I’M Not A Virgin

I’M Not A Virgin
Part 81


__ADS_3

...Warning: ada adegan kekerasan, yang enggak kuat skip aja...


...*****...


Sour ternyata sudah dikeroyok oleh pengunjung di sana setelah melihat ada Delavar keluar dan menghabisi pria sok berkuasa alias Christoper. Mereka baru berani membantu setelah ada orang yang lebih kuat.


“Sial!” umpat Christoper.


Untuk sesaat Delavar melupakan Amartha. Fokusnya tertuju pada ingin menghabisi Christoper karena pria itu tak kapok juga.


Delavar berjongkok, menarik sebelah sudut bibirnya sinis saat melihat wajah Christoper sudah mengeluarkan darah dari hidung dan mulut. Tak berbelas kasihan, itulah Delavar jika menghadapi musuhnya. Tangannya menarik rambut Christoper. “Tadi kau menjambak Amartha seperti ini, iya?” bentaknya.


Delavar menyeret paksa tubuh Christoper yang terseok-seok di lantai. Membawa pria itu ke bagian kasir. “Berikan aku pisau yang sangat tajam!” titahnya kepada salah satu pelayan di coffee shop itu.


“Ba—baik.” Pelayan itu sampai terbata-bata karena gemetaran melihat betapa brutalnya salah satu pengunjungnya. Tak berselang lama, dia kembali lagi. “Ini, Tuan.” Tangannya menyodorkan benda tajam yang diminta.

__ADS_1


“Letakkan di situ!” titah Delavar menunjuk samping komputer kasir.


“Mau apa kau dengan pisau itu?” tanya Christoper.


“Terserah aku mau apa.” Delavar menjambak ke atas rambut Christoper hingga kepala pria itu tersentak ke atas. Mendongakkan wajah yang tadi seperti menantangnya kini berubah menjadi tak berdaya.


Plak! Plak!


“Tadi kau menampar wanitaku, kan? Itu adalah balasannya!” Delavar membuat cap telapak tangannya di kedua pipi Christoper.


Tidak berhenti di situ saja. Delavar menarik tangan Christoper dan diletakkan ke atas meja berbahan marmer. Dia meraih pisau dan menyayat telapak Christoper. “Kau sudah berani menyentuh wanitaku, maka rasakan akibatnya!”


Delavar bukan hanya menyayat. Tapi menguliti telapak Christoper hingga daging dan ototnya terlihat jelas.


“Tanganku ...!” teriak Christoper saat melihat bagian tubuhnya itu sudah mengenaskan.

__ADS_1


Layaknya psikopat tampan, Delavar justru menyeringai mendengar pria itu kesakitan. Dia menjambak rambut Christoper lagi hingga mendongak ke arahnya. Tangannya menggerakkan pisau menyentuh lengan Christoper hingga pakaian pria itu robek dan meninggalkan bekas luka di sana. Dan benda tajam itu berhenti di wajah pria yang tak ada apa-apanya dibanding dirinya.


“Sudah ku katakan, aku akan menguliti wajahmu. Maka jangan salahkan aku jika sepulang dari sini kau sudah buruk rupa,” ucap Delavar seraya meninggalkan sayatan di pipi Christoper.


“Argh ... Iblis! Kau benar-benar tak berperikemanusiaan!” raung Christoper saat merasakan wajahnya terluka.


“Memang, kau baru tahu kalau aku iblis?” balas Delavar sangat santai.


Delavar sungguh menguliti pipi sebelah kanan Christoper. “Enak bermain-main dengan aku? Jika iya, kau bisa mencari masalah denganku lagi, dengan senang hati aku akan menghabisimu,” ucapnya seraya menepuk bagian wajah yang sudah terlihat urat serta dagingnya itu.


Tentu saja Christoper merasakan perih, sakit, bahkan kepalanya sekarang pusing. “Akan ku balas suatu saat nanti,” ancamnya.


Delavar menaikkan sebelah alisnya. “Masih berani denganku setelah ku buat wajahmu setengah cacat? Atau perlu ku congkel sebelah matamu?” tanyanya seraya mengarahkan pisau berujung runcing ke arah mata Christoper tapi tidak dia belum melukai indera penglihatan pria itu.


“Bunuh dia!” teriak Amartha.

__ADS_1


Membuat Delavar menengok ke belakang. Dia melihat Amartha sudah mendelik marah dengan mata melotot dan merah.


“Bunuh dia! Pria itu sangat keji, tak pantas hidup di dunia ini!” pinta Amartha dengan menunjuk ke arah Christoper.


__ADS_2