
“Apanya yang aneh?” sahut Delavar melirik ke arah samping di mana Amartha duduk.
“Aku merasakan masih seperti ada benda yang masuk dari bawah.”
Delavar mengluas senyumnya. Tangan kekar itu meraih dan mengelus pipi Amartha setelah menghidupkan fitur autopilot. “Nanti, saat pabrik pembuatan anak kita menyatu, rasanya kurang lebih seperti itu. Hanya saja yang masuk ukurannya lebih besar lagi,” godanya dengan mengerlingkan mata.
“Delavar, kau itu kenapa selalu obrolannya menjurus ke sana?” tegur Amartha. Dia memukul pelan paha calon suaminya.
Anak ketiga keluarga Dominique itu tentu saja terkekeh. “Sebenarnya aku itu sudah ingin melakukan hal itu denganmu,” jujurnya diiringi cengiran yang menunjukkan gigi putih.
Amartha hanya berdecak dan menggelengkan kepala. Tidak menyangka jika akhirnya akan menikah dengan seorang pria seperti Delavar. Perhatian, humoris, sadis, tapi manja saat bersama pasangan. Jika sedang di luar pun selalu menjaga pandangan mata.
“Kenapa menatapku terus? Suka, ya?” tanya Delavar seraya menggoda Amartha dengan jemari yang menoel dagu wanita itu.
__ADS_1
“Tentu saja suka. Kalau aku tidak menyukaimu, maka tak mungkin mau menikah dengamu,” balas Amartha. Dia menjulurkan lidah untuk membalas ejekan calon suaminya.
“Cium aku kalau kau menyukaiku,” pinta Delavar seraya mencondongkan bibirnya ke arah Amartha.
“Selalu curi kesempatan dalam kesempitan,” cicit Amartha. Tapi tetap saja wanita itu meraih tengkuk Delavar dan keduanya mengadu lidah di dalam mobil.
Untung saja mobil pribadi milik Delavar memiliki fitur autopilot, sehingga bisa melaju sendiri tanpa dioperasikan oleh supir.
“Temani aku ke mall, mau?” pinta Amartha.
“Boleh, apa yang tidak untuk orang tersayang? Apa pun akan aku lakukan, kecuali berenang menyebrangi lautan,” setuju Delavar diiringi kelakarannya.
“Kenapa? Itu namanya bukan semua akan kau lakukan jika masih ada pengecualian,” timpal Amartha dengan kepalanya menggeleng merutuki prianya yang teramat menggemaskan itu.
__ADS_1
“Karena aku bisa mati jika nekat melakukan itu. Kalau aku tiada, nanti kau jadi janda. Terus, siapa yang akan merawatmu?” jelas Delavar. Tetap saja pria itu menggoda Amartha seolah tak ada lelahnya. Apa lagi saat ini mengecup permukaan kulit wanitanya.
“Bisa saja kau itu, nanti aku jadi semakin cinta.” Amartha ternyata sudah sedikit tertular juga. Dia ikut menggoda calon suaminya.
“Bagus dong. Jadi, kau akan selalu menempel padaku dan kita bisa hidup berdua sampai maut yang memisahkan.” Kerlingan mata genit itu muncul dari wajah Delavar yang nampak manis.
Kendaraan roda empat itu pun kembali diambil alih kendalinya oleh Delavar. Dia melajukan mobil menuju Stockmann Helsinki Department Store.
“Jangan turun, biar aku yang membukakan pintu untukmu agar terlihat romantis,” pinta Delavar setelah kendaraannya berhenti di tempat parkir.
Delavar segera membuka seatbeltnya dan turun memutari bagian depan mobil hingga kini berada di samping kemudi. Dia membukakan pintu untuk Amartha dan tangannya terulur. “Selamat datang di Stockmann, calon istriku yang cantik,” ucapnya saat tubuh sang wanita keluar dari kendaraan.
Amartha mencubit pipi Delavar dengan gemas. “Kau seperti pegawai di sini jika seperti itu,” ejeknya disela langkah kaki yang mulai mengayun.
__ADS_1