I’M Not A Virgin

I’M Not A Virgin
Part 63


__ADS_3

Setelah mengatakan persetujuannya untuk mendukung rencana Amartha yang ingin mengeluarkan janin dalam kandungan wanita itu, Delavar lalu membersihkan tubuhnya. Sedangkan Amartha juga melakukan hal serupa, tapi tidak pada satu tempat yang sama. Keduanya berbeda kamar mandi, Delavar berada di dekat dapur dan Amartha di dalam kamar.


Setelah keduanya bersih dan menggunakan pakaian santai, Delavar mengetuk pintu kamar Amartha yang tertutup. “Apa kau sudah selesai?” tanyanya sedikit meninggikan volume agar terdengar sampai dalam.


“Sudah,” sahut Amartha.


Delavar pun membuka pintu sangat hati-hati dan memicingkan mata saat melihat penampilan Amartha yang nampak segar. Buru-buru menggelengkan kepala sebelum lamunannya dirasuki oleh hasutan setan. “Kita ke mansion keluargaku, ya? Aku ada urusan sebentar di sana, sekaligus sarapan bersama keluargaku, oke?” ajaknya.


Delavar baru saja mendapatkan kabar dari salah satu pelayan yang bertugas untuk memantau Papa Max. Pak tua itu berulah lagi dan membuat pelayan itu pusing menghadapi.


Amartha memutar bola matanya. “Kau pulang saja, aku di apartemen sendiri tak apa.” Jawabannya jelas jika tak mau ikut ke mansion.


“Tidak, Amartha, aku tak akan meninggalkanmu sendirian,” tolak Delavar tak sepakat. “Kau mau aborsi? Maka turuti perintahku, nanti aku tanyakan pada mommy, di mana ada dokter yang bagus untuk menangani hal itu. Tapi kau harus ikut pulang denganku,” bujuknya.

__ADS_1


Amartha menghela napas panjang. “Oke.” Dengan berat hati, dia pun menyepakati.


“Kau mau memakai pakaian itu atau ganti dulu?” tawar Delavar seraya menunjuk Amartha menggunakan dagu.


Dan otomatis mata Amartha melihat penampilan dirinya di cermin besar di dalam kamar. “Apakah ini buruk?” Dia meminta pendapat Delavar.


Delavar saat ini tengah bersandar di kusen pintu dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana. “Tidak, kau tetap cantik mau memakai apa saja,” jawabnya dengan jujur.


“Aku ganti saja kalau begitu,” ucap Amartha setelah menimbang jika penampilannya terlalu terbuka. Padahal tidak menurut Delavar. Tapi yasudahlah, turuti saja.


“Oke, aku tunggu.” Delavar pun menutup pintu lagi dan tak berniat untuk mengintip.


Lima menit kemudian, Amartha keluar dari kamar. Celana jeans panjang, berpadu dengan kemeja berwarna hitam, dan terbalut jaket cokelat dengan bulu-bulu di kerahnya sudah membungkus seonggok daging yang bernyawa itu. Rambutnya terurai indah.

__ADS_1


Delavar mengulurkan tangannya. Siapa tahu Amartha mau berjalan dengan menggandeng tangannya. Namun dia tak memaksa, hanya memberikan pilihan saja.


Amartha menatap sejenak telapak tangan Delavar yang terlihat kekar. Dia melemparkan senyum dan mengulurkan tangannya agar menyatu dengan pria itu.


Jelas saja hati Delavar berbunga-bunga. Akhirnya dia bisa bergandengan tangan dengan Amartha. Dan yang perlu digaris bawahi adalah tanpa paksaan. Kedua sudut bibirnya terangkat sempurna membentuk senyum yang sangat manis.


Delavar menggenggam tangan Amartha erat, seolah tak rela jika mereka akan terlepas saat sudah sampai di mobil.


“Bagaimana caraku masuk?” tanya Amartha. Dia sudah membuka jemari lentiknya, tapi Delavar belum.


Delavar terkekeh seraya mengucapkan maaf. “Tanganmu membuatku nyaman, sampai tak rela jika harus melepasmu,” jawabnya dengan memberikan alasan.


Amartha mengulas senyum samar saat tubuhnya mulai masuk ke dalam mobil. Dan Delavar memutari kendaraan pribadinya, lalu duduk di balik kursi kemudi.

__ADS_1


__ADS_2