I’M Not A Virgin

I’M Not A Virgin
Part 51


__ADS_3

Delavar merasa jika dirinya pun turut menyumbang atas apa yang terjadi pada Amartha. Sehingga dia merasa bersalah, tapi tak mungkin mengatakan secara terang-terangan kalau penyebab Amartha sampai bisa hamil adalah akibat salah satu musuhnya yang menargetkan wanita itu sebagai alat balas dendam padanya. Bisa-bisa Amartha membencinya. Lebih baik dia mengubur kenyataan itu, dan bertanggung jawab dengan semua yang dialami oleh wanita keturunan Finlandia asli tersebut.


Namun, sepertinya cara Delavar salah saat menyampaikan maksud baiknya. Amartha justru menarik sebelah sudut bibirnya, merasa miris dengan dirinya sendiri. Orang yang dia anggap baik ternyata tak jauh berbeda dengan lainnya.


“Bahkan kau juga menganggapku wanita murahan yang layak untuk dipermainkan tubuhnya,” ujarnya sinis. Seketika dia tertawa terbahak-bahak dengan kedua telapak tangannya saling menepuk. Tak lama, dia kembali menangis dan tertawa secara bersamaan. “Aku sudah seperti pelacur di mata kalian semua!” imbuhnya. Nada bicaranya terdengar sangat miris dan begitu menyayat hati


“Bukan seperti itu maksudku, Amartha.” Delavar mencoba menjelaskan arah tujuan yang sebenarnya. Dia hendak meraih tangan wanita itu, namun tangannya ditepis sangat kasar.

__ADS_1


“Jangan pegang-pegang aku! Kau sama saja dengan pria di luar sana!” tolak Amartha. Matanya menatap tak suka pada Delavar. Dalam sesaat dia bisa tertawa, menangis, dan marah secara bersamaan.


Delavar mengangkat kedua tangannya. “Oke, maafkan aku,” tuturnya. Oksigen dia hirup sebanyak mungkin sebelum melanjutkan mengeluarkan suara. “Mari menikah denganku, dan bercinta denganku. Aku akan menerima anak dalam kandunganmu itu sebagai darah dagingku sendiri,” jelasnya. Sebisa mungkin dia mengatakan dengan hati-hati agar Amartha bisa paham.


Amartha menekuk kedua kaki, melingkarkan tangan untuk memeluk lutut. Bibirnya terangkat sempurna dengan tatapan mata terfokus pada Delavar. Dia belum menjawab ajakan pria itu, justru saat ini kepalanya tengah bergeleng perlahan ke kanan dan kiri tanpa berkedip sedikit pun.


Walaupun Amartha menatapnya tak suka, tapi Delavar tetap memancarkan keteduhan untuk wanita yang dia cintai. Sebisa mungkin tak menyentuh Amartha karena emosi wanita itu belum sepenuhnya stabil. “Berjalan di kegelapan juga membutuhkan cahaya untuk menerangi jalanmu mencapai tujuan hidup,” balasnya.

__ADS_1


Amartha tersenyum lebar dengan matanya tetap membulat. Sedikit kekehan keluar dari bibirnya. Tapi justru terlihat mengerikan karena pandangan wanita itu seperti setengah kosong. “Sayangnya, aku sudah tak memiliki tujuan hidup.”


“Izinkan aku menjadi cahaya dalam gelapmu, maka akan ku tunjukkan ke mana seharusnya tujuan hidupmu berhenti,” pinta Delavar dengan sungguh-sungguh.


“Kata-katamu sangat manis. Mungkin kau tak jauh berbeda dengan sepupumu itu yang memperlakukanku manis di awal, tapi pahit pada akhirnya,” sinis Amartha. Dia menatap dari atas sampai bawah tubuh Delavar. “Apa kau mendekatiku juga ingin memanfaatkan aku seperti sepupumu itu?” tuduhnya.


“Tidak, sama sekali tidak, Amartha. Aku sangat tulus dan tak ada orang lain yang saat ini aku sukai kecuali kau,” timpal Delavar. “Jika kau takut aku manfaatkan, maka kau bisa memanfaatkan aku untuk membalaskan perbuatan semua orang yang menyakitimu. Tak masalah bagiku jika kau ingin seperti itu,” imbuhnya memberikan ide agar Amartha percaya jika dirinya berbeda dengan sepupunya yang tak berperasaan itu.

__ADS_1


“Lalu, jika aku melakukan itu padamu, apa bedanya aku dengan mereka semua yang sudah memanfaatkanku?” tanya Amartha. Tapi belum sempat dijawab oleh Delavar, dia sudah menjawab sendiri. “Tidak ada, aku sama licik dan jahatnya dengan mereka!” serunya dengan suara yang sedikit ditinggikan.


__ADS_2