
Delavar segera berlari memasuki bangunan utama dan menuju kamarnya. Dia baru sampai di kediaman orang tuanya saat waktu menunjukkan dini hari.
Napas Delavar sampai terengah-engah setelah sampai di depan pintu ruangannya. Tangannya langsung meraih handle dan membuka dengan gerakan cepat.
“Huh ....” Delavar menghembuskan napasnya lega saat melihat ada sosok wanita yang sedang berdiri di dekat jendela dan menatap ke arah luar. Dia pikir ada penyusup yang berani masuk ke dalam kamarnya untuk menculik Amartha. Ternyata wanitanya masih utuh dan saat ini sedang menatap ke arahnya.
“Delavar, kau dari mana?” tanya Amartha. Dia berbalik badan saat mendengar ada suara pintu terbuka. Dan bisa bernapas lega karena orang yang ditunggu akhirnya menunjukkan batang hidungnya juga.
Kaki Delavar kian mengayun mendekati Amartha. “Ada urusan penting bersama Dariush,” jawabnya.
“Pekerjaan?”
__ADS_1
Delavar tersenyum seraya menganggukkan kepalanya. “Iya.” Sembari menjawab, tangannya menutup jendela agar angin tak masuk ke dalam.
Delavar semakin mendekati Amartha, menyingkirkan anak rambut yang menempel di dahi wanita itu. Namun sorot matanya menatap lekat pada wajah cantik yang semakin lama justru membuatnya bertambah cinta, padahal wanita itu juga tak melakukan apa pun padanya. “Kenapa bangun? Apa tidurmu tak nyenyak?” Nada bicaranya yang mengandung pertanyaan itu terdengar sangat lembut.
Amartha mengulas senyum tipisnya. Tidak mungkin dirinya mengatakan jika menunggu Delavar pulang saat mengetahui pria itu pergi. Hatinya masih cukup gengsi untuk mengutarakan hal tersebut. “Aku terbangun dan tak bisa tidur lagi, jadi aku mencari udara segar saja dengan membuka jendela,” kilahnya. Padahal, dia menatap ke arah luar karena ingin melihat apakah ada mobil yang masuk ke mansion atau tidak.
Delavar menggenggam tangan Amartha dan menuntun wanita itu ke ranjang. Tangannya mengelus lembut rambut bercat pirang yang kini sudah halus lagi karena dia rawat. “Takut tidur sendiri? Mau ku temani?” tawarnya.
“Tunggu sebentar, aku mandi dulu, ya? Badanku sangat lengket,” pintanya. Dan tubuhnya segera masuk ke dalam kamar mandi yang ada di walk in closet pribadinya.
Amartha menunggu dengan tiduran di atas kasur berukuran sangat besar dan empuk. Matanya hanya mengerjap menatap langit-langit tanpa bisa terlelap.
__ADS_1
Suara alas kaki yang keluar dari dalam walk in closet pun membuat Amartha mengalihkan pandangan. Bibirnya tersenyum tipis saat melihat Delavar memakai celana boxer polos berwarna hitam dan kaus putih. Rambut pria itu terlihat memantulkan cahaya karena masih basah. Sesaat dirinya mengagumi postur tubuh dan wajah yang memang harus diakui ketampanan dan kegagahannya. Tapi Amartha juga tak melupakan jika Delavar perhatian dan melindunginya walaupun dengan cara sadis
“Kenapa menatapku seperti itu? Apa kau tak suka melihat aku memakai pakaian yang terlalu pendek dan ketat seperti ini?” tanyanya saat menangkap jelas jika sorot mata Amartha tak berkedip ke arahnya. “Aku akan ganti jika kau tak suka,” imbuhnya bersiap untuk kembali masuk ke dalam walk in closet.
Amartha menggeleng hingga rambutnya bergesekan dengan bantal. “Tidak, pakai saja jika kau nyaman tidur menggunakan itu,” jawabnya.
Delavar pun mengurungkan niat untuk berganti pakaian, kakinya menuntun menuju sofa panjang yang ada di kamarnya yang berukuran luas. Pantat pun terhempas pada tempat empuk itu. “Tidurlah, aku akan menemanimu di sini. Jadi, tak perlu takut,” titahnya seraya merebahkan diri di sana.
“Kenapa tidur di situ?” tanya Amartha heran. Padahal sisi di sampingnya masih luas.
“Aku takut kau belum siap tidur berdua denganku, maka lebih baik aku yang mengalah saja,” jelas Delavar sangat jujur dan santai. Jika ditanya ingin tidak tidur berdua dengan Amartha, tentu saja dia ingin. Tapi kembali lagi, dia tak ingin memaksakan diri.
__ADS_1
“Sini, ranjangnya masih luas.” Amartha menepuk sisi kanannya yang bahkan cukup jika ditambah tiga orang dewasa lagi.