I’M Not A Virgin

I’M Not A Virgin
Part 111


__ADS_3

Pagi hari menyapa dua insan yang sudah dua jam ini saling menyesap bibir satu sama lain. Tidur yang dikira bisa nyenyak ternyata hanyalah mimpi belaka. Sebab, Delavar sudah menagih Amartha yang masih hutang ciuman banyak.


“Aw ...,” pekik Amartha. Dia menyudahi pagutan tersebut saat merasakan bibirnya sakit. “Jangan digigit, Delavar,” gerutunya dengan memukul dada pria itu.


“Maaf, Amartha. Aku terlalu bersemangat,” cicit Delavar. Tangannya mengusap bibir sang wanita yang volumenya sudah berbeda dari kemarin.


“Sudah, aku tidak mau melanjutkan lagi.” Amartha berpindah posisi menjadi duduk. Dia merajuk karena Delavar tak melepaskannya dan menagih terus kekurangan sembilan puluh ciuman. Dan sekarang masih kurang tujuh puluh lima lagi.


“Jangan marah, aku tidak sengaja,” pinta Delavar seraya memeluk tubuh ramping itu.


“Aku tidak marah,” jelas Amartha. Dia melepaskan tangan Delavar yang merengkuhnya, dan beranjak dari kasur untuk mencari pakaian. Menutupi tubuh polosnya dengan kaus besar. “Di mana ponselmu? Aku ingin melihat apakah di keparat Christoper itu sudah membuka hadiah dariku atau belum.”


Amartha menghidupkan lampu dan menyapu pandangan ke seluruh kamarnya. Saat tatapannya terjatuh pada tubuh Delavar yang menampilkan otot kekar yang nyaman dipeluk itu, Amartha mengambil kaus hitam yang teronggok di lantai. “Pakai bajumu, nanti kau masuk angin,” titahnya seraya melemparkan kain tersebut.

__ADS_1


“Masuk angin pun ada kau yang merawatku,” goda Delavar. Dia menarik tubuh Amartha hingga terjatuh di pangkuannya saat hendak mengambil ponselnya yang ada di atas nakas.


Delavar menyandarkan dagunya di pundak wanita itu, sedangkan tangannya melingkar di perut ramping Amartha. “Kita lihat bersama,” ajaknya.


Amartha membuka sebuah aplikasi di ponsel Delavar yang terhubung dengan kamera pengintai di tempat Christoper. “Kenapa yang terlihat hanya bulu-bulu keriting?” tanyanya dengan menunjukkan layar pada sang pria.


Delavar mengambil alih ponsel tersebut. “Itu bulu dada Christoper. Kau jangan melihatnya, tak enak dilihat,” larangnya. Tangan kekar Delavar mencari sebuah folder yang menyimpan rekaman dari kamera pengintai.


“Tentu saja dadaku yang paling enak untuk kau pandang,” jawab Delavar dengan meninggalkan gigitan kecil pada pundak Amartha. “Ini yang kau cari?” ucapnya kemudian.


Delavar menunjukkan layar pada Amartha, dan keduanya menonton bersama bagaimana Christoper membuka bingkisan hadiah.


Pasangan itu tertawa terbahak-bahak dan sangat puas saat mendengar suara dan juga wajah pria keparat itu yang sedih.

__ADS_1


“Bodoh sekali dia, anaknya sendiri dikira anak tikus yang mati,” kelakar Amartha disela tawanya. Wanita itu lega sekarang.


Delavar tentu saja akan senang jika Amartha juga demikian. “Sudah berapa lama kau tidak tertawa?”


Pertanyaan dari Delavar itu membuat Amartha berhenti terbahak-bahak. Kepalanya menengok ke samping hingga pandangan keduanya saling bertubrukan. “Apakah sejelas itu jika aku tak pernah bahagia?”


“Ya, kau seperti orang yang baru saja terlepas dari beban berat dan terlahir kembali menjadi sosok baru dalam hidupmu,” jelas Delavar. Dia membalikkan tubuh Amartha agar menghadap ke arahnya. Tangan kekar itu merapikan rambut panjang yang berantakan. “Aku akan memastikan jika kau selalu bahagia saat bersamaku, maka tetaplah di sisiku bagaimanapun keadaanku nanti.”


Saat mendengar penuturan Delavar itu, Amartha melingkarkan tangan di leher kokoh sang pria. “Aku sudah memutuskan untuk bersamamu dan mencari tujuan hidup denganmu,” balasnya. Dan lagi-lagi Amartha membayar cicilan ciuman yang belum lunas.


...*****...


...Gak ada yang mau bantuin Amartha bayar hutang tuh? Wkwkwk kasian masih banyak, diperas dia sama Delavar...

__ADS_1


__ADS_2