
Semalam Delavar gagal melihat keindahan dunia milik Amartha, karena Mr. William mengajak bertemu. Padahal sudah malam dan akhirnya mengganggu aktivitasnya yang sedang menuntaskan kerinduan dengan sang calon istri. Dan saat Delavar kembali ke kamar, Amartha sudah tidur.
Pagi-pagi sekali Delavar sudah siap untuk berangkat menuju lokasi yang akan ditinjau. Sementara dia keluar dari kamar hotel hanya membawa ponsel dan earphone saja. Dokumen penting akan dibawakan oleh sekretaris yang seharusnya datang pagi ini juga, tapi belum menunjukkan batang hidung.
Delavar melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan setelah sarapan di restoran hotel sembari ditemani Amartha melalui video call. Benar-benar pasangan yang sedang dimabuk cinta.
“Apa sekretarisku itu tersesat? Lama sekali sampai di sini,” gerutu Delavar saat waktu sudah menunjukkan pukul sembilan yang artinya Mr. William sudah menunggu di bawah sesuai kesepakatan semalam yang akan berangkat bersama.
“Kenapa?” Amartha yang masih menemani Delavar dalam panggilan video pun mengajukan pertanyaan karena melihat wajah kesal calon suaminya.
“Sekretarisku belum datang juga sampai sekarang, lelet sekali dia. Sepertinya harus aku pecat.” Delavar mengeluh pada Amartha.
__ADS_1
“Kenapa dipecat? Siapa tahu sekretarismu memiliki adik, orang tua, atau sanak saudara yang harus dinafkahi. Jangan main memecat orang, Sayang. Kita tak tahu apa yang mereka alami.” Amartha mencoba menasehati. Dia juga pernah berada di posisi itu saat menjadi sekretaris di awal karirnya. Tapi, untung saja atasannya sabar mengajari, yang tak lain adalah Marvel Gabriel Girogio, suami dari Deavenny si putri bungsu keluarga Dominique.
“Ya, mungkin aku akan memasukkan dia ke pelatihan khusus untuk sekretaris agar lebih profesional,” balas Delavar seraya menyesap kopi di cangkir.
Perbincangan sepasang calon pengantin itu berhenti saat ada suara seorang wanita dengan napas terengah-engah menyela.
“Tuan, maaf terlambat, taksi yang aku tumpangi mengalami pecah ban di jalan.” Sekretaris Delavar itu sampai membungkuk karena merasa bersalah.
Delavar menghela napas, untung saja ada Amartha yang membuatnya mengurungkan niat agar tak memecat wanita itu. “Sudahlah, kau bawa semua berkas pentingnya atau tidak?” tanyanya dengan tegas. Dia tak mau mengomeli, karena sudah pasti sekretarisnya mendapatkan serbuan kata-kata yang menyakitkan dari Daddynya saat ketahuan melakukan kesalahan.
“Bagus, ayo berangkat sekarang.” Delavar membawa ponselnya tapi tidak memutus panggilan video dengan Amartha. Dia ingin tetap terhubung dengan calon istrinya. Bahkan berjalan pun tetap ditunjukkan pada wanita itu.
__ADS_1
“Selamat bekerja, Sayang. Aku matikan, ya?” Amartha meminta izin terlebih dahulu karena dia juga akan keluar bertemu Christoper.
“Jangan dimatikan, aku ingin bekerja ditemani olehmu,” larang Delavar seraya memasuki mobil milik Mr. William.
“Kau sudah menikah?” Mr. William yang mendengar koleganya melakukan interaksi dengan seorang wanita dan terlihat sangat mesra pun mengajukan pertanyaan. Sebab, dia belum mendengar berita apa pun tentang keluarga Dominique yang melangsungkan pernikahan lagi kecuali Danesh dan Deavenny.
“Belum, ini calon istriku. Dua minggu lagi kami baru akan menikah. Apa undangannya belum sampai?” Delavar mengalihkan layarnya ke arah lain agar Mr. William tidak bisa melihat wajah Amartha.
“Mungkin masih berada di pos.” Mr. William terlihat antusias untuk mengajak Delavar berbincang saat perjalanan.
Membuat anak ketiga keluarga Dominique itu menghela napasnya pelan. ‘Mengganggu saja,’ monolognya dalam hati karena lagi-lagi acara bermesraannya walaupun melalui video call itu harus diganggu oleh Mr. William lagi.
__ADS_1
...*****...
...Oh kebucinan ini, janganlah cepat berlalu. Aku tidak rela, masih senang dengan kemesraan mereka. Ke laut aja si Christoples itu....