
Amartha menatap nanar ke arah monitor yang memperlihatkan sebuah bulatan namum tak sempurna. Rasanya dia ingin menangis saat itu juga. Bukan karena terharu, tapi dia tak menginginkan janin yang ada di dalam kandungannya. Sekuat tenaga Amartha menahan cairan bening yang ingin menerobos keluar dari benteng pertahanannya.
“Berapa usia janinku, dok?” tanya Amartha masih terlihat tegar karena ini tempat umum dan dia tak ingin memperlihatkan bahwa saat ini dirinya sedang tak baik-baik saja.
“Jika dilihat dari ukuran janinnya, baru memasuki enam minggu, Nona,” jawab dokter itu seraya membersihkan gel yang masih tersisa di permukaan perut pasiennya.
“Apakah di sini bisa aborsi?” Amartha bertanya lagi, dia benar-benar tak menginginkan anak dalam kandungannya.
“Maaf, Nona, di sini tidak melakukan praktik tersebut. Aborsi adalah tindakan ilegal yang dilarang, itu sama saja membunuh calon makhluk hidup,” jelas dokter tersebut. Dia tak berniat untuk ikut campur urusan pribadi pasiennya, cukup menjelaskan yang memang harus disampaikan untuk Amartha saja.
Amartha menghela napas, kakinya terasa lemas untuk sekedar turun menyentuh lantai saat dokter obgyn memberikan perintah duduk kembali ke kursi. Bahkan dia tak mendengarkan dengan jelas apa yang disampaikan oleh wanita dengan jas berwarna putih di hadapannya.
__ADS_1
“Nona,” panggil dokter itu sekali lagi. Dia pun menyentuh tangan Amartha dan membuat pasiennya terlonjak kaget.
“Ya?” Amartha tersadar dari lamunannya.
“Ini resep vitamin untuk kandungan Anda, bisa diambil ke apotik,” tutur dokter itu sekali lagi. Dia tadi sudah menjelaskan, tapi pasiennya seperti tak memperhatikan.
“Terima kasih.” Amartha pun mengambil selembar kertas dengan tulisan yang dia sendiri tak bisa baca.
Amartha tak berniat menebus vitamin yang diresepkan oleh dokter. Dia langsung menuju jalan raya setelah membayar biaya periksa dan memberhentikan taksi.
Lagi pula untuk apa juga dia memberikan vitamin pada janin yang sangat ingin dia singkirkan itu? Yang ada dalam pikirannya saat ini hanyalah cara untuk mengeluarkan janin dalam rahimnya sebelum bernyawa.
__ADS_1
“Nona, kita sudah sampai tujuan,” ucap supir taksi tersebut.
Amartha menjadi tak fokus karena memikirkan hidupnya yang begitu miris sampai tak sadar jika taksi sudah berhenti di depan apartemen barunya. Dia segera membayar dan turun dari kendaraan roda empat berwarna kuning itu.
Kaki Amartha tak langsung mengayun memasuki gedung yang menjulang tinggi di hadapannya. Dia justru ke sebuah supermarket yang tak jauh dari tempatnya berdiri saat ini.
Amartha membeli banyak sekali minuman beralkohol tinggi. Otaknya sedang blank tak bisa memikirkan apa pun selain ingin mabuk dan berharap kandungannya akan melemah jika dia melakukan hal itu.
“Totalnya seratus euro, Nona.” Kasir itu pun harus mengulangi ucapannya juga.
Dan sebuah tangan dari orang yang sedang mengantri di belakang Amartha menepuk pundak wanita yang sedang belum bisa menerima kenyataan hidup itu. “Nona, tolong segera membayar! Antrian masih panjang!” tegurnya sinis.
__ADS_1
Pandangan Amartha terlihat kosong saat itu, bibirnya tak mengucapkan sepatah kata pun. Padahal seharusnya dia meminta maaf karena sudah membuat banyak orang menunggunya memberikan uang pada kasir.