
Amartha memberhentikan taksi. Dia menyebutkan alamat yang pasti bukan apartemennya. Wanita itu sedang tak ingin pulang ke tempat tinggalnya. Pikiran sangat kacau, dan harus ada seseorang yang membantu untuk mengurai benang kusut di dalam otaknya.
“Nona, apakah ini benar tujuan Anda?” supir taksi itu bertanya sekali lagi saat kendaraan roda empat miliknya berhenti di depan gerbang yang menjulang tinggi.
“Iya, benar. Aku turun di sini saja.” Amartha segera membayar dengan uang cash. Dan tanpa menunggu kembalian, tubuhnya sudah keluar dari kendaraan tersebut.
Amartha mendekati pos penjaga keamanan yang ada di samping gerbang. Kedatangannya langsung disambut oleh security.
“Nona sendirian?” Seorang pria berpakaian serba hitam segera membukakan gerbang agar wanita muda yang sangat dikenal oleh seluruh pegawai di hunian megah itu bisa masuk ke dalam.
Amartha menginjakkan kaki di area mansion seseorang yang sangat ingin dia temui dan sepertinya bisa membantu permasalahan serta kegundahan hati. Entah kenapa dia merasa ada saja masalah yang datang seolah menguji hubungannya sebelum pernikahan berlangsung.
Semua fakta yang baru didengar hari ini sungguh membuat bingung, ingin maju atau mundur dengan pernikahan yang tinggal menghitung tiga belas hari lagi.
“Apa Mommy Diora ada di mansion?” tanya Amartha. Ya, orang yang dia percaya bisa membantu adalah orang tua Delavar yang pasti lebih tahu bagaimana sifat serta perilaku calon suaminya dibanding dirinya yang baru dekat dalam kurun hampir satu bulan. Pasti juga tahu jika Delavar pernah membuat seseorang menjadi tak bisa berjalan seumur hidup. Apa lagi dia pernah melihat bagaimana aksi sadis pria itu saat menghabisi seseorang.
__ADS_1
“Ada.” Penjaga keamanan itu menengok ke arah sekitar. “Nona tidak membawa kendaraan?” tanyanya saat tak melihat mobil satu pun.
“Tidak, aku naik taksi.”
“Kalau begitu, mari saya antar.”
“Boleh jika tak merepotkanmu.”
Amartha duduk tak manis di buggy car. Berkali-kali menghela napas untuk menghilangkan pikiran buruk tentang Delavar. Jujur dia takut salah memilih pasangan lagi.
Wanita itu langsung memasuki mansion keluarga Dominique dan diantarkan oleh seorang pelayan untuk bertemu Nyonya di rumah tersebut.
Amartha dibawa ke taman belakang di mana Mommy Diora sedang bermain MacBook, dan tengah fokus mengasah kemampuan dalam merancang sebuah bangunan agar ilmu yang dipelajari saat kuliah tak hilang begitu saja.
“Mom,” panggil Amartha. Mommy Diora yang meminta dirinya untuk membiasakan diri dengan panggilan yang sama persis dengan Delavar agar terasa lebih dekat.
__ADS_1
Mommy Diora tentu saja langsung menatap calon menantunya. “Amartha? Sini, duduk.” Dia menunjuk kursi kosong.
Amartha menyatukan pantat di hadapan calon mertuanya yang entah jadi atau tidak setelah keputusan finalnya diambil.
“Ada apa? Wajahmu seperti sedang banyak pikiran.” Mommy Diora memang peka, karena raut Amartha memang sangat mencolok jika sedang senang, sedih, kecewa, atau banyak pikiran. “Kau ada masalah?”
Amartha mengangguk, kedua tangan sengaja ditumpukan pada meja dengan badan sedikit condong ke depan. “Aku sedang bingung.”
Secuil ucapan bahkan tak ada informasi yang bisa dicerna pun membuat Mommy Diora mengernyitkan dahi. “Apa yang membuatmu bingung?”
Amartha menghela napas panjang. Dia pun menceritakan semua kejadian yang baru dialami dan informasi yang didapat dari Christoper.
...*****...
...Udah Amartha kalo mau mundur gapapa, nanti aku gantiin posisi kamu wkwkwk...
__ADS_1