
Delavar menghentikan langkah kaki saat mendengar suara seseorang memanggilnya. Dia memutar tubuh sebesar seratus dua puluh lima derajat. Sorot matanya tak memperlihatkan perasaan senang saat menatap seorang wanita di atas kursi roda yang sedang melaju ke arahnya.
“Kau datang mencariku? Apa kau ingin berubah pikiran tak jadi menolak lamaranku?” ucap Jessy sangat senang.
Satu tahun terakhir ini Jessy sudah terkurung di dalam mansion dan tak boleh keluar sedikit pun hanya untuk sekedar menghirup udara segar. Dan kedatangan Delavar seperti memberinya angin dan juga pemandangan yang menyejukkan mata.
Wajah manis, tampan, dan kekar Delavar sangat menggoda jiwa Jessy yang sampai sekarang masih ingin memiliki pria itu.
Delavar hanya menatap Jessy dengan datar. Dia tak berniat untuk menanggapi wanita itu. Kakinya kembali mengayun keluar dan tak membalas sedikit pun sapaan Jessy.
“Delavar, tunggu!” seru Jessy seraya mengoperasikan kursi roda otomatisnya yang bisa digerakkan menggunakan tombol.
“Aku tak memiliki urusan denganmu!” balas Delavar tanpa menghentikan langkahnya.
__ADS_1
Delavar pun tak peduli dengan suara Jessy yang terus memanggilnya sampai keluar. Dia langsung masuk ke dalam mobil tanpa memandang wanita cacat itu.
“Argh ...!” Jessy berteriak kesakitan saat kursi rodanya jatuh menuruni anak tangga sebanyak tiga yang ada di teras. Tubuhnya yang tak berdaya tergeletak di lantai. “Delavar, tolong,” pintanya dengan menatap mobil milik pria yang sampai sekarang masih dia inginkan untuk menjadi pendamping hidupnya.
Delavar tak tertarik sedikit pun dengan Jessy. Bahkan dia tak melirik walaupun telinganya mendengar jika tengah dipanggil.
“Tuan, nona itu meminta pertolonganmu,” ungkap Roxy. Justru dia yang sedari tadi mengamati Jessy dan Delavar. Tapi atasannya terlihat sangat cuek.
“Biarkan saja, nanti juga ada yang membantu. Ini mansionnya, kau lihat saja ke arahnya!” titah Delavar.
“Jalankan mobilnya! Sebelum dia melakukan hal gila!”
“Baik.” Roxy pun mulai menginjak pedal gas dan meninggalkan kediaman keluarga Christoper.
__ADS_1
“Ternyata Anda bisa kejam juga, Tuan,” tutur Roxy saat di dalam mobil menuju mansion keluarga Dominique.
“Orang seperti mereka tak bisa diperlakukan menggunakan hati, pasti akan melunjak dan tak tahu diri,” jelas Delavar.
Roxy hanya menganggukkan kepala sekilas. Memang keturunan keluarga Dominique memiliki sisi kejam semua, walaupun di luar terlihat lembut.
...........
Pagi menyapa Amartha yang masih bergelung manja di dalam selimut hangatnya. Namun tidurnya terganggu karena merasakan sebuah gejolak di dalam perut yang akhir-akhir ini selalu menyerangnya.
Amartha buru-buru menyibakkan selimut dan berlari menuju kamar mandi untuk memuntahkan semua isi dalam perutnya. Ini bukan kali pertama dia seperti itu, sampai sudah tak sempat dihitung lagi.
Tangan Amartha memegang kening, merasakan suhu tubuhnya. “Tak panas, apa aku salah makan?” gumamnya.
__ADS_1
Rasanya tubuh Amartha sangat lemas. Dia ingin bermalas-malasan di atas kasur terus. Tapi perutnya sungguh mengganggu. Bolak-balik wanita itu ke kamar mandi hanya sekedar memuntahkan isi di dalam perutnya yang bahkan belum mendapatkan asupan makan apa pun. Lidahnya sampai terasa pahit.
“Lebih baik aku periksakan saja ke dokter, ini sudah tak wajar.” Amartha membersihkan dirinya di bawah guyuran air shower. Dia takut jika keracunan makanan sehingga memilih untuk memastikan ke rumah sakit.