I’M Not A Virgin

I’M Not A Virgin
Part 119


__ADS_3

Giliran Amartha pun tiba juga. Sepasang calon suami istri itu sudah duduk di hadapan Dokter Beverly yang sedang mengulas senyum.


“Bagaimana kabar Anda, Nona?” Sapa Dokter Beverly dengan mengajukan pertanyaan.


“Baik, Dok,” jawab Amartha dengan ulasan senyum.


“Apakah ada yang bisa saya bantu?” tanya Dokter Beverly dengan sangat ramah.


“Dua minggu lagi kami akan segera menikah, Dok. Dan aku ingin melakukan pengecekan kandungan calon istriku apakah sudah membaik atau belum.” Kali ini Delavar yang menjawab.


“Baik.” Dokter Beverly paham dengan permintaan pasiennya. Dia menatap ke arah Amartha. “Karena jarak Anda melakukan peluruhan embrio hingga saat ini belum lama, maka saya tidak bisa memprediksi melalui siklus menstruasi. Apakah Anda mau jika pengecekan dilakukan menggunakan USG?” tawarnya.


“USG seperti waktu itu?”


“Bukan, untuk kali ini pengecekannya dengan memasukkan sebuah alat melalui jalan lahir bayi. Apakah Anda mau?”

__ADS_1


Amartha menaikkan sebelah alisnya. “Apakah akan sakit?”


“Tidak, Nona. Kita bisa melihat kondisi organ reproduksi Anda dengan cara itu.”


Delavar mengelus lengan Amartha. “Tidak perlu jika kau tak mau, kita cukup konsultasi saja.” Dia tak mau memaksa. Sebab, jika didengar dari nada bicara calon istrinya itu sepertinya takut.


“Alat itu tidak akan tertinggal di dalam rahimku, kan?” Amartha memastikan sekali lagi. Ini adalah kali pertamanya akan melakukan pengecekan kesehatan dengan sesuatu yang dimasukkan ke dalam tubuh dalam kondisi sadar.


Delavar hanya mengulas senyum saat mengetahui jika wanitanya takut kalau alat yang akan digunakan bisa tertinggal di dalam rahim.


Begitu juga dengan Dokter Beverly yang menarik dua sudut bibirnya lembut. “Tidak, Nona.”


Dokter Beverly mempersilahkan untuk Amartha tidur di atas brankar, tak lupa menekuk lutut dan membuka kedua paha pasiennya. Dia menyiapkan alat seperti tongkat, namun tidak terlalu panjang, untuk melakukan USG.


Dokter Beverly memakaikan alat USG itu menggunakan sebuah silikon menyerupai balon yang biasa digunakan seorang pria saat berhubungan intim, dan tak lupa membaluri gel pelumas pada tongkat tersebut.

__ADS_1


“Jika takut, bayangkan saja jika yang masuk ke dalamnya adalah alat reproduksi calon suami Anda,” ucap Dokter Beverly. “Siap, ya?”


Amartha mengangguk. Dadanya berdebar, tapi Delavar yang berada di sampingnya dan terus menggenggam tangannya pun membuat dia ingin mencubit lengan kekar tersebut, karena pria itu membisikkan sesuatu yang menggelitik.


“Saat alatnya masuk, jangan lupa merem melek, Amartha. Kata dokter harus membayangkan jika itu pabrik pembuatan bibit premium anakku,” kelakar Delavar berbisik di telinga calon istrinya. “Tapi jangan mendesah di sini, takutnya kau malu,” imbuhnya dengan berseloroh.


“Sstt ....” Amartha berdesis seraya menempelkan telunjuknya di bibir Delavar. “Jangan menggodaku di sini, Delavar. Malu dengan dokter,” tegurnya dengan suara lirih.


“Tidak apa, Nona. Santai saja, saya sudah biasa menghadapi pasangan seperti kalian,” tutur Dokter Beverly seraya memasukkan tongkat USG yang ada di tangannya.


Amartha memejamkan mata saat merasakan bagian di daerah pangkal pahanya dimasukkan sesuatu.


“Dok, jangan dimaju mundurkan alatnya, nanti takutnya calon istriku keenakan dan mendesah di sini,” kelakar Delavar untuk mencairkan suasana di ruangan itu. Apa lagi saat ini Amartha sedang terlihat tegang.


...*****...

__ADS_1


...Si Delavar ini kayanya titisan sepertiga Diora kalo masalah koplak dan sengklek di masa muda, sepertiga Davis untuk kesadisannya, dan sepertiga Danzel karena ada sisi manisnya...


...Yang gak tau bentuk alatnya kaya apa, cus cek instagram story aku @heynukha...


__ADS_2