
Untung saja keluarga Dominique itu darahnya sangat kental satu sama lain. Jadi sudah biasa menghadapi kelakuan antar saudara sendiri.
Delavar hanya menyengir seraya mengusap kepalanya yang tadi mendapatkan geplakan. Sudahlah, berhenti bermain-main. Kini saatnya serius.
Deheman keluar dari bibir Delavar. “Aku mau bertanya pada kalian. Ini penting, serius, dan mendesak,” ucapnya.
Mommy Diora menaikkan sebelah alisnya. “Apa? Tumben sekali kau mau serius disaat bersama kami.”
“Adakah dari kalian yang tahu tempat untuk aborsi? Tapi dokternya harus terpercaya,” ucap Delavar menatap satu persatu anggota keluarganya.
Kening ketiganya mengkerut. “Kenapa mendadak sekali kau menanyakan dokter untuk aborsi, memangnya siapa yang mau melakukan itu?” tanya Danesh, serta Tuan dan Nyonya Dominique.
__ADS_1
“Amartha, aku akan membawanya untuk aborsi,” jawab Delavar santai seolah hal itu bukanlah beban bagi dirinya.
“Apa kau tak mau menerima anaknya? Jika kau mencintainya, kau harus mau dengan yang ada di dalam kandungannya juga.” Danesh justru mengomel, dia tak setuju jika harus melenyapkan janin Amartha.
Delavar berdecak. “Bukan aku yang menginginkan aborsi, tapi Amartha sendiri. Berkali-kali sudah ku katakan padanya kalau aku menerima anak itu, tapi dia tetap keras kepala ingin menggugurkan janinnya,” jelasnya seraya memasukkan camilan ke dalam mulut.
“Mommy tidak setuju, jangan sampai kalian melakukan itu.” Mommy Diora pun angkat suara.
“Kau harus membantu memberikan pengertian pada Amartha. Banyak wanita di luar sana yang menginginkan anak tapi belum diberi sampai sekarang. Walaupun Amartha hamil dengan cara yang salah, tapi anak itu tidak berdosa,” pinta Mommy Diora seraya mengelus permukaan tangan putranya.
“Bagaimana kalau Amartha tetap ingin aborsi? Apa aku harus terus mencegahnya?” tanya Delavar seraya matanya menatap ke seluruh anggota keluarganya itu.
__ADS_1
Danesh, Daddy Davis, dan Mommy Diora mengangguk bersamaan. Kompak sekali mereka dan pemikirannya juga sama.
Delavar menyangga dagunya menggunakan tangan yang bertumpu di meja. “Why? Coba beri aku satu alasan yang benar-benar bisa menguatkan Amartha untuk mau mempertahankan janinnya? Tolong pikirkan juga kenapa dia bisa sampai hamil seperti sekarang.” Wajahnya nampak dingin. Kali ini dia tak sepemikiran dengan anggota keluarganya.
“Simple, karena anak adalah anugerah dari Tuhan dan harus dikasihi,” ucap ketiganya bersamaan.
Delavar justru terkekeh mendengar jawaban keluarganya. “Anugerah kata kalian?” Dia tersenyum miring seolah miris dan tak setuju. “Jangan pernah mengatakan pada wanita yang hamil dari hasil korban pelecehan seksual itu adalah anugerah dari Tuhan!” Untuk pertama kalinya, dia berbicara dengan nada tinggi pada keluarganya sendiri.
“Mereka, korban pelecehan! Tolong digaris bawahi itu! Dia, Amartha adalah salah satunya. Sampai kapanpun, mereka tak akan pernah bisa beranggapan jika anak yang dikandung adalah anugerah, yang ada dalam pikiran mereka hanya ketidak adilan dunia!” Delavar berseru dengan lantang seraya menunjuk area dalam mansion di mana wanitanya berada. Matanya terlihat begitu marah.
Mommy Diora menyentuh permukaan tangan putranya untuk menenangkan emosi Delavar. “Pasti ada risiko jika melakukan aborsi, dan mommy tidak mau hal itu terjadi pada Amartha.”
__ADS_1
“Tapi, Mom. Mommy lihat sendiri bagaimana mental Amartha, meskipun sekarang dia terlihat baik-baik saja, tapi aku sudah menyaksikan betapa bencinya dia dengan janin dalam kandungannya,” ungkap Delavar masih ngotot sepakat untuk menuruti permintaan wanitanya meskipun keluarganya tak setuju.