yang mengepalkan tangan. “Jika tahu seperti itu akan ku biarkan dia mati tenggelam,” sebalnya.


Delavar menepuk pundak Dariush seraya mengajak kembarannya untuk berpindah ke bagian atas. “Ini adalah penyiksaan yang sesungguhnya,” bisiknya.


“Apa?” tanya Dariush yang bingung dan mereka tak berkoordinasi terlebih dahulu untuk menyusun rencananya.


Delavar melompat ke arah kapal yacht yang baru saja sampai di sana dan berhenti tepat di sebelah tempat penyiksaan Papa Max. Otomatis Dariush pun mengikutinya.


“Lakukan tugasmu, kawan!” teriak Delavar pada pengawal yang dia tinggalkan untuk mengurai tali yang menjerat pak tua Max.


Dariush menatap Delavar dengan tatapan bingung. “Kau meninggalkannya di kapal milik keluarga kita? Dan juga membebaskannya?”


“Aku tak membebaskan dia, ini bagian inti penyiksaannya. Diasingkan.”

__ADS_1


“Bagaimana kalau dia kabur menggunakan kapal itu? Kau bodoh atau bagaimana?”


__ADS_2