
Akhirnya, setelah perdebatan yang sangat sengit hanya untuk menyepakati sebuah konsep bisnis antara dua perusahaan besar itu selesai juga. Pada ujungnya ide Delavar yang diambil dan akan dijalankan.
“Baik, semoga kerjasama kita berjalan lancar.” Delavar mengulurkan tangan untuk berjabat tangan dengan Mr. William.
“Aku juga berharap demikian. Senang bekerjasama dengan keluarga Dominique.” Mr. William membalas uluran tangan tersebut. “Ingin bermain ke rumahku dulu? Sayang jika kau masih di Belanda tapi belum melihat mansionku,” ajaknya kemudian.
Dan seketika itu juga Delavar melotot. Apa Mr. William kata? Tak tahu atau bagaimana pria satu itu jika sudah menghabiskan waktunya selama hampir dua puluh empat jam penuh hanya untuk membahas pekerjaan. Sekarang masih ingin mengajak singgah ke rumah orang itu. Benar-benar kolega yang harus dihindari untuk kaum yang sedang dimabuk cinta seperti Delavar Doris Dominique.
“Tidak, aku harus segera pulang ke Finlandia karena ada jadwal fitting baju pengantinku,” tolak Delavar seraya melepas kancing jas kemeja agar sedikit terasa longgar.
“Oh, maaf. Aku lupa jika ini sudah ganti hari,” seloroh Mr. William tanpa rasa bersalah. “Maaf karena sudah mengganggu waktumu yang sebentar lagi akan menikah. Aku pasti akan menyempatkan hadir ke Helsinki,” tuturnya seraya menepuk pelan lengan koleganya.
__ADS_1
“Ya, tak masalah. Aku pergi dulu,” pamit Delavar. Dia segera berbalik badan untuk mengayunkan kaki keluar, sebelum Mr. William mengajaknya berbicara lagi.
Delavar menghela napas panjang saat keluar dari ruang rapat. Rasanya seperti baru terbebas dari penjara.
“Maureen, di mana ponselku?” Sembari berjalan menuju keluar gedung yang menjulang tinggi itu, dia berbicara dengan sekretarisnya tanpa menatap atau berbalik badan. Pandangannya lurus saja ke depan.
“Di sini, Tuan.” Maureen mengeluarkan ponsel yang sedari tadi berada di dalam map.
“Apa tak ada yang menghubungiku?” tanya Delavar. Dia sudah memberikan perintah pada sekretarisnya agar memberi tahu jika ada pesan atau telepon masuk. Siapa tahu dari calon istrinya yang sedang rindu.
Delavar pun masuk ke dalam mobil yang disediakan oleh Mr. William untuk mengantar dirinya. Begitu pula dengan Maureen yang mengikuti.
__ADS_1
“Mana ponselku?” pinta Delavar seraya menengadahkan tangan ke arah kursi yang ada di depan.
Dengan tangan sedikit bergetar, Maureen memberikan ponsel tersebut ke arah tuannya. Dia hanya berharap tak mendapatkan omelan karena tak sadar jika ada telepon masuk.
Delavar langsung merebut benda pipih itu. Memasukkan paswrod hingga layar tak terkunci lagi. “Maureen!” serunya saat melihat notifikasi panggilan tidak terjawab.
Orang yang dipanggil langsung menundukkan kepala. “Maaf, Tuan.” Dia sudah paham dengan kesalahnnya.
“Bisa-bisanya kau tak memberi tahu padaku jika Roxy dan calon istriku menelepon! Fatal sekali kesalahanmu ini. Apa yang kau lakukan sampai tak sadar ada yang menghubungiku?” omel Delavar dengan sangat kesal. Dia segera menghubungi Amartha tapi tak diangkat.
“Maaf, Tuan. Jika dilihat dari notifikasinya, telepon itu masuk pukul dua belas malam, dan di jam itu saya tak sengaja tertidur,” jelas Maureen.
__ADS_1
“Ah sudahlah, mulai besok kau masuk ke pelatihan sekretaris. Satu tahun bekerja denganku, tapi masih saja melakukan kesalahan.”
Bagaimana Maureen tak lelah mengikuti tuannya yang seharian penuh bekerja, sedangkan dia hanya berdiam diri mengamati interaksi antar dua pemilik perusahaan besar yang tidak tahu waktu saat bekerja. Dia juga manusia biasa yang memiliki rasa mengantuk.