
Mereka terlalu asyik bercanda, sampai lupa jika yang sedang ditertawakan adalah hal dewasa dan di sana ada dua bocah mungil yang otaknya masih suci sebening embun pagi.
Ketiga orang dewasa yang tak lain adalah Delavar, Danesh, dan Deavenny sedang tertawa terbahak-bahak. Seketika langsung terdiam saat mendengar ada suara kekehan dari Annora dan Agathias.
“Apa artinya perjaka direnggut tangan sendiri?” tanya dua bocah itu bersamaan.
Ketiga anak Tuan Dominique itu menelan saliva dan saling pandang. Mereka keceplosan dan sekarang bingung sendiri harus menjelaskan apa.
“Jawab! Berani bicara seperti itu di depan anak-anak harus bisa menjelaskan kepada mereka dengan baik, benar, dan sesuai umur,” tegur Daddy Davis dengan nada bicaranya yang tegas. Boleh bercanda, tapi harus lihat sikon. Anak-anaknya terkadang memang suka terlewat batas jika sudah terlalu asyik dengan pembahasan mereka.
“Dea.” Delavar menunjuk si bungsu Deavenny untuk menjelaskan.
Tapi Deavenny menjawab dengan gelengan kepala. “Kau saja.”
Delavar berdecak, tapi ini juga salahnya yang sudah mengeluarkan kalimat yang mengundang keingintahuan keponakannya. “Jadi—”
Danesh mengangkat tangannya, memberikan isyarat agar Delavar berhenti berbicara. “Biar aku saja yang menjelaskan. Kau suka aneh-aneh jika berbicara dengan anakku.”
__ADS_1
Delavar mempersilahkan, dia tak harus pusing mencari dan merangkai kata yang baik dan benar untuk anak-anak.
“Sayangnya daddy, Annora dan Agathias,” panggil Danesh dengan suaranya sangat lembut.
“Umur kalian masih kecil, Nak. Yang kalian tanyakan tadi untuk orang dewasa seperti Uncle Del, Aunty Dea. Nah, nanti kalau kalian sudah besar, boleh tanyakan lagi sama daddy, baru akan aku jelaskan jika sudah cukup umurnya,” jelas Danesh.
Danesh tidak mau menjawab dengan berbohong pada anaknya, karena hal itu akan mengajarkan kebohongan pada Annora dan Agathias jika sudah besar nanti dan mengetahui arti yang sesungguhnya. Dia tak mau menurunkan ajaran itu yang pastinya akan menurun lagi ke cucunya kelak.
“Oh ... jadi, Annora masih kecil?” tanya bocah mungil itu. Suaranya saja masih cadel, bisa-bisanya bertanya seperti itu.
Delavar bergeleng kepala, keponakannya itu terlalu gemas jika sudah berebut siapa yang paling besar. “Kalian itu sama-sama masih kecil jangan bertengkar.”
Tapi tetap saja kedua ponakan lucu itu masih berseteru dan sekarang mereka sedang merengek ke arah Danesh.
“Daddy ... siapa yang lebih besar?” tanya Annora seraya mencoba naik ke pangkuan Danesh.
“Tentu saja daddy,” jawab Danesh seraya mengelus puncak kepala Annora.
__ADS_1
“Agathias mau dipangku juga,” rengeknya seraya menarik celana Danesh.
Annora reflek menendang kembarannya hingga terjatuh. “Daddy punyaku.” Dia pun memeluk Danesh sangat posesif dan tak mau berbagi dengan Agathias.
Agathias yang terjatuh di lantai itu otomatis menangis kencang. “Annora nakal ...,” adunya pada semua orang.
Felly langsung berdiri menggendong putranya. “Agathias sama mommy saja, ya?” bujuknya seraya menepuk punggung bocah mungil itu. Kedua anaknya selalu saja berakhir dengan berebut suaminya, dan pasti dimenangkan oleh Annora.
“Tidak, mau daddy.” Agathias tetap mengotot seraya menunjuk ke arah Danesh.
“Oke, semua duduk sendiri, ayo kita mulai makannya,” ucap Daddy Davis tiba-tiba untuk menghentikan keributan yang ditimbulkan cucunya. “Annora, Agathias, kembali ke tempat duduk kalian!” titahnya dengan tegas.
Jika Danesh mendidik kedua anaknya dengan kelembutan. Lain hal dengan Daddy Davis yang terkadang mengajarkan ketegasan pada cucunya.
Suasana di ruang makan itu pun kembali kondusif. Semua duduk di kursi masing-masing.
“Lucu kan punya anak? Kau tak mau membesarkan bayimu?” bisik Delavar pada Amartha yang sedari tadi hanya mengamati interaksi keluarganya.
__ADS_1