
Amartha sudah menentukan pilihannya. Dia membeli foundation, lipstik, eyeliner, eye shadow, mascara, blush on, bedak, brush, dan berbagai jenis make up lainnya yang ada di store tersebut.
“Totalnya tujuh ratus euro,” ucap petugas kasir itu setelah menscan semua belanjaan customernya. Nominal itu setara dengan kurang lebih sebelas juta rupiah.
Amartha hendak mengeluarkan dompetnya untuk membayar. Tapi Delavar sudah menarik tangan sang wanita.
“Biarkan aku yang membayar,” tegur Delavar yang tahu persis jika Amartha ingin mengeluarkan uang atau mungkin kartu tipis.
“Aku masih memiliki uang, Delavar,” tolak Amartha. Dia bukan jual mahal, tapi semua yang dia beli adalah kebutuhannya yang akan berguna untuk kemudian hari.
Delavar tetap mengeluarkan kartunya berwarna hitam dan memberikan pada petugas kasir itu. “Uangku adalah uangmu, Amartha. Kau harus mulai membiasakannya, agar kau tak menganggapku seperti orang asing,” jelasnya sembari menunggu proses pembayaran selesai.
Amartha tak bisa berkutik. Dia membalas dengan ikut melingkarkan tangan di balik tubuh Delavar seraya mengulas senyumnya. “Nanti ku habiskan uangmu jika seperti itu.” Dia mencoba berkelakar.
__ADS_1
Delavar nampak mengetikkan sebuah pin pada mesin EDC, dan menerima kembali kartu saktinya. “Tak masalah, pakai saja.” Dia justru menyodorkan benda berharganya tersebut pada Amartha.
Calon menantu keluarga Dominique itu justru melongo. Seenteng itu Delavar memberinya kartu kredit yang pasti tak memiliki limit dan hanya dimiliki oleh orang-orang tertentu yang tergolong dalam super rich berpendapatan jutaan euro perbulannya.
“Kau serius memberiku itu?” tanya Amartha dengan kepalanya bergeleng karena tak paham lagi dengan calon suaminya yang terlampau tak pelit padanya.
“Untuk apa aku bercanda.” Dia membuka tas milik Amartha dan memasukkan salah satu aset berharganya ke dalam sana. “Untuk sementara waktu pakai milikku, nanti setelah menikah akan aku buatkan atas namamu sendiri,” imbuhnya meninggalkan kecupan di pipi calon istrinya.
Delavar menerima papperbag belanjaan Amartha, menggandeng wanitanya untuk keluar store itu. “Untuk apa kau membeli make up sebanyak ini?” Sembari berjalan, dia mengajukan pertanyaan dan memperlihatkan tentengan di tangannya.
“Tentu saja boleh. Tapi, jangan menerima pengikut laki-laki, oke?” Delavar menyepakati, tapi tetap saja ada syaratnya.
“Kenapa?”
__ADS_1
“Karena kau cantik dan aku takut mereka menyukaimu.”
“Apa kau cemburu?”
“Tentu saja.”
Dan detik itu juga Amartha berhenti berjalan. Dia memegang lengan Delavar untuk saling berhadapan namun sudah menepi agar tak menghalangi jalan pengunjung lain. “Dengar, cemburu hanya untuk orang-orang yang merasa tak percaya diri. Apa kau seperti itu? Apa kau sekarang levelnya berada di bawah mereka?” cerocosnya agar calon suaminya itu tidak posesif.
Delavar bergeleng seraya tangan kekarnya mengelus rambut Amartha. “Tentu saja tidak, aku pasti berada jauh di atas lelaki lain.”
“Nah. Jadi, kau tak perlu banyak mengekangku jika seperti itu, karena tak mungkin ada pria yang bisa mengalahkanmu di hatiku. Cukup saling percaya tanpa menaruh curiga, semoga kita bisa selamanya hidup bersama sampai tua dan terus bahagia.” Amartha melabuhkan kecupan di bibir Delavar. “Agar kau yakin jika hatiku sudah terisi namamu.”
...*****...
__ADS_1
...Ea ... pada nungguin Christoples ya? Tapi belum dimunculin juga wkwkwk bentar ah, masih ingin melihat kemesraan mereka dulu...