
Delavar merubah posisi tidurnya menjadi di belakang punggung sang istri, tak lupa menyelimuti tubuh polos keduanya. Tangan kekar itu mengelus perut Amartha. “Masih sakit?”
“Iya, lumayan.” Amartha menjawab seraya kepala sedikit dinaikkan dan menarik tangan kiri Delavar untuk dia jadikan bantal.
“Mau aku panggilkan dokter saja?” tawar Delavar.
Kepala Amartha langsung menggeleng. “Tidak, aku hanya ingin perut dielus. Rasanya sangat nyaman seperti itu.”
“Baiklah, semalaman aku akan mengelus perutmu tanpa tertidur,” kelakar Delavar yang terus mengusap permukaan kulit Amartha dengan lembut dan penuh perasaan sayang.
“Tidurlah, untuk apa juga kau tak istirahat?” Tangan Amartha yang leluasa bergerak itu ikut menyatu dengan punggung tangan Delavar yang sedang bersemayam pada perutnya.
“Tentu saja untuk menjaga istriku agar tak merasakan sakit.” Delavar mendaratkan kecupan di tengkuk istrinya. “Tidurlah, atau kau ingin mandi dulu?”
__ADS_1
“Istirahat saja, aku malas terkena air,” jawab Amartha yang mulai merasakan kantuk.
Dan keduanya pun tidur berpelukan. Bahkan Delavar saat mata terpejam masih ingat untuk mengelus perut sang istri. Kesadarannya hanya dua puluh persen. Tidur pria itu tak sepenuhnya nyenyak.
Pagi hari Amartha merasakan perutnya bergejolak. Dia segera melepas tangan Delavar yang masih melingkar di perutnya. Buru-buru berlari menuju kamar mandi untuk memuntahkan isi perut. Namun, belum sampai ke tujuan, Amartha sudah menumpahkan semuanya di lantai kamar.
Delavar yang merasakan istrinya meninggalkan kasur pun sudah pasti membuka mata. “Kau baik-baik saja?” tanyanya sedikit khawatir. Dia bisa melihat lantai berbahan marmer itu terdapat noda kotor.
“Perutku mual sekali,” jawab Amartha seraya memijat tengkuk.
“Besok kita tidur pakai baju, sepertinya kau masuk angin karena selalu ku buat polos setiap hari,” ucap Delavar seraya memijat tengkuk Amartha yang sedang mengeluarkan isi perut di closet.
“Aku sepertinya tidak masuk angin,” balas Amartha setelah tak ada lagi yang bisa dikeluarkan.
__ADS_1
Delavar menuntun Amartha untuk berpindah ke wastafel. “Lalu? Kau mabuk laut?” tanyanya seraya membersihkan mulut sang istri menggunakan air yang mengalir.
Kepala Amartha menggeleng lemah. “Mungkin hamil, dulu aku juga merasakan seperti ini,” celetuknya masih belum terlalu yakin.
Delavar memegang pundak Amartha dan mengarahkan wanita itu untuk menghadap ke arahnya. “Sungguh? Kau yakin? Aku akan menjadi Daddy?” Dia terlihat sangat gembira, bahkan terus menerus mengecup seluruh wajah istrinya. Dan berakhir memeluk sangat erat.
Amartha mengelus punggung kekar Delavar sangat lembut. “Mungkin, itu pun tidak pasti karena belum dites.”
“Aku akan minta testpack dengan crew kesehatan di sini.” Delavar sungguh tak sabar ingin segera memastikan jika istrinya benar-benar hamil. Sampai dia tak sadar keluar kamar mandi dengan tubuh polos.
Tapi untung saja Amartha berteriak untuk mengingatkan. “Kau mau ke mana? Mandi dulu dan pakai baju, nanti semua karyawanmu di sini melihat tubuhmu yang banyak bekas percintaan kita.”
Delavar menghentikan kaki yang baru satu langkah dari pintu. Dia menatap Amartha dengan tersenyum manis. “Sorry, aku lupa.”
__ADS_1
Pria itu kembali lagi masuk ke dalam kamar mandi dan mengajak Amartha untuk membersihkan tubuh bersama.
Pagi ini Delavar tidak menggempur Amartha seperti biasanya. Dia membiarkan sang istri tidur di atas ranjang dengan memakai baju tidur. “Tunggu di sini sebentar, aku akan mengambil testpack,” pintanya seraya meninggalkan kecupan di kening.