
Delavar memang cari petaka untuk diri sendiri. Sudah tahu pabrik pembuatan bibit premiumnya mudah sekali beroperasi, masih saja meminta yang bisa memancing birahinya. Tapi jika tidak seperti itu, Amartha tak terbiasa dengannya.
“Tak apa, biarkan saja. Nanti ku jinakkan sendiri,” jelas Delavar seraya mengelus area pangkal pahanya.
Amartha memundurkan posisinya agar berjarak. “Jangan melakukan denganku, Delavar. Aku belum mau,” tolaknya dengan nada sedikit ketakutan.
Tangan Delavar sebelah kiri mengelus pipi sang wanita dengan lembut. “Tidak, Amartha. Aku bisa menakhlukkan sendiri.”
“Caranya?”
“Cium aku saja, kau masih berhutang sembilan puluh kali,” pinta Delavar.
“Hanya itu? Kau yakin bisa membuat milikmu tak keras lagi?”
“Bisa, lakukan saja seperti yang aku minta.”
__ADS_1
Amartha mendekatkan wajahnya dengan Delavar. Namun tidak untuk daerah pinggul ke bawah. Dia sedikit memberikan jarak pada area itu.
Awalnya Amartha hanya ingin melabuhkan sebuah kecupan saja. Tapi tengkuk lehernya sudah ditahan oleh Delavar hingga berubah menjadi sebuah ciuman yang saling berperang lidah penuh kenikmatan.
Amartha mendorong dada bidang Delavar saat merasakan ada yang aneh dengan pria itu. “Kau sakit, Delavar. Tubuhmu panas, aku bisa merasakan kulitmu yang tak seperti biasanya.”
Delavar mengusap kasar rambutnya. “Apa kau belum pernah merasakan Marvel seperti ini?”
“Belum, dia tak pernah panas tubuhnya.”
Helaan napas kasar keluar dari bibir Delavar. “Ini wajar, Amartha. Saat tubuhku menginginkan sesuatu, pasti ditandai dengan suhu yang meningkat dan bisa dirasakan dari kulitku. Bukan panas karena sakit,” jelasnya agar sang wanita paham.
Walaupun sudah tidur berdua dan satu ranjang dengan pakaian yang minim, tapi tetap saja nasib Delavar berakhir di tangannya sendiri. Sembari menikmati sesasi dari setiap gerakan lidah sang wanita, tangan kekarnya melakukan tugas yang sepertinya belum pensiun sampai Amartha siap.
Untung keduanya sudah ahli saat berciuman. Jadi, tak perlu jeda untuk mengambil napas karena mereka tetap bisa menghirup udara.
__ADS_1
Setelah beberapa saat, Amartha terkejut ketika kulitnya merasakan ada cairan yang menyembur ke perutnya. Dan kepalanya langsung melepaskan ciuman. “Apa itu?” tanyanya.
“Calon anak kita yang gagal bertemu indung telurnya,” jawab Delavar seraya merubah posisi menjadi duduk. “Aku hidupkan lampunya, ya?”
“Jangan,” tolak Amartha.
“Bagaimana caraku membersihkan tubuhmu jika dalam kondisi gelap seperti ini?”
“Aku bersihkan sendiri ke kamar mandi.” Amartha segera turun dari ranjang dan berlari menuju ruangan yang menyatu dengan kamarnya. Tak lupa mengunci pintu agar Delavar tak tiba-tiba mengikutinya.
Amartha bisa melihat jika perutnya ada sedikit cairan kental berwarna putih. Tangan itu mengelap kulit dan diendus oleh hidungnya. “Euh ... baunya aneh, seperti jamur pada almari lembab,” gumamnya.
Wanita itu mengguyur tangan menggunakan air yang mengalir. Dan tak lupa juga kulitnya dibersihkan.
Amartha kembali lagi ke ranjangnya. Di sana mulai ada cahaya sedikit yang dihasilkan dari kamar mandi. Dan membuatnya bisa melihat Delavar yang sedang menatap dirinya.
__ADS_1
“Kau tak membersihkan tubuhmu?” tanya Amartha seraya menutup pintu lagi dan kembali ruangannya menjadi gelap.
“Aku menunggumu selesai.” Delavar berjalan ke arah Amatha. Dan saat keduanya berhadapan, kecupan pun mendarat di bibir indah sang wanita. Barulah si bucin masuk ke dalam kamar mandi dengan bibirnya yang tersenyum terus.