I’M Not A Virgin

I’M Not A Virgin
Part 115


__ADS_3

Selama dua minggu ini Delavar memilih libur tidak bekerja dan digantikan oleh Daddy Davis untuk sementara waktu. Dia ingin mempersiapkan pernikahannya yang kini tinggal menghitung empat belas hari lagi.


Siang ini Delavar dan Amartha baru saja selesai mendaftarkan pernikahan ke Helsinki Cathedral. Kebetulan pada tanggal yang keduanya inginkan sedang tidak ada mempelai lain yang ingin menikah di hari itu juga.


“Kita lihat penthouse yang akan ditinggali setelah menikah, ya?” ajak Delavar saat keduanya sudah masuk ke dalam mobil yang terparkir tak jauh dari area Helsinki Cathedral.


Delavar tidak mau tinggal terus menerus di apartemen milik Amartha. Dia laki-laki dan seharusnya memenuhi segala kebutuhan istrinya kelak, sehingga dirinya memaksa Amartha agar mau tinggal di penthouse yang baru dibeli satu minggu lalu.


Keputusan keduanya tak membangun mansion karena masih hidup berdua dan tidak membutuhkan tempat tinggal yang terlalu besar. Tapi tetap mulai dari sekarang Delavar akan mencicil untuk pembangunan rumah masa depan keluarganya yang semoga saja akan bertambah banyak setelah menikah nanti.


“Boleh.”


Delavar melajukan kendaraannya menuju The Royal Penthouse. Tempat di mana banyak kalangan atas tinggal di sana.

__ADS_1


Setelah memarkirkan kendaraan, Delavar segera membukakan pintu dan menggandeng Amartha saat berjalan. Bahkan di dalam lift juga dia tak melepaskan tangan wanitanya.


“Apa tempat tinggal baru kita ada di lantai paling atas?” tanya Amartha yang baru kali ini diajak ke sana.


“Iya, di sana memiliki pemandangan paling bagus diantara lantai lainnya. Kau bisa melihat seluruh Kota Helsinki dari balkon,” jelas Delavar menyampaikan alasannya memilih lantai tertinggi. “Apa kau keberatan? Jika iya, aku akan memberikan itu pada Dariush, dan membeli lagi sesuai yang kau inginkan.”


Amartha menggeleng pelan. “Tidak, aku hanya ingin tahu saja alasanmu memilih di sana.”


“Kurang diisi furniture saja. Kalau kau ada permintaan, katakan padaku. Tempat ini kita tinggali berdua dan aku ingin kau juga nyaman di penthouse ini,” pinta Delavar seraya memperlihatkan seluruh ruangan yang masih kosong.


“Aku ingin yang simple, tapi tetap terkesan modern dan rapi,” jawab Amartha. Dia membuka gorden yang menutup dinding kaca serta pintu menuju balkon.


Tubuh Amartha keluar untuk menghirup udara segar di balkon. Sorot matanya menyapu ke arah hamparan Kota Helsinki, dan benar saja jika di sana sangat bagus pemandangannya. Apa lagi saat malam hari.

__ADS_1


“Oke, Sayangku. Aku akan meminta arsitek mendesain tempat tinggal kita ini.” Delavar memeluk dari belakang tubuh ramping calon istrinya, dan ikut melihat pemandangan di luar.


...........


Setelah melihat penthouse baru, Amartha dan Delavar pulang ke apartemen yang mungkin tak lama lagi akan ditinggalkan keduanya setelah menikah. Mereka langsung tidur karena memang tubuh sangat lelah setelah seharian penuh beraktivitas di luar.


Waktu pun semakin larut, Amartha yang sudah tidur beberapa jam itu terbangun karena merasa haus. Dia mengambil ponsel yang ada di atas nakas untuk melihat jam. “Baru jam dua belas,” gumamnya.


Mata Amartha perlahan mengerjap karena melihat sepertinya ada pesan dari nomor yang tidak dikenal. “Siapa ini?” gumamnya berpikir sendiri tapi belum membuka isi chat tersebut.


Amartha mengurai tangan Delavar yang melingkar di perutnya. Kaki jenjangnya perlahan turun menginjak lantai. Sembari menguap, dia membawa ponsel tersebut ke dapur.


Amartha berencana untuk menghilangkan hausnya terlebih dahulu sebelum membuka pesan tersebut.

__ADS_1


__ADS_2