
Setelah selesai memberi makan Papa Max dan memastikan pak tua itu menghabiskan hidangan sisa semalam, tubuh Delavar berdiri hendak meninggalkan tawanannya.
Namun saat Delavar hendak mengayunkan kaki, pak tua itu sudah mengeluarkan suara yang membuatnya mengurungkan niat meninggalkan gudang.
“He! Mana minumku? Kau hanya memberiku makan tanp minum!” seru Papa Max yang sedang dipegangi oleh dua pelayan dan hendak didudukkan kembali ke kursi.
Delavar berbalik badan, menatap dengan wajah mengejeknya. “Oh, rupanya kau butuh minum juga,” balasnya dengan menyindir.
“Jelas! Jika menyiksa orang tua yang berperasaan sedikit! Kualat kau baru tahu rasa!” umpat Papa Max diiringi kutukan-kutukan yang keluar dari mulutnya.
“Jika orang tua yang ku siksa seperti dirimu, tak ada istilah kualat!” balas Delavar meremehkan. “Kau itu bukan spesies pak tua yang harus dihormati, sadar diri sedikit jadi orang!” imbuhnya sangat frontal.
__ADS_1
Delavar pun memberikan perintah pada salah satu pelayan. “Ambilkan air dari kran, tawananku sedang kehausan. Jangan sampai dia dehidrasi lagi!”
Seorang pria berpakaian kemeja putih terbalut rompi hitam seperti seragam pelayan di mansion Dominique itu segera keluar dan beberapa saat kemudian masuk lagi. Dia memberikan satu gelas berisi cairan berwarna bening kepada majikannya.
“Kau mau dengan paksaan atau suka rela?” tawar Delavar memberikan pilihan.
“Suka rela,” jawab Papa Max. Dia sudah merasakan bagaimana kejinya Delavar jika memaksa, sehingga lebih baik tak memantik emosi pria itu untuk saat ini. Toh nanti malam pun sudah dijanjikan akan bisa menghirup udara bebas lagi.
“Well, urusan kita hari ini sudah selesai,” ucap Delavar seraya membuka sarung tangan yang membuat telapaknya berkeringat. Matanya menatap tiga pelayan secara bergantian. “Keluar, dan tinggalkan pak tua itu sendirian di sini!” titahnya.
Ketiga pria dengan postur tubuh yang tak terlalu besar atau kecil, proporsional bagi ukuran pelayan itu pun mengayunkan kaki mengikuti langkah sang majikan. Saat Tuan Delavar berhenti pun mereka juga ikut berdiam diri.
__ADS_1
Delavar membuang sarung tangan ke tempat sampah dan menatap tajam pelayan mansionnya. “Jangan sampai kejadian di gudang terdengar oleh siapa pun, ini rahasia kita!” perintahnya dengan nada yang mengandung ketegasan. “Jika kalian ingin hidup nyaman dan bekerja enak di sini, maka lakukan perintahku, kunci mulut kalian!” ancamnya kemudian. Dia tak sungguh-sungguh, hanya menggertak saja agar berita kesadisannya tak menyebar.
“Baik, Tuan.” Tentu saja pelayan itu menurut. Mereka sudah melihat bagaimana sisi lain seorang Delavar Doris Dominique yang tak berperasaan.
“Good.” Delavar pun naik ke buggy car lagi dan kembali ke mansion. Dia tak masuk ke bangunan utama, tapi berhenti di taman dan menemui daddynya serta Danesh.
“Bapak-bapak mengobrol apa? Ukuran bra istri kalian yang semakin bertambah dari saat masih gadis?” seloroh Delavar seraya duduk diantara dua anggota keluarganya. Tangannya mengambil keripik sehat dari perusahaan yang dikelola oleh si bungsu.
Daddy Davis dan Danesh berdecak dan bergeleng kepala. Keduanya pun bersamaan menoyor Delavar. “Pikiranmu kotor terus, kau harus mencucinya agar bersih,” ejek mereka bersamaan.
“Tapi tebakanku benar, kan?” Delavar menaik turunkan alisnya menggoda saudaranya. “Tadi tanganmu begini.” Dia mempraktikkan bagaimana Danesh seperti membuat cup di dada.
__ADS_1