I’M Not A Virgin

I’M Not A Virgin
Part 117


__ADS_3

Delavar mengerjap, tangannya menyapu ke ranjang saat tak merasakan ada seseorang di sampingnya. Dia segera membuka kelopak mata dan benar saja, tak ada Amartha. “Ke mana dia?” gumamnya.


Delavar segera meninggalkan tempat tidur untuk mencari wanitanya yang tak biasa pergi sebelum dirinya bangun. Pasti tidak ada di kamar mandi, karena lampunya saja mati yang artinya tak menunjukkan ada kehidupan di sana.


Kaki Delavar mengayun keluar kamar. Bahkan saat ini dia hanya memakai celana boxer berwarna hitam yang pendek. Tapi helaan napas lega terdengar keluar dari bibir itu, tat kala melihat calon istrinya sedang berkutat di dapur.


Delavar tentu saja langsung menghampiri Amartha dan memeluk wanita itu dari belakang. Menyandarkan dagu di pundak calon istrinya. “Masak apa, Sayangku?” Dia mengajukan pertanyaan dengan suara berbisik di telinga wanitanya.


Tentu saja hal itu membuat Amartha geli. Hembusan napas Delavar saja menyapu di kulit lehernya yang sensitif. “Membuat sarapan untuk calon suamiku tersayang,” jawabnya.

__ADS_1


Amartha sudah biasa dengan kelakuan Delavar yang seperti itu. Sedikit-sedikit memeluk tanpa pemberitahuan. Tapi hal tersebut justru membuatnya semakin merasakan bahwa Delavar memang mencintainya, bukan sekedar napsu belaka. Sebab, berulang kali dia menolak saat pria itu menginginkan sesuatu, pasti tak pernah marah atau memaksanya, dan mau menunggu sampai siap.


Kaki Amartha mengayun menuju rak penyimpan alat makannya untuk mengambil sendok. Memang sedikit berat berjalan dengan beban di pundak dari pria berotot kekar itu, tapi tak masalah. Dia senang Delavar manja padanya, artinya pria itu sangat membutuhkannya.


Amartha mengambil sedikit masakannya menggunakan sendok. Mematikan kompor sebentar, lalu melepas pelukan Delavar dan membalik tubuh agar berhadapan dengan calon suaminya. “Coba dicicip masakanku, enak atau tidak,” pintanya seraya menyuapi pria yang tetap saja manis dan tampan walaupun baru bangun tidur dan rambut masih acak-acakan.


Delavar mengunyah makanan tersebut dan merasakan dengan indera pengecapnya. “Enak sekali,” pujinya. Kini masakan Amartha tak keasinan seperti saat membuatkan salad untuknya waktu itu. Dia kian merapatkan pinggul keduanya hingga tanpa jarak.


“Tidak, aku sudah mencicipi sendiri,” tolak Amartha dengan menjulurkan lidahnya karena tahu ke mana arah pikiran calon suaminya itu.

__ADS_1


“Lebih enak jika kau merasakan dari bibirku secara langsung. Pasti rasanya sangat nikmat,” bisik Delavar di telinga Amartha.


Dan pria itu pun menyatukan bibir untuk mencium calon istrinya. Memberikan sensasi dari lidah yang masih menyisakan rasa masakan Amartha.


“Morning kiss, untuk orang terkasihku. I love you, Amartha,” ucap Delavar setelah menyudahi ciuman keduanya dan beralih mengecup kening calon istrinya.


“Love you more, Delavar,” balas Amartha. Dia melepaskan pelukan pria itu. “Aku siapkan sarapan untuk kita dulu,” izinnya seraya mengambil piring. “Kau cuci wajahmu sebelum makan,” perintah Amartha dengan lembut tanpa menatap ke arah sang pria karena saat ini sedang sibuk dengan urusannya sendiri.


“Aku ke kamar mandi sebentar.” Sebelum meninggalkan Amartha, dia mengecup pipi calon istrinya itu.

__ADS_1


Mengungkapkan rasa cinta dan kasih sayang menggunakan bahasa tubuh bisa membuat hubungan semakin mesra dan awet. Itulah yang Delavar inginkan, sehingga selalu menempel pada Amartha.


__ADS_2