I’M Not A Virgin

I’M Not A Virgin
Part 157


__ADS_3

Christoper segera menyingkirkan vas kesayangan yang masih berada di tangan sang adik. Meletakkan benda itu ke atas meja lagi dan memeluk Jessy. “Kenapa kau marah-marah?” Dia bertanya seraya menepuk punggung satu-satunya keluarga yang dimiliki.


Jessy masih histeris, memukuli Christoper. Emosinya tak terkendali saat ini. “Kau berbohong, Chris! Katamu akan membuat Delavar mau menikahiku! Nyatanya, semua channel televisi memberitakan tentang pernikahannya dengan seorang wanita biasa!”


“Aku sudah berusaha, Jessy. Tapi Delavar bukan tandingan keluarga kita. Dominique terlalu berkuasa,” jelas Christoper. Dia mengurai pelukan, memegang kedua pundak wanita yang saat ini berusia dua puluh enam tahun itu. Menatap penuh kasih layaknya seorang kakak.


“Lihatlah wajahku.” Christoper mengarahkan kepala Jessy untuk menatapnya. “Setengah sudah hancur.” Dia membuka perban yang menutupi bekas luka.


Lalu Christoper juga mengurai perban pada luka yang satu. “Tanganku juga dikuliti oleh Delavar.”


Christoper membiarkan adiknya melihat wajah yang sudah tak karuan sebelah. Beserta telapak yang sama saja kondisinya, mengenaskan. “Bukan hanya itu, Delavar juga membuatku tak bisa memiliki keturunan lagi,” imbuhnya mengungkapkan semua akibat yang didapatkan karena menuruti keinginan Jessy.

__ADS_1


“Kau bisa menilai semua ini sendiri, Jessy. Aku tak bisa memenuhi permintaanmu,” ucap Christoper dengan tatapan yang nampak memohon agar sang adik bisa memahami kesulitan yang sudah dia alami.


“Berarti kau bodoh! Melawan Delavar saja tak bisa! Hanya sekedar membujuk agar pria itu mau menikahiku.” Jessy melengoskan kepala, dia tak iba sedikit pun dengan Christoper. “Percuma memiliki kakak tapi tolol, mati saja kau!”


Plak!


Christoper reflek menampar pipi adiknya yang lancang itu. “Kau ku rawat dengan kasih sayang, tapi balasanmu seperti ini? Aku sampai rela mempertaruhkan masa depanku, wajahku, bahkan semua waktuku.” Matanya saat ini sedang melotot. Apakah mungkin ini efek dia terlalu memanjakan Jessy? Sehingga wanita itu selalu ingin semua keinginan harus tercapai dan dituruti.


Christoper bergeleng kepala. “Berhenti berangan-angan tinggi, Jessy. Delavar bukanlah seseorang yang mudah kau gapai!”


“Kenapa? Apa karena aku cacat? Tidak bisa berjalan? Jadi kau menganggapku tidak layak menjadi pendamping pujaan hatiku?” Jessy bertanya, namun dengan air mata yang mengalir.

__ADS_1


“Kaki sialan! Tak berguna, susah payah aku sengaja membuatmu lumpuh agar Delavar iba, tapi justru dia semakin menjauh.” Jessy memukul lutut yang tidak bisa merasakan apa pun.


Christoper tecengang dengan celetukan adiknya. Memegang kedua tangan Jessy agar berhenti memukul kaki. “Jadi, kecelekaan itu kau yang membuat sendiri?” Dia harus memastikan sekali lagi.


“Iya, Delavar harus bertanggung jawab karena dia yang membuatku memiliki pikiran sesempit itu!” jawab Jessy.


Christoper melepaskan tangan Jessy, berdiri tegak dengan jarak satu langkah dari kursi roda sang adik. “Selama ini aku membela orang yang salah. Ku pikir kecelakaan itu karena pikiranmu sedang kacau setelah ditolak oleh Delavar.” Sungguh dia tak habis pikir dengan Jessy.


“Aku ingin kau membawaku ke pesta pernikahan Delavar, Chris.” Jessy mendekati kakaknya, memegang tangan Christoper untuk memohon. “Aku harus membuat pernikahan mereka gagal, tak rela melihat Delavar dimiliki oleh orang lain,” pintanya.


“Tidak!” tolak Christoper. Dia sudah membuat kesepakatan, bahkan dibuat hitam di atas putih juga oleh Delavar agar lebih terikat perjanjian mereka.

__ADS_1


Jessy melepas kasar tangan Christoper. “Fine, aku akan terjun saja dari gedung tinggi agar kau hidup sendirian di dunia, tanpa sanak saudara lagi,” ancamnya.


__ADS_2