
Amartha belum berkomentar apa pun, tapi saat ini matanya sedang bersitatap dengan Delavar.
“Memangnya apa yang ingin kau minta dariku sampai memintaku untuk melanjutkan lomba meskipun kau kesakitan?” Delavar semakin memperjelas pertanyaannya.
“Aku ingin memintamu memberikan ruang untuk aku sendirian,” jawab Amartha dengan jujur.
“Kenapa kau ingin sendiri?” Delavar semakin penasaran.
“Aku tak ingin menjawab pertanyaan itu,” tolak Amartha seraya mengalihkan pandangan ke arah pintu. Dia tak tahan dengan sorot mata Delavar yang terlihat menyelidik.
“Kenapa?” Lembut sekali Delavar memancing agar Amartha berkata jujur padanya.
Amartha mengedikkan bahu tanpa mengeluarkan suara.
“Apa ini berkaitan dengan kandunganmu?” Lagi-lagi Delavar tak berhenti untuk menggali lebih dalam.
__ADS_1
“Sepertinya.” Amartha hanya memberikan jawaban singkat.
“Kau ingin mengaborsi janin dalam kandunganmu?” tebak Delavar secara asal. Dia hanya menilai bagaimana Amartha membenci calon anak yang ada di dalam perut wanita itu.
Pertanyaan Delavar berhasil memancing Amartha untuk memfokuskan kembali ke sosok pria berparas manis dan taman tersebut. “Bagaimana kau bisa tahu?”
“Delavar Doris Dominique, apa yang tak aku tahu?” ucapnya dengan percaya diri. Kedua tangannya naik ke atas seolah memperlihatkan jika kemampuannya tak diragukan lagi.
“Sombong sekali.” Bibir Amartha mencibir, namun sedetik kemudian alis sebelahnya terangkat. “Jika kau tahu semuanya, berarti kau mengetahui siapa ayah dari bayi yang aku kandung?” tantangnya.
Delavar menelan salivanya. Tak jadi dia menyombongkan diri. Walaupun tahu, tapi tak mungkin mengatakan untuk saat ini, bisa-bisa Amartha marah besar saat mengetahui motif pria yang membuat wanita itu sampai seperti ini.
Tangan Delavar beralih menyentuh kompresan. “Apakah perutmu sudah mendingan?” Dia mencoba mengalihkan pembicaraan. Dan dijawab anggukan kepala oleh Amartha.
Delavar pun menarik kembali kompresan tersebut. “Aku kembalikan ini ke dapur,” pamitnya.
__ADS_1
Namun lagi-lagi Amartha meraih tangan Delavar agar pria itu tak beranjak pergi. “Kau mau, kan?”
“Mau apa?” Delavar menaikkan sebelah alisnya bingung.
“Meninggalkan aku sendirian agar aku bisa aborsi,” tutur Amartha semakin menjelaskan permintaannya.
“Tidak,” tolak Delavar. Tapi sebelum Amartha memprotes, dia sudah melanjutkan ucapan lagi. “Jika kau ingin mengeluarkan janin dalam kandunganmu, maka akan aku temani dan ku carikan dokter yang legal untuk menangani masalah itu.”
Amartha membulatkan mata, tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. “Apa kau sungguh-sungguh?” Dia kira Delavar akan menghalangi jalannya untuk menyingkirkan anak sialan di dalam kandungannya.
Delavar menjawab dengan anggukan. “Tentu saja.” Tubuhnya berdiri dan mengayunkan kaki menuju keluar kamar.
Amartha menatap punggung Delavar yang baru sampai di ambang pintu. “Kenapa?” tanyanya penasaran.
Dan suara Amartha berhasil membuat Delavar memutar tubuh menatap sosok cantik di atas ranjang. Alisnya naik sebelah. “Apanya?”
__ADS_1
“Kenapa kau mendukungku untuk aborsi?”
“Karena itu keinginanmu dan kau juga yang nantinya akan mengandung. Aku tak mungkin memaksakan kehendak untuk memintamu melanjutkan hamil anak itu sampai lahir ke dunia, sebab bukan aku yang mengalami kesulitan saat perutmu semakin membesar,” jelas Delavar memberikan alasannya tak mencegah Amartha saat mengutarakan niat tersebut. “Jika kau memang tak ingin hamil, maka aku akan mendukung apa pun keputusanmu. Aku pria dan tak tahu bagaimana rasanya mengandung. Aku tak akan egois untuk memintamu terus mempertahankan janin itu.”