
Amartha segera berlari menuju walk in closet sebelum tubuhnya ditarik oleh calon suaminya karena ketahuan mengerjai Delavar. Bibirnya terus mengulas senyum seorang diri di dalam ruangan yang besar itu sembari mencari pakaian tidur untuk pria spesial di dalam hatinya.
“Ini saja mungkin?” gumam Amartha seraya mengambil dua potong kain pendek dengan warna senada dan tanpa corak.
Saat Amartha kembali mendekati ranjang, ternyata calon suaminya sudah kembali memejamkan mata dengan posisi terlentang. “Delavar, mau pakai sendiri apa aku gantikan?” Dia memberikan penawaran saat sudah duduk di atas kasur empuk yang tertutup kain sprei lembut berwarna abu-abu tua.
“Kau saja yang pakaikan, aku lelah sekali,” jawab Delavar dengan suara lirih.
“Baiklah. Aku buka bajunya, ya?” Amartha semakin mendekat, dia membuka penutup bagian tubuh atas, dan sabuk yang mengerat di pinggang sang pria. “Jangan jahil,” peringatnya sebelum Delavar balas mengerjai.
“Hm ....” Delavar hanya bergumam tak jelas. Tapi dia bisa merasakan jika saat ini Amartha tengah melepas jas dan kemeja, lalu memakaikan kaos, dan berganti meloloskan kain panjang biru gelap yang dipakai sejak kemarin.
__ADS_1
“Em ... dalamnya tak perlu diganti, ya?” pinta Amartha saat melihat penutup terakhir di daerah pinggul ke bawah.
“Tak perlu, nanti saja aku ganti sekaligus mandi.” Dia tetap saja enggan untuk membuka mata karena seperti sangat lengket kelopak matanya, tapi masih bisa diajak bicara.
“Oke.” Amartha pun memakaikan boxer pendek.
Dan saat tak sengaja tangan itu menyenggol sesuatu yang sedang mengkerut, suara mengejutkan pun mengudara di ruangan tersebut.
Amartha yang terkejut pun reflek melayangkan telapak tangannya dengan tenaga kecil ke bagian di sela-sela pangkal paha.
“Aw ...,” pekik Delavar. Dia langsung menutupi bagian intim itu menggunakan kedua tangannya. “Jangan digeplak, Sayang. Ini aset berharga,” beri tahunya.
__ADS_1
“Maaf, aku tadi reflek karena kau mengagetkan dengan suara mendesahmu itu.” Amartha menyingkirkan tangan Delavar dan mengelus area yang tadi mendapatkan serangan dadakan. “Aset berharganya jangan rusak, ya? Maafin Mommy karena membuatmu terkejut,” cicitnya pada pabrik pembuatan calon anak-anaknya bersama Delavar kelak.
“Jangan dielus kalau tubuhmu belum siap aku nikmati, Sayang. Kau bisa membangunkan sesuatu yang bersarang di balik dalaman itu,” peringat Delavar.
Tangan kekar Delavar pun menarik Amartha hingga terjatuh di atas tubuhnya. “Aku sedang sangat lelah, ingin tidur sebentar, jangan menggodaku dulu,” perintahnya seraya mengeratkan pelukan.
“Delavar, posisinya tak enak untuk kau tidur. Apa tidak berat jika aku di atasmu seperti ini?” Amartha mencoba untuk berpindah posisi tapi karena kendali tubuhnya ada di tangan calon suami, sehingga sulit bergerak.
“Tidak, apa lagi jika kau mau bergoyang di atasku,” bisik Delavar. Dia mengunci tubuh wanitanya menggunakan kaki yang melingkar di paha Amartha, dan tangan yang merengkuh punggung.
“Tidur miring saja, ya? Itu paling enak untuk kita berpelukan.” Amartha mencoba memberikan penawaran karena tentu saja dia gugup dengan posisi saat ini.
__ADS_1
“Sure.” Delavar memiringkan tubuh, namun sedikit demi sedikit merosot ke bawah hingga wajah tampan yang terpejam itu bersemayam pada dada, tepat berada di belahan yang gagal untuk dia lihat. “Biarkan sementara tidur dengan posisi ini, aku hanya ingin istirahat dengan nyenyak,” pintanya agar Amartha tak menolak karena Delavar sudah nyaman dan siap untuk ke alam mimpi.