I’M Not A Virgin

I’M Not A Virgin
Part 165


__ADS_3

Delavar mengajak Amartha masuk ke kamar yang sudah disiapkan untuk malam pertama. Dia tidak berpamitan kepada keluarga atau tamu undangan di sana. Menghindari keisengan saudaranya agar tidak mengganggu prosesi yang sangat ditunggu setelah sekian lama bersolo karir.


“Saat sampai di kamar, kau akan melihat hadiah pernikahan kita yang sengaja aku beli untukmu,” ucap Delavar saat kakinya mengayun menuju kamar di bagian kapal paling atas.


“Memangnya kau memberiku apa?” tanya Amartha. Dia tak tahu jika suaminya sudah menyiapkan banyak hal, sedangkan dirinya tidak diizinkan untuk membeli apa pun untuk Delavar.


“Ada, pasti kau akan suka,” cicit Delavar seraya mata mengerling sebelah.


Keduanya pun sampai juga di depan pintu tujuan. Tangan Delavar mengeluarkan kartu untuk akses ke dalam kamar tersebut. Dan segera membuka, mengajak Amartha untuk mulai masuk.


“Coba tebak hadiah pernikahan kita yang mana?” tanya Delavar setelah mengunci kamarnya dan melingkarkan tangan tepat pada pantat Amartha.


Amartha menyapu pandangan ke seluruh penjuru ruangan itu. Tidak ada yang terlihat seperti hadiah. “Memangnya mana? Aku tidak tahu.”

__ADS_1


Delavar menuntun istrinya untuk mendekati sebuah sofa yang memiliki dua gundukan dengan salah satu lebih tinggi, dan satu cekungan diantara gundukan tersebut.


Tangan Delavar menepuk benda yang dia beli custom seharga sepuluh ribu dollar. “Ini dia, sofa tantra.” Dia mengulas senyum saat memperlihatkan hadiah itu.


Amartha menaikkan sebelah alis bingung. “Untuk apa memberi aku sofa seperti itu?”


“Kau akan tahu setelah ku buka gaunmu,” jawab Delavar.


Delavar berpindah posisi menjadi di belakang Amartha. Menurunkan ritsleting busana, dan menanggalkan kain tersebut hingga teronggok di atas lantai. Menyisakan tubuh polos yang hanya ditutupi sepotong kain tipis pada bagian kelembutan yang sebentar lagi akan beroperasi memproduksi keturunannya. Bahkan dua bagian tubuh yang berukuran sebesar kepalan tangannya pun terlihat karena Amartha memang tidak memakai bra.


Wanita itu sangat menurut dengan sang suami. Tidak terlihat malu-malu layaknya pengantin baru, karena memang Amartha bukan wanita polos yang tidak mengerti ke mana arah yang diinginkan oleh Delavar.


Amartha duduk terdiam, mengamati pergerakan suaminya yang sedang membuka seluruh pakaian dari tubuh tegap dan kekar itu. “Ingin aku bantu?”

__ADS_1


Delavar menggelengkan kepala. “Tidak perlu. Ini sudah selesai,” tolaknya saat helaian kain terakhir sudah terlepas dan menyisakan tubuh polos.


Pria itu lalu duduk di bagian gundukan yang lebih rendah. Berhadapan dengan sang istri. Dan keduanya saling pandang satu sama lain.


“Jadi, untuk apa kau membelikan aku sofa ini sebagai hadiah pernikahan?” Amartha mengulangi pertanyaan yang belum terjawab. Tangannya seraya mengelus perut dengan otot yang membuat Delavar terlihat kekar.


Senyuman mesum langsung terukir jelas di wajah Delavar. Dia menurunkan posisi duduk hingga kedua bagian tubuh yang vital milik sepasang pengantin baru itu tidak berjarak. Mencondongkan wajah mendekati telinga Amartha untuk membisikkan sesuatu. “Kursi ini bermanfaat untuk kita bercinta dengan berbagai gaya, Sayang.” Tangannya sudah mulai nakal. Mengelus permukaan kulit Amartha dengan lembut. Memulai untuk membangkitkan gairah istrinya.


“Aku ingin menagih janji. Katamu, setelah menikah akan membantuku untuk menidurkan ini,” ucap Delavar seraya menunjuk daerah pangkal pahanya yang sudah berubah volume.


...*****...


...Hehehe digantung lagi. Delavar inget aja kalo pengen cobain segala macam gaya. Kado pernikahannya bukan rumah apa berlian, tapi sofa untuk bercinta wkwkwkwk. Emang dasar kang kredit cabul....

__ADS_1


...Cari aja di google bestie, bentuknya sofa tantra. Kira-kira abis ini mereka mau ngapain ya?...


__ADS_2