
Amartha mematikan panggilan video tersebut karena diabaikan oleh Delavar. Calon suaminya justru mengobrol dengan Mr. William. Bahkan wajah manis berpadu ketampanan yang tak bosan untuk dipandang pun tak menghiasi layar ponselnya.
Amartha meletakkan ponsel di meja, sementara dia masuk ke dalam kamar untuk bersiap pergi ke McDonald’s yang ada di Helsinki Forum Streel Level.
Sedangkan Delavar, dia baru saja turun dari mobil Mr. William. Berusaha menghubungi Amartha lagi karena entah kenapa firasatnya tak enak dan ingin selalu terhubung dengan wanita itu.
Tapi panggilan itu tak diangkat, membuat Delavar berdecak. Tapi suara koleganya sudah mengudara hingga dia harus menghentikan niat untuk menghubungi Amartha.
“Tuan Delavar, mari lewat sini,” ucap Mr. William menunjuk sebuah hamparan tanah kosong yang sangat luas.
Delavar tentu saja mengalihkan pandangan pada pria yang umurnya beberapa tahun lebih tua darinya. “Baik.” Sembari mengayunkan kaki, dia memberikan ponsel ke sekretarisnya yang sudah berdiri di belakangnya. “Tolong kau kabari aku jika ada yang menelepon,” titahnya.
Karena tak mungkin Delavar bermain ponsel saat meninjau tempat yang akan dijadikan lahan pertanian dan beberapa lahan lain untuk pembangunan wahana permainan yang terbesar di negara itu.
__ADS_1
“Baik.” Maureen menyimpan gawai atasannya di dalam map bening agar tetap bisa memantau.
Dan pagi hingga malam nanti Delavar akan disibukkan oleh peninjauan di beberapa tempat strategis lainnya. Lalu diakhiri dengan rapat untuk menentukan dan memaparkan rancangan konsep darinya.
Jika si calon suami sedang bekerja, lain hal dengan Amartha yang saat ini sudah siap untuk pergi. Dia memakai celana jeans panjang dan kemeja hitam. Rambutnya dikuncir kuda sangat rapi dan tak merias wajah agar terlihat biasa saja. Kaca mata juga bertengger di wajahnya.
Amartha mengambil kunci mobilnya sendiri. Dan turun menuju basement.
“Sudah lama aku tak mengendarai mobilku sendiri,” cicit Amartha saat masuk ke dalam kendaraan roda empat yang dibeli menggunakan jerih payahnya.
Suara mesin pun mulai terdengar di telinga Amartha. Dia bisa bernapas lega karena tidak rusak. Sebab, sudah satu bulan tidak dia panaskan mesinnya.
Amartha melajukan kendaraan dengan kecepatan enam puluh kilometer perjam karena waktu juga belum terlalu mepet. Tapi, baru juga satu setengah kilometer yang dilalui, mobil Amartha mendadak mati saat hendak berbelok. Untung saja posisinya berada di tepi jalan.
__ADS_1
“Sial! Apa mobilku rusak? Kenapa harus mogok sekarang,” gerutu Amartha. Dia langsung menghiupkan lampu hazard agar memberikan pertanda kepada pengemudi lain jika kendaraannya sedang tak baik-baik saja.
Amartha turun dari mobil. Dia membuka kap depan, dan menggaruk kepalanya. “Aku tak paham dengan permesinan ini.”
Roxy yang ditugaskan untuk memantau calon istri tuannya pun tak turun karena diberikan mandat jangan sampai Nona Amartha tahu jika diawasi. Sehingga dia menelepon mobil penderek saja untuk membantu.
Amartha berkacak pinggang dengan helaan napas kasar yang terus keluar. “Apa aku jadi sial karena keluar diam-diam tanpa berpamitan dengan calon suamiku?” gumamnya berpikir sendiri.
Mata Amartha menatap ke seluruh penjuru di sekitarnya, mencari siapa tahu ada bengkel yang dekat. Tapi nihil, hanya bangunan ruko biasa.
Amartha menutup kap mobilnya lagi dan dia mencoba mencari nomor penderek. Tapi belum sempat terhubung, matanya sudah menangkap dari kejauhan jika ada mobil besar yang ingin dia panggil.
...*****...
__ADS_1
...Sukurin, itu ga direstuin buat ketemu si Christoples wkwkwk...