I’M Not A Virgin

I’M Not A Virgin
Part 163


__ADS_3

Mama Lylac langsung berdiri di hadapan kamera. Merebut microphone yang sedang dipegang oleh reporter. “Halo semuanya, aku Lylac Debora. Orang tua dari mempelai wanita yang saat ini sedang berbahagia.” Dengan percaya diri, dia mengucapkan kalimat tersebut.


Reporter dan kameramen langsung menaikkan sebelah alis. Antara harus percaya atau tidak dengan informasi tersebut.


Dan pria yang memegang kamera pun memberikan isyarat pada rekannya untuk mengambil kembali microphone.


“Ya, baik. Terima kasih atas perkenalan dirinya, Nyonya Debora.” Reporter itu pun merebut paksa benda yang ada di tangan Mama Lylac.


Dan crew televisi pergi menjauh dari wanita paruh baya itu agar tidak mengganggu liputannya yang sedang disiarkan secara langsung.


“What? Sungguh tak menghargaiku sedikit pun!” umpat Mama Lylac dengan kesal.


Delavar yang kebetulan sedang berdiri tak jauh dari mertuanya pun sedari tadi mengamati gerak gerik Mama Lylac. Dia cukup bergeleng kepala dengan kelakuan wanita itu.


“Kau mau menemui Mamamu?” tanya Delavar pada Amartha. Sejak sampai ke kapal, mereka belum mendapatkan ucapan selamat sedikit pun dari Mama Lylac.

__ADS_1


“Boleh, jika kau tidak keberatan,” jawab Amartha seraya mengeratkan tangan yang melingkar di lengan suaminya.


Delavar pun menuntun Amartha mendekati Mama Lylac. Dan berdiri di hadapan wanita yang sedang celingukan seorang diri.


“Nyonya Debora, adakah yang ingin kau sampaikan pada kami?” Delavar memancing mertuanya untuk melontarkan ucapan selamat seperti keluarganya yang lain. Namun, dia enggan memanggil Mama Lylac dengan Mommy ataupun Mama.


“Ah, kebetulan ada kau di sini.” Mama Lylac hendak memegang pundak Delavar. Tapi pria itu sudah mundur agar tak tersentuh.


“Memangnya ada apa?”


Delavar menarik sebelah bibirnya sinis. “Apakah kau tidak keterlaluan? Anakmu baru saja menikah, tapi tidak mengucapkan selamat.”


Mama Lylac menepuk jidatnya. “Maaf, aku benar-benar lupa.” Dia pun mendekati Amartha dan memeluk putrinya. “Selamat, Sayang. Akhirnya kau bisa mewujudkan satu mimpiku, mendapatkan besan yang kaya.”


“Terima kasih, Ma.” Amartha menyunggingkan senyum miris. Seharusnya dia bahagia karena Mamanya memeluk dan mengucapkan sesuatu yang sangat ingin didengar. Tapi kalimat yang dilontarkan tetap saja mengandung keegoisan.

__ADS_1


Memang sulit bagi orang-orang yang mengedepankan kesenangan sendiri untuk peduli dengan orang lain. Bahkan pada anak sendiri.


“Oke, kau yakin ingin diperkenalkan pada seluruh dunia?” tanya Delavar setelah kedua wanita itu selesai berpelukan.


Mama Lylac tersenyum senang dengan kepala mengangguk yakin. “Ya, setidaknya keluarga kalian terlihat menganggapku sebagai besan.”


“Kau tahu kenapa aku tidak memperkenalkanmu kepada awak media?” tanya Delavar. Dan dijawab gelengan kepala.


“Karena kau akan malu sendiri dengan pertanyaan dari tamu yang merupakan kolega bisnis keluarga Dominique. Obrolan kami tidak mungkin bisa masuk ke dalam akal pikiranmu,” jelas Delavar.


“Kau jangan mengejekku, aku bisa menghadapi semua situasi,” balas Mama Lylac dengan sombong.


Delavar menaikkan sebelah alis karena tak yakin. “Oke, kita buktikan. Tapi kalau malu, kau tanggung sendiri. Aku sengaja tak memperkenalkan orang tua istriku karena memikirkan nama baikmu juga.”


Delavar mengajak Mama Lylac untuk menuju ke depan. “Kau tunggu di sana, aku akan memanggil keluargaku,” titahnya seraya menunjuk panggung yang tidak terlalu tinggi dengan layar LCD besar. Dia meninggalkan mertuanya sendirian, dan mengajak Amartha terus mengikuti langkahnya.

__ADS_1


__ADS_2