I’M Not A Virgin

I’M Not A Virgin
Part 40


__ADS_3

Delavar mengepalkan tangan dan mengulas senyum yang manis untuk membuat suasana di dalam ruangan itu tak terlalu panas. Kakinya mengayun semakin mendekati Christoper. “Kau senang melakukan itu? Membalaskan dendam melalui wanita yang aku sukai? Kau puas?” tanyanya dengan nada yang santai.


Christoper melihat Delavar sudah bisa tersenyum dengannya pun menilai jika pria itu sudah mulai meredam emosi. “Tentu aku puas, dan kau seharusnya mempertanggung jawabkan perbuatanmu pada adikku! Kau harus menikahi Jessy dan merawatnya!” tegasnya.


Delavar menghentikan kaki tepat di hadapan Christoper. Tubuhnya yang lebih tinggi membuat lawan harus mendongak saat berbicara dengannya. “Kalau aku tidak mau?” tanyanya. Kini senyum manis di wajah tampan itu berganti dengan sebuah seringai sinis.


“Aku akan terus mengganggumu melalui wanita yang kau cintai itu!”


Delavar masih santai dalam menghadapi Christoper. Tangannya terulur menyentuh rambut yang keriting milik lawannya. Menepuk bagian atas kepala Christoper. “Dengar, Tuan Christoper! Kau itu pria, jika kau memiliki masalah dengan seseorang, jangan kau lampiaskan pada orang yang dia sayangi,” nasihatnya.


“Terserah aku!” elak Christoper. Dia semakin berani menantang karena Delavar sudah tak terlalu memancarkan kilatan amarah.


Delavar masih bisa mengulas senyum pada Christoper. “Kau harus tahu.” Tangannya mengelus rambut yang berwarna seperti karat pada besi itu. “Jika kau mengusikku, aku tak masalah dan hanya membalasmu dua kali lipat.”

__ADS_1


Setelah mengucapkan itu, Delavar langsung kembali memasang wajah sedatar mungkin. Tangannya menjambak rambut Christoper hingga kepala pria itu menengadah. Sedari tadi dia memang tak memperlihatkan emosi karena ingin mengelabuhi Christoper.


“Tapi, karena yang kau usik adalah orang-orang yang aku sayang! Maka balasanku jauh lebih menyakitkan daripada yang bisa kau bayangkan!” seru Delavar.


Tanpa banyak kata, Delavar pun menyeret Christoper dengan menjambak rambut pria itu. Dia tak peduli jika sekarang dirinya berada di mansion milik Christoper.


Christoper terus memberontak karena tangan Delavar terlalu kekar dan kuat menarik rambutnya. Kakinya bahkan terseok-seok mengikuti langkah kaki anak ketiga keluarga Dominique itu. “Lepas, keparat! Jangan harap kau bisa keluar dari mansion ini dengan selamat karena kau sudah melukaiku!” ancamnya sembari memberontak.


“Apa kau masih bisa memanggil pengawalmu untuk melawanku jika seperti ini?” Delavar membenturkan kepala Christoper sekeras mungkin ke tembok.


Tak ada yang percaya jika seorang Delavar Doris Dominique yang terkenal ramah dan murah senyum berani melakukan kekerasan seperti itu pada orang lain.


Tak hanya satu kali Delavar mempertemukan kepala Christoper dengan tembok, tapi lebih dari tiga kali. Bahkan saat sudah ada darah yang keluar dari pelipis lawan pun tak menghentikan aksinya. Emosi sudah sampai ke ubun-ubun dan perbuatan Christoper benar-benar membuatnya muak hingga tak ingin mengampuni pria itu.

__ADS_1


Christoper sampai tak sadarkan diri, barulah Delavar melepaskan tangan dari rambut ikal tersebut. Membiarkan lawannya terkulai lemas di lantai.


“Kau sudah sembarangan merenggut sesuatu yang seharusnya tak kau ambil dari wanitaku!” Delavar tetap belum puas menghajar walaupun Christoper sudah tak sadar. Kakinya menginjak alat kelamin milik lawannya.


“Kau sudah melecehkan Amartha! Bahkan aku saja tak berani menyetubuhinya karena ku junjung harga dirinya setinggi mungkin sebagai wanita! Tapi pria brengsek sepertimu berani-beraninya menghancurkan harga dirinya!” berang Delavar. Dia semakin keras menginjak telur milik Christoper. “Mati saja kau! Kalaupun hidup, ku rasa juniormu tak akan pernah bisa bangun lagi!”


Delavar mendaratkan kakinya untuk yang terakhir kali di daerah dekat pangkal paha Christoper. Entah sudah berapa kali dia menginjak bagian tubuh yang vital bagi seorang lelaki itu.


Setelah puas, Delavar pun keluar ruangan milik Christoper dengan santai. “Roxy, ayo kembali!” titahnya.


“Baik, Tuan.” Roxy pun mengikuti atasannya.


Dan saat kedua pria itu berjalan menuju keluar mansion, ada seorang wanita yang duduk di kursi roda memanggil salah satu keturunan Dominique. “Delavar!”

__ADS_1


__ADS_2